Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Tidur dimana?


__ADS_3

Setelah yakin pesannya tersampaikan, Angkasa kembali masuk ke dalam kamar. Ia merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap. Tak berapa lama pintu kamar terbuka, ia memejamkan mata sembari mengerutkan kening.


"Pak Asa, sakit?"


"Eh? ga cuman pegel aja. Si kembar yang bilang ya, mereka memang perhatian sekali." Angkasa terkekeh masih dengan mata terpejam erat, "Maaf aku pakai ranjangmu, semoga kamu tidak keberatan."


"Tidak apa-apa, saya buatkan teh hangat ya," tawar Salma.


"Boleh, boleh kalau tidak merepotkan." Angkasa mengintip dari mata yang setengah terpejam. Senyumnya terbit manakala melihat gurat kekhawatiran di wajah istrinya.


Tak berapa lama, Salma sudah kembali dengan secangkir teh panas di tangannya.


"Terima kasih." Angkasa menegakkan tubuhnya dan bersandar di punggung ranjang. Wajahnya ia kerutkan seperti menahan sakit.


Setelah menyesap air teh yang di bawa Salma, ia memutar-mutar kepalanya dan memijat-mijat tengkuknya sendiri.


"Pusing ya?"


"Sedikit pegal saja."


"A-ku bisa pijat kalau Pak Asa tidak keberatan." Tawaran inilah yang ditunggu-tunggu Angkasa. Ia membuka matanya dan tersenyum. Tanpa diminta, ia menggeser badannya lebih ke tengah ranjang.


Salma tahu itu tanda bahwa ia diperbolehkan menyentuh tubuh sang suami. Tangan Salma mulai menekan lembut pundak Angkasa.


"Kalau sakit bilang ya, Pak."


"Tidak sama sekali, kamu boleh menekan lebih kuat lagi." Angkasa terpejam menikmati sentuhan perdana dari tangan istrinya. Tanpa sadar bibirnya terus mengurai senyum.


"Hmm, maaf loh ganggu. Makan malam sudah siap, kamu ditunggu si kembar mereka maunya makan sama mamanya." Tia melongok dari pintu kamar yang memang terbuka.


"Cuman pijetin aja kok, Mba." Dengan gerak cepat, Salma berdiri dari duduknya seperti sedang kepergok melakukan sesuatu yang tak baik.


"Lebih dari pijet juga ga apa-apa, tapi makan dulu yuk." Tia tak mau mengganggu waktu sepasang pengantin baru, ia langsung kembali ke ruang makan.

__ADS_1


"Kamu kok seperti merasa bersalah. Kita sudah suami istri, kamu kenapa seperti sedang di grebek aja?" Angkasa mendekati Salma yang masih tampak gugup berada dalam satu ruangan hanya berduaan saja.


"Belum biasa." Salma beringsut menghindar. Ia tidak mau si kembar memergokinya sedang bermesraan dengan Angkasa, sebelum Cakra dan Candra mengenal lebih jauh posisi Angkasa di keluarga kecil mereka.


"Nanti dibiasakan ya," bisik Angkasa semakin merapat ke tubuh Salma yang terhimpit antara pintu kamar dan dirinya. Salma hanya mengangguk singkat. Ia langsung membuka pintu dan mendahului Angkasa ke ruang makan.


Sampai di ruang makan yang hanya berjarak beberapa langkah dari kamar tidur Salma, kakak dan iparnya sudah duduk menanti mereka berdua. Bahkan si kembar juga sudah mengambil tempat di sekitar meja makan.


"Malam ini kamu menginap di sini, Asa?" tanya Bimo di sela-sela kegiatan makan malamnya.


Ia ingin mengangguk, tapi segan dengan pemilik kamar apakah memperbolehkannya untuk bergabung bersama-sama di dalam kamar malam ini? Namun Salma yang diharapkannya membantu jawabannya, malah menunduk dalam.


"Baiknya bagaimana saya ikut saja, Mas," ucap Angkasa.


"Loh, kok baiknya bagaimana. Salma dan kedua anaknya ini sudah menjadi tanggungjawabmu, jadi kamu yang berhak menentukan. Hanya masalahnya, ranjang di kamar Salma itu sempit kalau harus berbagi dengan si kembar. Itu maksud saya bertanya tadi. Saya mengira kamu sudah memperhitungkannya tadi, karena yang saya dengar tadi kalian sudah pijat-pijatan di kamar," ujar Bimo santai.


"Saya kurang begitu memperhatikan." Angkasa terkekeh malu, "Kalau begitu, saya kembali ke hotel saja malam ini." Sebenarnya ada rasa kecewa, tapi apa boleh buat ia tidak ingin di cap pemaksa oleh keluarga Salma.


"Istrimu tidak kamu ajak?" Tia mengerling ke arah Salma yang juga menyiratkan kekecewaan.


"Eh ... mmm ...." Salma tergagap tak tahu akan menjawab apa. Kalau mungkin Angkasa bertanya bukan di hadapan kakak dan iparnya, mungkin ia akan mengangguk cepat.


"Aah, em, ah,em aja kamu. Kalau mau ikut Angkasa, berangkat sudah. Kalian sudah suami istri, Abang juga ga akan melarang kalian," cetus Bimo gemas. Wajah Salma merah padam tak berbentuk lagi.


"Terima kasih, Mas." Angkasa tersenyum menenangkan Salma.


"Malam ini biar si kembar sama Mba, kalian berdua di hotel tempat menginap Angkasa," timpal Tia.


Rencana tinggal rencana, melihat Mamanya memasukan baju ke dalam tas si kembar merengek ingin ikut serta. Meski sudah dibujuk berulang kali oleh Tia, si kembar seperti tahu kalau mamanya akan melakukan sesuatu di belakang mereka.


"Maaf, ya Pak," ucap Salma. Ia merasa sangat bersalah melihat ranjang hotel milik Angkasa sudah tak beraturan lagi. Si kembar berguling-guling bahkan melompat begitu masuk ke dalam kamar.


"Cakra, Candra, ayo turun. Tidak sopan seperti itu. Ini kamar Om Angkasa, lihat sudah berantakan gara-gara kalian." Salma menghampiri si kembar lalu menarik tangan mereka agar segera turun dari ranjang.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Salma kamu jangan merasa tidak enak seperti itu. Mereka sudah menjadi anakku juga," bela Angkasa.


"Maaf, Om," ucap si kembar setelah diperintah oleh mamanya


"Jangan panggil, Om lagi ya. Ini sudah jadi Papa Cakra dan Candra. Panggil Papa ya," pinta Angkasa. Keduanya saling bertukar pandang lalu menggeleng bersamaan.


"Loh, kenapa? Ya sudah selain Papa juga boleh. Papi, Daddy, Bapak, Ayah panggilan mana aja boleh asal jangan Om ya." Angkasa sedikit terkejut dan tak menyangka akan mendapatkan penolakan dari bocah kembar itu.


Keduanya saling berpandangan lagi lalu menggeleng kembali bersamaan, "Kata Papa, Om jahat," ucap Cakra berani.


Salma terkejut dengan ucapan Cakra, sedangkan Angkasa hanya menghela nafas panjang lalu tersenyum, "Jadi kata Papa, Om jahat ya? Menurut Cakra sama Candra, apa benar Om jahat?" Keduanya saling berpandangan lagi lalu kembali menatap Angkasa.


"Begini saja, kalau menurut Cakra sama Candra Om jahat, Cakra sama Candra boleh pukul Om pakai apa saja."


"Boleh pakai apa aja?" Candra bersemangat meyakinkan ucapan Angkasa. Sedangkan Salma menggeleng tak setuju akan permintaan Angkasa yang terkesan mengada-ngada.


"Boleh, pakai sapu, sepatu, sandal, mainan, apa saja."


Keduanya tersenyum lebar. Merasa aman seperti mengetahui rahasia kekuatan tersembunyi Angkasa.


"Tapiii, Om minta satu syarat aja. Panggil Om, dengan sebutan Papi ya."


Keduanya saling berpandangan lagi untuk kesekian kalinya, lalu mengangguk sambil tersenyum.


"Oke, berarti kita sudah sepakat." Angkasa mengangkat tangannya dengan telapak terbuka. Si kembar langsung menyambutnya dengan tepukan high five.


"Jangan khawatir, ini perjanjian ala pria. Komitmen diiringi dengan tanggungjawab," ujar Angkasa bangga dapat mengatasi persoalan dengan si kembar.


Malam harinya saat si kembar sudah terlelap dengan posisi berada di tengah ranjang, ada yang bergerak di ujung ranjang seberang Salma.


...❤️🤍...


Mau memperkenalkan karya baru ku *"Mendadak punya bayi"*

__ADS_1


Yuk mampiiir, masih gress dan fressh



__ADS_2