Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
"Kencan" berempat


__ADS_3

Angkasa hanya terkekeh senang, segala rencananya berjalan sesuai keinginannya. Emran sebagai orang terdekatnya di kantor juga sudah mengetahui siapa wanita yang diincarnya, membuat langkahnya semakin ringan ke depan.


"Mau kemana?" tanya Emran heran ketika melihat Angkasa menutup laptop dan memasukannya ke dalam tas.


"Pulang."


"Ini masih jam empat."


"Aku bosnya, mau pulang jam delapan pagi saat karyawan masuk, juga tidak ada masalah." Angkasa berdiri dari kursi dan keluar dari ruangannya. Ia mengabaikan temannya yang melongo tak bisa menghentikan langkahnya.


Sampai di rumah, Angkasa segera mandi dan bersiap menuju tempat kediaman calon permaisuri hatinya. Saat ia berkaca, matanya tertumbuk pada potret wanita ayu di dinding kamarnya.


'Debby ....'


Angkasa mengusap gambar wajah wanita yang masih menjadi ratu di hatinya. Cinta pertamanya saat SMU dan berlanjut hingga ke pelaminan. Sebersit rasa bersalah memikirkan wanita lain menyelinap di hati Angkasa.


'Sudah dua tahun, wajar aku mencari pendamping hidup yang baru. Apakah aku salah, Deb?'


'Tapi yang menghilangkan nyawa Debby itu aku. Aku juga yang membunuh **b**ayiku.'


Angkasa meratapi diri sendiri dalam hati. Dua sisi hatinya saling berdebat saling dan membela diri serta menyalahkan. Rambutnya yang sudah ia sisir rapi, kusut kembali diremasnya.


Cukup lama Angkasa terpuruk dalam rasa bersalahnya. Perasaan ini sering berulang tanpa mengenal waktu. Dahulu saat baru saja kehilangan Debby dan bayinya, Angkasa hanya mengurung diri dalam kamar yang gelap. Tidak membasuh diri, tidak keluar kamar, makan dan minum harus dipaksa oleh saudaranya, yang ia lakukan hanya meratapi kepergian istrinya sambil memandangi foto Debby sepanjang hari.


Angkasa baru bangkit kembali ketika Emran datang menjenguknya untuk kesekian kali. Sahabatnya itu mengatakan jika ia terus bersembunyi di balik kesedihan, semua orang yang ingin menjegalnya di dunia entertainment, akan tertawa lebar. Mereka akan menyiarkan serta menyebarkan kesalahannya di media sosial dan televisi secara berulang-ulang. Membuatnya tampak seperti penjahat dalam keluarganya sendiri. Hal semacam itu tentu akan membuat Debby semakin sedih dan tak tenang di sana.


Angkasa berdiri lalu membasuh wajahnya yang kusut dan penuh air mata. Berulang kali di depan cermin kamar mandi, ia menarik nafas panjang dan meyakinkan diri jika ini jalan dan waktu yang terbaik untuk bangkit kembali.


"Hai," sapa Angkasa ceria begitu Salma yang membukakan pintu rumah. Ibu dua anak itu tampak seperti remaja dengan setelan rok jeans dan kaos berwarna putih.


Saat di perjalanan menuju rumah Salma, Angkasa menelepon dan mengatakan ingin mengajak Salma dan si kembar makan di luar tak jauh di sekitar sana. Selain agar suasana lebih cair, Angkasa masih kurang nyaman dengan tatapan tak suka dari kakak ipar Salma.


"Sudah siap?" tanya Angkasa pada kedua bocah yang bersembunyi di balik kaki mamanya.

__ADS_1


Angkasa berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan si kembar, tapi ternyata itu posisi yang salah. Matanya tepat sejajar dengan kaki jenjang Salma. Betis dan lutut seputih pualam mengalihkan pandangannya dari senyum si kembar. Seolah tahu arah bola mata Angkasa, Salma merapatkan kakinya dan mundur selangkah.


"Suruh masuk dulu, Salma jangan langsung pergi." Tia berseru dari dalam rumah.


"Silahkan masuk, Pak."


Angkasa berdiri mengabaikan rasa nyeri di lututnya. Ia tadi bertahan jongkok dan menunduk, takut bergerak karena malu matanya ketahuan nakal oleh Salma.


"Saya ambil tas dulu." Salma mundur masuk ke dalam rumah meninggalkan Angkasa yang masih menunduk bersama dua anaknya.


"Apa perlu pergi berduaan?" Tia mendekatinya di dalam kamar.


"Permintaan team produksi dan sutradara, Mba. Cakra dan Candra aku bawa kok, jadi ga berduaan."


"Mba bukannya khawatir Pak Angkasa berbuat yang tidak-tidak sama kamu, dia orang baik mba tahu tapi yang mba takutkan itu namamu jelek jalan berdua dengan pasangan orang lain." Salma spontan mengusap lututnya ketika Tia mengatakan Angkasa orang baik dan tidak akan berlaku di luar batas kepadanya. Apakah ia sedang mengharapkan hal sebaliknya?


"Kita ga ke kota kok, hanya di sekitar sini aja," ucap Salma bersikukuh.


"Hati-hati, Salma jaga harga diri dan martabatmu. Mba ngomong seperti ini karena ga mau kamu dapat omongan buruk."


"Ya, Mba, aku mengerti."


Tia mengikuti Salma ke ruang tamu menemui Angkasa yang masih bercanda dengan si kembar. Begitu kedua wanita itu mendekatinya, Angkasa langsung berdiri.


"Malam, Mba. Saya mohon ijin bawa Salma dan anak-anak jalan keluar. Mba Tia mungkin mau ada yang dititip?" Angkasa mencoba beramah tamah mengambil hati kakak ipar Salma.


"Ada. Titip Salma dan anak-anak pulang dengan selamat dan tidak terlalu malam," ujar Tia datar. Angkasa tertawa sumbang. Ia seperti sedang meminta ijin untuk mengencani anak SMU


"Mbaa ...." Salma menjawil lengan Tia. Ia merasa malu diperlakukan seperti anak kecil, tapi kakak iparnya itu tetap menatap Angkasa tajam dan menyelidik.


"Maaf ya, jangan tersinggung Mba Tia itu sebenarnya baik. Mungkin karena jauh dari Mas Bimo jadi galak," keluh Salma ketika mereka sudah di dalam mobil.


"Hehehe, ga apa-apa. Itu namanya kakak iparmu bertanggungjawab. Semua orangtua atau kakak pasti akan berlaku yang sama kalau anak atau adik perempuannya diajak pria keluar rumah. Apalagi yang seperti kamu."

__ADS_1


"Kenapa dengan saya?"


"Cantik." Angkasa mulai mengeluarkan jurus pertamanya.


Blusshh ....


Tak hanya Salma, wajah Angkasa pun memerah. Beruntung keadaan di dalam mobil minim cahaya, membuat keduanya tak sadar dengan perubahan wajah masing-masing.


"Ki-kita mau kemana?" Salma memberanikan diri menoleh ke arah Angkasa.


"Tadi waktu aku ke rumahmu, di depan sana ada pasar malam besar. Ga apa-apa aku ajak kesana?" Angkasa memalingkan wajahnya ke arah Salma sembari tersenyum. Salma mengangguk kecil dan langsung menundukan kepala begitu keduanya saling menatap.


"Maaf ya, cuman main dan makan di pasar malam. Habis ga boleh bawa tuan putri lewat tengah malam, takut dimarahin ibu peri," kelakar Angkasa semakin berani. Ia suka melihat Salma yang tersipu mendengar gombalannya. Angkasa merasa ada sinyal lampu hijau yang ditunjukkan Salma untuknya.


Keduanya berjalan membelah pasar malam yang ramai malam itu. Masing-masing menggandeng tangan kecil si kembar, membuat keduanya terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


Salma dengan ringan menikmati suasana pasar malam, karena yakin di daerah pinggiran dan hiburan rakyat semacam ini, tak ada yang mengira jika ada orang ternama bersama mereka.


"Maaa ...." Candra menarik tangan Salma ke arah tempat pemancingan ikan untuk anak-anak.


"Candra mau coba?" tanya Salma. Kepala kecil itu mengangguk yakin.


"Yuk kita mancing ikan. Om ini jago mancing loh." Angkasa menggamit lengan Candra dan menggiring kedua anak kembar itu ke arah kolam karet yang berisi ikan-ikan kecil.


"Pak Angkasa kok bisa sama kamu?"


Salma memutar badannya terkejut, "Bian."


...❤️🤍...


Ada novel bagus lagi nih, kamu wajib baca jangan sampai ketinggalan ya


__ADS_1


__ADS_2