
Angkasa tak mau menerima penolakan. Diam-diam, ia langsung menghubungi dokter kandungan yang menangani istrinya dan membuat janji periksa siang ini juga.
"Mas, ini masih acara nanti saja dulu," tawar Salma lembut. Ia tidak merasakan kontraksi apapun selain perutnya yang mengencang.
Pengalaman mengandung serta melahirkan anak kembar sebelumnya yang sangat sulit dan sakit, membuatnya sedikit tenang karena kali ini ia hampir tidak merasakan kesulitan yang berarti.
"Yang sedang beracara mereka kamu hanya duduk menonton, tak apa kalau kita tinggal duluan. Kita periksa sekalian cari makan siang di luar yuk," bujuk Angkasa. Jika ia terlalu memperlihatkan kekhawatirannya, Salma akan bersikap sebaliknya, menganggap remeh dan mengabaikan niatnya yang akan membawa istrinya ke rumah sakit.
"Di sini banyak makanan, ga enak mereka sudah siapkan untuk kita." Salma masih bersikeras.
"Percayalah, mereka menyiapkan semua makanan ini untuk mereka sendiri," ucap Angkasa gemas, "Ayo." Tak ingin istrinya menyela dengan beribu alasan yang lain, Angkasa mendahului berdiri dan membawakan tas Salma.
"Mau kemana, Sa?" Emran mendekati Angkasa yang tampak sedang bersiap-siap.
"Mau ke rumah sakit, perut Salma tadi terasa ketarik kencang," bisik Angkasa. Emran menganggukkan kepala tapi dengan raut wajah seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Mas, hadiahnya banyak. Ga bisa bawa semua, masak di tinggal? ga enak nanti sama mereka," ucap Salma juga ikut berbisik.
"Biar Emran yang urus. Ayo." Angkasa menarik tangan Salma agar segera berdiri.
Saat sepasang suami istri itu selesai melambaikan tangan pada karyawannya dan hampir mencapai pintu masuk ke dalam gedung perkantoran, Emran berteriak memanggil kawannya itu.
"Sa, Asa!"
"Apa lagi?" Angkasa menoleh kesal. Tampak jelas sekali wajah paniknya tak dapat ia sembunyikan.
"Kado biar diurus sama sekertarismu, biar aku yang mengantar kalian ke rumah sakit." Tanpa diminta Emran mengambil kunci mobil dari saku Angkasa.
"Ga perlu, aku bisa send---"
"Sudaaah, ayo aku yang setir kamu temani nyonya di bangku belakang." Emran menggiring pasangan suami istri itu masuk ke dalam lift.
Awalnya Angkasa ingin menolak tawaran Emran, tapi akhirnya ia diam dan mengikuti permintaan kawannya itu. Ia tahu Emran melakukan ini karena khawatir kejadian lima tahun silam terulang kembali.
__ADS_1
Di dalam tabung lift yang membawa mereka turun, Angkasa memperhatikan telapak tangannya yang basah karena keringat dan bergetar karena merasa tegang. Sudah tepat Emran lah yang membawa mobilnya.
Sampai di rumah sakit, Angkasa menepuk pundak sahabatnya itu, "Terima kasih ya, Man. Kamu pengertian sekali," ucap Angkasa tulus.
"Sama-sama, tapi tolong jangan potong gajiku karena ijin tak bekerja siang ini," kelakar Emran memecah kecanggungan. Antara mereka berdua hampir tak pernah bicara seserius ini.
Begitu turun dari mobil, Angkasa langsung menggiring istrinya ke arah lorong dokter praktek.
"Kita belum daftar loh. Memangnya dokter Sintia praktek siang ini?" Salma mengingatkan sembari tersenyum dan membalas lambaian penggemarnya yang juga berada di sana.
"Dokter Sintia langsung menuju kemari begitu ku telepon tadi," ujar Angkasa. Langkahnya semakin cepat sebelum penggemar istrinya mendekat dan menghalangi jalannya.
"Kasihan loh belum jadwal praktek diminta datang," keluh Salma, "Aku ini baik-baik saja, Mas," tambahnya.
"Bukan, dia memang ada jadwal sekalian siang ini," kelit Angkasa. Lebih baik tidak beradu argumen dengan istrinya untuk perkara hal sepele semacam ini kalau tidak mau berlanjut semakin panjang.
Angkasa meminta Salma untuk menunggu di sudut ruang tunggu yang jauh dari pengamatan orang banyak, agar istrinya itu dapat beristirahat sebentar. Akan sangat bahaya jika Salma dihampiri oleh penggemarnya, karena yang lebih banyak mengajak mengobrol panjang, bukannya penggemar tapi malah istrinya itu.
"Dokter Sintia sudah datang?" tanya Angkasa pada perawat yang bertugas.
Angkasa segera kembali ke ruang tunggu, langkahnya semakin cepat ketika melihat Salma menahan sakit sembari memegang perutnya.
"Sakit lagi?" tanyanya.
"Iya, tapi sudah reda. Mungkin kontraksi palsu, tidak apa-apa biasa seperti ini menjelang kelahiran," ucap Salma seraya tersenyum menenangkan suaminya.
"Ayo masuk, kita sudah ditunggu dokter Sintia." Angkasa membimbing istrinya masuk ke dalam ruang praktek.
"Selamat siang, pasangan favorit saya," sapa dokter berusia awal lima puluh tahun itu, "Bagaimana kondisi, Bu Salma sekarang?"
"Baik, Dok, hanya kontraksi palsu. Pak Asa ini saja yang terlampau khawatir." Salma menepuk paha Angkasa gemas.
"Wajar, Bu itu namanya suami siaga. Bagaimana kalau kita USG?"
__ADS_1
"Eh, tapi kita sudah sepakat tidak ingin tahu jenis kelamin bayi sebelum lahir," ujar Salma sembari melirik ke arah suaminya.
"USG ini tidak selamanya untuk mengetahui jenis kelamin calon bayi, Bu, tapi untuk mengkontrol kesehatan bayi dan ibu," ujar dokter Sintia pelan.
"Tapi saya sehat kok, dok." Salma berusaha meyakinkan dokter. Sesekali ia melirik ke arah Angkasa meminta dukungan.
"Saya setuju, kamu USG dulu ya," bujuk Angkasa. Salma terlihat kecewa dengan keputusannya, tapi ia tidak mau mengambil resiko. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang mendesak terkait kandungan Salma.
"Kandungan yang sudah besar dan juga mendekati hari kelahiran memang sebaiknya USG, jika tidak ada kendala." Dokter itu meminta perawatnya untuk membantu Salma naik ke atas ranjang pasien dan menyiapkan peralatan.
Jantung Angkasa berdetak sedikit kencang saat dokter Sintia menggulirkan alat di atas perut besar istrinya.
"Apa itu?" tanyanya tak sabar. Matanya memicing mengamati layar hitam di depannya. Ia melihat sesuatu yang tak sama dengan kehamilan istri pertamanya dulu.
Kepala Angkasa menoleh melihat ke arah dokter dan istrinya. Tidak seperti dirinya, dokter itu tersenyum lebar sedangkan Salma menatap layar, sambil menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan.
"Keputusan tepat Pak Asa membawa istrinya segera kemari," ujar dokter Sintia sembari membantu Salma membetulkan pakaiannya kembali.
"Ada apa, Dok? apa semua baik-baik saja?" kejar Angkasa.
"Saya jadwalkan operasi besok pagi ya, Pak." Tak menjawab ataupun menjelaskan, dokter Sintia tetap tersenyum sembari menuliskan sesuatu di kertasnya.
"Dokter, apa istri dan anak saya baik-baik saja?" tanya Angkasa dengan suara tegas.
"Istri dan anak-anak Pak Asa, baik-baik saja," ucap dokter itu masih dengan tersenyum.
"Syukurlah." Angkasa menghela nafas lega, tapi sedetik kemudian ia terdiam dengan mata membesar penuh tanya, "Anak-anak?"
Salma meraih tangan suaminya lalu menempelkan pada perutnya yang buncit, "Kembar," ucapnya lirih.
"Kondisi bayi dan Ibu sehat, tapi harus segera dilahirkan karena sudah semakin sering kontraksi. Wajar kalau kelahirannya lebih cepat karena bayi kembar," jelas dokter.
"Pantas aku seperti di hajar dari berbagai arah kalau menempelkan pipi di perut kamu," ujar Angkasa sembari mencium perut istrinya. Ia mengabaikan penjelasan panjang lebar dari sang dokter.
__ADS_1
...❤️🤍...