Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Lempar batu sembunyi tangan


__ADS_3

Pak Memet tak sanggup berkata-kata, ia hanya melepas topi kebesarannya lalu menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Umpatan serta kata-kata mengolok atasannya hanya bisa ia ungkapkan di dalam hati.


"Mm, begini Pak Asa, mohon maaf hanya beri masukan sebaiknya jangan terlalu vulgar, kita nanti di awasi Lembaga Sensor Film. Bapak tidak mau 'kan film ini nanti gagal tayang dan perusahaan Bapak susah untuk mengeluarkan produksi baru." Pak Memet berusaha membujuk, pria setengah baya itu tahu kalau niat Angkasa mengganti isi naskah hanya karena keinginan sendiri bukan kepentingan produksi.


"Pak Memet, film jaman sekarang tidak seperti dulu. Lagipula adegan itu tidak vulgar kok, hanya berciuman malah terkesan romantis. Anak muda pasti senang, film jadi tidak membosankan." Angkasa kukuh mempertahankan keinginannya.


Pak Memet menghela nafas panjang antara kesal dan kasihan dengan bosnya. Andaikan ia sedekat Emran dengan Angkasa, ingin rasanya menggeplak kepala pria metropolitan di hadapannya ini.


"Begini saja, karena ini harus mengganti sebuah adegan di detik terakhir saya tidak bisa memutuskan sendiri. Coba kita tanya dengan lawan main Pak Angkasa, eh ... Nah itu dia." Angkasa mengikuti arah kepala Pak Memet yang celingak celinguk mencari seseorang, "Mba Salma!" Mata Angkasa sontak melotot ketika sutradara itu berseru memanggil Salma.


"Eeh, ga usah, ga usaaah." Angkasa panik menghentikan usaha Pak Memet memanggil Salma, tapi terlambat wanita itu sudah menoleh dan sekarang sedang berjalan mendekat.


"Ga apa-apa, Pak. Jauh lebih baik Mba Salma harus tahu dan memberi pendapat, biar ga kaget saat take adegan."


Angkasa tak memberi tanggapan, Salma sudah semakin dekat otaknya berpikir cepat. Ia tak mau terlihat gugup ataupun melakukan kesalahan. Seorang Angkasa harus tampil dengan sempurna.


"Ada apa, Pak Memet?" tanya Salma yang selalu santun. Matanya sedikit melirik ke arah Angkasa yang berwajah kaku karena tegang.


"Begini, Mba Salma sepertinya untuk adegan ke 257 ini, akan ada sedikit perubahan." Pak Memet mengambil naskah dan menunjukan pada Salma. Angkasa menggosok-gosok hidungnya gusar menanti penjelasan yang akan disampaikan sang sutradara, "Di sini, saat Marcel menggenggam tangan Nabila dan melamar rencana akan kita hilangkan adegan mencium kening." Pak Memet menunjuk naskah, lalu sekilas melirik Angkasa yang ikut fokus mendengarkan ia berbicara.


"Lalu, Pak?"


"Rencananya akan diganti dengan ... berciuman." Pak Memet menegaskan dengan gerakan jari dan bibir yang mengkerucut.


"Berciuman?" Salma reflek menyentuh bibirnya. Hatinya berdebar senang, tapi malu menunjukan perasaannya. Namun tidak mungkin iya langsung mengiyakan begitu saja, apa kata Angkasa nanti. Akan malu sekali kalau ia terlalu kelihatan menginginkan adegan ini terjadi, "Tapi, Pak ... Eh, apa tidak terlalu berlebi---"


Belum selesai Salma berbicara, Angkasa sudah lebih dulu memotong, "Saya juga sudah bilang seperti itu, Salma, tapi Pak Memet tetap menyarankan seperti itu. Ckckckck, jangan begitulah Pak Memet. Apa kata orang nanti, kita berdua bukan remaja lagi untuk melakukan adegan romantis itu, malu ah." Angkasa menggelengkan kepala seraya tertawa malu.


"He? 'kan Bapak yang usu---"


"Saya sih ikut apa kata, Pak Memet aja bagaimana baiknya. Bukan begitu, Salma?" potong Angkasa cepat.

__ADS_1


Pak Memet melongo dengan mulut terbuka, dua orang di hadapannya sedang menatapnya menunggu keputusan atas perubahan yang bukan keinginannya. Sekali lagi ia memaki-maki Angkasa di dalam hati. Kalau saja ia tidak mengingat cicilan yang harus dibayar, naskah ditangannya sudah ia remas-remas dan lempar ke wajah Angkasa.


Huuffft, sayangnya itu hanya bisa dibayangkan saja.


"Menurut saya sih, tidak perlu diganti tetap seperti semula," ujar Pak Memet santai.


"Loh kok?"


"Kenapa?"


Angkasa dan Salma hampir bersamaan menjawab dan terkejut dengan jawaban Pak Memet. Angkasa tak mengira, sutradaranya itu berani menolak permintaannya. Sedangkan Salma mengira, usulan tadi memang berasal dari sutradara jadi tidak mungkin batal.


"Saya tadi diminta pendapat, ya saya berikan pendapat saya."


"Begini, Pak Memet." Pak Memet mulai jengkel dengan kalimat Angkasa yang dimulai dengan kalimat, 'Begini, Pak Memet', karena biasanya mulai mengarah kepemaksaan, "Kalau ada ide bagus, tidak apa-apa. Saya tidak mau membatasi kreatifitas Pak Memet." Angkasa berapi-api memberi motivasi demi keuntungannya sendiri.


Pak Memet mendesah malas, "Bagaimana, Mba Salma?" Harapannya Salma dapat berpikir sedikit waras.


Sama saja! Pak Memet mengumpat dalam hati.


"Baiklah kalau begitu, sepakat kita ganti untuk adegan cium." Pak Memet sengaja menegaskan kata cium untuk menyalurkan rasa kesalnya, "Silahkan bersiap di posisi."


Jantung Salma semakin cepat berdegub. Ia tidak menyangka ada adegan ini bersama seorang Angkasa. Ada rasa khawatir, tapi juga rasa senang. Munafik jika ia tidak senang bisa beradegan mesra dengan pria yang dielu-elukan banyak artis wanita.


Berpasangan dengan Angkasa saja ia sudah menuai hujatan, apalagi nanti ada adegan berciuman? Salma memegang dadanya yang terasa sedikit nyeri karena jantung yang semakin keras berdetak. Ia mengambil gelas dan meminum segelas air dingin untuk meredakan debaran jantungnya.


Sementara itu si biang segala perubahan, sedang mengobrak-abrik isi tasnya. Ia mencari permen pelega tenggorokan yang biasanya selalu terselip di dalam tasnya.


Ah, ini dia. Angkasa tersenyum lega ketika menemukan beberapa permen andalannya di sudut tasnya.


Seorang kru memberi kode agar ia bersiap di lokasi, Angkasa segera berdiri dengan kepercayaan diri yang besar.

__ADS_1


Awal adegan tidak berjalan dengan mulus, Salma kerap melakukan kesalahan. Ia terlalu gugup, pikirannya terbang terlalu jauh.


Angkasa mendekati Salma saat break, "Kamu gugup?" tanya Angkasa memegang tangan Salma yang terasa dingin.


Salma mengangguk dan menunduk malu. Ia tidak menyangkal karena memang sangat jelas terlihat. Jujur ia malu pada sutradara dan Angkasa, mengapa tiba-tiba tidak profesional.


"Karena ada perubahan adegan?" bisik Angkasa. Salma mendesah lalu mengangguk kecil, "Kalau kamu tidak nyaman, kamu bisa menolak. Tidak apa-apa." Walaupun ia sangat menginginkan adegan itu terjadi, Angkasa tidak mau wanita yang dicintainya merasa terpaksa melakukan adegan itu dengannya.


"Saya tidak apa-apa."


"Kamu yakin?" Angkasa menggenggam tangan Salma semakin erat. Telapak tangan yang dingin itu berangsur-angsur menghangat. Salma mengangguk yakin, ia sudah siap melakukan adegan itu sekarang dengan Angkasa di depan banyak pasang mata.


"Oke siap? Kita mulai lagi yuuk!" Asisten sutradara kembali berseru.


Angkasa tidak melepaskan tangan Salma, mereka terus bergandengan sampai di titik lokasi. Adegan demi adegan pengantar point ******* yang ditunggu keduanya berjalan lancar.


Tiba di adegan pamungkas, Salma dan Angkasa berdiri berhadapan di tengah-tengah sorot lampu dan banyak mata yang tengah menatap mereka.


"Nabila, apa kamu sungguh mau menikah denganku?"


...❤️🤍...


Aku punya karya on going juga selain ini, mampir juga yuk judulnya : Nikahi, Aku Pak Dosen


Cinta memang tidak pernah salah menjatuhkan pilihannya, tapi bagaimana jika cinta menjatuhkan pilihan pada seseorang yang sudah menemukan pelabuhan hatinya?


Niki seorang mahasiswi yang terobsesi dengan dosen di kampusnya, nekat melakukan hal apapun termasuk membiarkan gosip berkembang jika ia sudah melakukan hubungan terlarang dengan dosennya itu. Akibat perbuatannya itu, ia terjebak dalam pernikahan sebagai istri kedua, namun tidak diinginkan oleh dosennya.


Bagaimana Niki menjalani kehidupannya sebagai istri kedua yang dibenci oleh suaminya sendiri sementara ia juga harus menghadapi hujatan dari teman serta dosen di kampusnya, sebagai mahasiswi penggoda dan penghancur rumah tangga orang?


__ADS_1


__ADS_2