Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Menghadap Bimo2


__ADS_3

"Saya bukan public figure, tapi karena pekerjaan saya bergelut dengan para artis dan dunia pertelevisian, terkadang kala kehidupan tentang saya pun ikut tersorot."


"Tapi sebentar lagi juga akan jadi artis toh, 'kan katanya main film sama adik saya."


"Hanya iseng." Angkasa terkekeh pelan.


"Jangan-jangan hubungan dengan adik saya juga iseng?"


"Ow, mana saya berani, Mas." Wajah Angkasa dengan cepat berubah serius.


"Saya harap seperti itu ya, kamu ingin melamar Salma tentu sudah tahu latar belakang adik saya. Mengapa dan bagaimana pernikahan pertama Salma hancur dan membuat kedua ponakan saya kehilangan kasih sayang dari orangtua yang lengkap."


Angkasa hanya mengangguk-anggukan kepala mendengar tutur calon kakak iparnya.


"Salma itu wanita yang mudah luluh oleh perhatian. Saya khawatir hal yang sama terulang lagi padanya. Andaikan pria yang akan ia nikahi sama saja dengan yang pertama, lebih baik sejak awal saya tidak memperbolehkan dia menginjakan kaki di Jakarta." Bimo menatap lurus pria berpenampilan rapi di hadapannya.


Tubuh yang tegap dengan penampilan orang kota yang berada, tidak membuat Bimo merasa kecil dan gentar.


"Saya serius, Mas. Sangat serius."


"Bukan karena rasa kasihan atau Salma terlihat polos dan bodoh dibanding wanita kota, dan kamu berpikir bisa memanfaatkannya?"

__ADS_1


"Astaga. Tidak, Mas sama sekali tidak." Angkasa berucap tegas. Mata Bimo masih menyelidikinya, Angkasa kembali menunduk.


"Saya sangat mengerti sekali jika Mas Bimo sebagai kakak ingin melindungi Salma, tapi bagaimana bisa saya membuktikan jika tidak diberi kesempatan?" lanjut Angkasa.


"Mungkin kamu belum tahu, dulu saya sempat kecolongan. Sebelum Salma menikah dengan ayah si kembar, perasaan saya mengatakan kalau pria itu orang yang tidak baik. Saya sudah mengatakannya pada Salma dan kedua orangtua saya, tapi tanpa bukti apapun omongan saya tak lebih dari sekedar fitnah bagi si brengsek itu. Akhirnya saya menyaksikan adik saya dinikahi pria pilihannya yang sejak awal saya tentang. Sejak itu hubungan kami tidak sama seperti dulu saat masih kecil. Perkataan saya tentang mantan suaminya itu membuat hubungan kami renggang. Saya hanya tak ingin itu terulang lagi."


"Jika Mas Bimo bisa menilai Armand hanya dengan melihat, bagimana dengan saya? Apa yang Mas Bimo lihat dari saya? Apakah saya tulus mencintai adik Mas Bimo atau tidak?" Angkasa mengangkat kepala menantang tatapan calon kakak iparnya.


Sejenak mereka bertatapan saling mengukur ketangguhan. Beberapa saat kemudian, Tia masuk ke ruang tamu dengan nampan berisi minuman di tangannya.


"Silahkan diminum dulu, tegang sekali kalian ini." Keduanya mendesah berbarengan seiring Tia duduk diantara mereka.


"Mana Salma?" tanya Bimo sembari menyeruput teh yang baru saja di bawa istrinya.


"Coba kamu panggilkan dulu," pinta Bimo.


"Sepertinya suasana hati Salma sedang tidak baik. Aku sarankan, Pak Asa lebih baik cari penginapan dulu, lalu istirahat. Besok baru datang kembali untuk pembicaraan yang serius."


"Ada apa dengan Salma? Baru saja datang kenapa suasana hatinya tidak baik?"


Tia tidak menjawab, kakak ipar Salma itu malah melirik penuh arti ke arah Angkasa.

__ADS_1


"Ada apa dengan adikku, Asa?" Pertanyaan Bimo beralih ke arah Angkasa.


"Memangnya ada apa?" Bukannya menjawab, Angkasa malah membalikan pertanyaan pada Tia.


"Hhh, kalian ini para pria kenapa sih selalu saja tidak peka? Mas, kalau aku haha hihi akrab sama laki-laki lain di depanmu, menurutmu gimana?" tanya Tia pada suaminya.


"Siapa laki-laki itu!" sembur Bimo.


"Kamu marah?"


"Jelas!"


"Nah, begitu juga perasaan Salma waktu Pak Asa bercanda sama wanita di pesawat, apalagi sampai melambaikan tangan," ujar Tia pada Angkasa.


"Heh?" Angkasa memiringkan kepalanya. Pikirannya sama sekali tak sampai sana, "Kenapa dia tidak bilang kalau tidak suka? Aku juga hanya berusaha bersikap ramah juga agar wanita itu tidak marah karena merasa terganggu. Hanya itu saja," ucap Angkasa berapi-api. Ia tidak terima hal yang baginya persoalan kecil seperti dibesar-besarkan.


"Hhmm, Asaaa, aku kira dengan kamu sudah pernah menikah sebelumnya, kamu dapat lebih lihai memahami tentang wanita. Belajarlah dulu lebih banyak lagi tentang sifat wanita, dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Suasana hati wanita itu bisa berubah hanya dalam waktu sepersekian detik. Jadi hal semacam ini, sudah sangat biasa. Aku kira dengan kamu banyak berkumpul bersama wanita, kamu sudah mengerti perangai mereka." Bimo berkata dengan angkuh.


"Apa aku seperti itu selama ini, Mas?" Tia memandang suaminya ingin tahu.


...❤️🤍...

__ADS_1


Mampir ke karya temanku satu satu lagi ini yuk



__ADS_2