
"Ada ... mmm ... konsepnya sudah ada dipegang Pak Emran," ujar Angkasa sembari menggaruk pelipisnya.
"Oh ya? Kenapa Pak Emran tadi ga bilang apa-apa ya." Salma tersenyum ceria. Ia sudah bisa merasakan kesempatan besar yang akan dijalaninya.
"Kamu tadi ketemu, Pak Emran?" Angkasa terkejut sekaligus merasa khawatir kebohongannya terkuak sebelum ia mulai beraksi.
"Pak Emran tadi masuk ke ruang kreatif. Saya ga sempat ngobrol sih, beliau hanya tersenyum aja," jelas Salma. Angkasa akhirnya dapat menarik nafas lega.
"Nanti kalau program acara untuk kamu sudah matang, saya temukan kamu dengan Pak Emran dan tim pendukung."
Tanpa mereka sadari, Jane mengamati keduanya dari sudut yang agak jauh. Wanita itu meremas tas yang ia genggam. Ia masih punya kesadaran diri untuk tidak menghampiri Salma dan mencercanya, tapi ia punya cara agar kawannya itu menyingkir dari sana.
Salma tampak panik saat ponselnya berdering. Jane tiba-tiba menghubunginya.
"Siapa?" tanya Angkasa heran melihat Salma hanya melihat ponselnya yang bergetar.
"Ja-Jane." Salma menunjukan nama di layar ponselnya.
"Kenapa tidak diangkat, mungkin dia ada perlu denganmu," ucap Angkasa santai, tapi tidak dengan Salma. Ia merasa seperti seorang wanita ja lang yang sedang mencoba menggoda pria milik wanita lain.
"Halo, Jane," sapa Salma dengan suara agak berbisik.
"Salma, kamu sampai mana? Aku tiba-tiba mau mampir ke rumahmu. Aku pingin ngobrol, lagi kesepian nih."
"Aku masih di jalan, Jane," sahut Salma berbisik. Sebelah tangannya menutup mulut dan ponselnya agar tidak terdengar oleh Angkasa.
"Kamu naik bis 'kan. Turun di terminal terdekat nanti aku jemput deh." Jane terus memaksa. Ia tahu Salma bakal kesulitan memenuhi permintaannya.
"Nanti aku kabari ya, Jane kalau sudah dekat dengan terminal," ucap Salma dan langsung memutus sambungan telepon.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Angkasa penasaran.
"Maaf saya harus segera pulang."
"Salma, kamu bahkan belum sempat menyentuh makananmu. Ada apa sih?"
"Jane sepertinya ingin bertemu, saya harus segera pulang."
"Bukannya kalian sejak tadi terus bersama? Apa masih kurang, waktunya bersamamu? Kenapa tidak kamu katakan sedang makan siang? Dia bisa menunggu atau membatalkan rencananya," sergah Angkasa, dengan seorang wanita saja rasa cemburunya sudah terlihat. Ia merasa tak tak suka wanita itu kembali mengganggunya.
"Baiklah." Salma memilih bertahan sebentar semata-mata menghargai Angkasa sebagai orang yang akan memberinya kesempatan kerja.
Ia mengirim pesan pada Jane permintaan maaf karena ada urusan yang tidak bisa ditunda, tanpa menjelaskan secara rinci. Lalu ia mematikan ponselnya agar tidak terganggu lagi oleh deringan dan getaran dari ponselnya.
'Maaf Jane, ini hanya soal pekerjaan saja,' batin Salma dalam hati. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak ada apapun yang terjadi antara dirinya dan Angkasa, semua murni pekerjaan.
Salma mencoba mengalihkan pikirannya, dan berusaha fokus dengan apa yang disampaikan oleh pemimpin tertinggi rumah produksi terkenal di kota metropolitan ini.
'Fokus, Salma. Pembicaraan ini hanya seputar pekerjaan, jangan berpikir yang tidak-tidak.' Salma merutuki dadanya yang berdegub setiap ia beradu pandang dengan Angkasa. Tidak ada lagi kerisauan tentang Jane dalam pikirannya.
"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Angkasa tiba-tiba.
"Suka siapa?"
"Suka dengan konsep acara yang aku jelaskan tadi, Salma. Kamu ini mikirin siapa sih?" Angkasa tertawa pelan.
Sebagai seorang pria dewasa tentunya ia tahu wanita dihadapannya ini sedang salah tingkah. Hatinya semakin merekah mengetahui jika perasaanya berbalas, sekarang bagaimana caranya agar Salma luluh dan terbuka dengan hatinya. Ia paham wanita incarannya ini tidak semudah wanita lain yang mengelilinginya. Salma sangat menjaga kehormatannya sebagai seorang janda beranak dua. Status janda di kalangan masyarakat umum seringkali mendapat predikat buruk, segala gerak geriknya menjadi incaran empuk untuk dijadikan bahan perbincangan.
"Ow, yaaa saya suka. Maaf tadi kurang fokus." Salma melipat bibirnya ke dalam mulut menutupi rasa malunya.
__ADS_1
"Baiklah, jika rencana sudah matang segera saya hubungi kamu. Tolong pesan saya segera dibalas dan panggilan saya dijawab," ujar Angkasa setengah berbisik di kalimat terakhir.
Sekali lagi Salma tersenyum kecut dengan nada sindiran Angkasa, karena ia kerap sengaja tidak menjawab panggilan Angkasa dan menunda menjawab pesan. Itu semua karena ia tidak mau terlihat antusias dapat dekat, dengan pria yang dikagumi banyak wanita itu. Apakah ia sedang membohongi hatinya?
"Maaf, terkadang ponsel saya di buat main si kembar." Alasan bohong dengan lancar mengalir keluar dari bibirnya.
"Aahh, ngomong-ngomong saya kangen dengan mereka, jadi pingin ketemu. Ayo saya antar kamu pulang." Angkasa langsung berdiri dari duduknya.
"Terima kasih, tapi saya pulang sendiri saja, Pak."
"Hujan deras begini?" Angkasa menunjuk ke arah jendela luar. Bagaimana bisa ia tidak dengar suara gemuruh hujan di luar sana? Entah harus senang atau panik dengan situasi ini, kenapa seolah alam selalu mendukung ia pulang diantar oleh Angkasa.
"Saya naik taxi online saja," tolak Salma. Mungkin ia bisa dikatakan sebagai wanita yang munafik, tapi lebih baik seperti itu dari pada masyarakat menilai dirinya wanita gampangan.
"Maaf bukan bermaksud menyinggung atau meremehkan kamu, tapi jarak dari sini ke rumahmu itu jauh, Salma. Tarif taxi online pasti mahal sekali." Salma kembali duduk dengan lemas menyadari keadaan keuangannya yang semakin menipis. Ia bakal menangis kalau harus membayar taxi online sekali jalan dengan tarif seharga kaleng susu ukuran besar untuk Cakra dan Candra.
"Ayolah, aku antar saja. Lagipula aku mau ketemu si kembar kok bukan mamanya." Wajah Salma memerah mendengar nada menggoda Angkasa.
Sepanjang perjalanan Angkasa berusaha mencari tahu lebih dalam tentang kehidupan Salma. Dari cerita Salma yang berhasil ia pancing, Angkasa akhirnya tahu alasan perpisahan Salma dan suaminya. Salma memang tidak mengatakan secara gamblang, tapi ia yakin ada pengkhianatan diantaranya.
"Kamu wanita hebat, Salma. Aku yakin kamu bakal sukses nanti."
"Terima kasih," ucap Salma tulus. Sepanjang perjalanan, ia berusaha mengatur emosinya ketika diingatkan kembali pada dua orang yang telah menghancurkannya.
Senyum Salma sontak hilang ketika melihat mobil Jane terpakir di depan rumahnya. Kakinya terasa lemas untuk ia gerakan keluar dari mobil
Jane ada di teras bersama dengan kedua anak kembarnya. Wanita cantik itu sedang bermain dan sesekali menyuapi si kembar makan.
"Jane ...."
__ADS_1
"Aku di sini dari jam dua. Aku kira kamu tidak lama lagi sampai. Kepalang tanggung sudah sampai di sini, aku tunggu aja sambil main sama si kembar," ujar Jane sedih.
...❤️🤍...