
Salma yang masih belum bisa memejamkan mata, mengintip dari celah matanya yang terbuka sedikit. Dalam gelap ia dapat melihat Angkasa bergerak gelisah di sisi seberang ranjangnya. Posisi mereka berada dalam satu ranjang dengan Cakra dan Candra di tengah membatasi.
Matanya membesar ketika melihat Angkasa berdiri dan memutari ranjang yang mereka tiduri. Saat merasa Angkasa berdiri di belakangnya, Salma memejamkan matanya erat. Ia hampir tak berani bernafas sangking tegangnya. Tangannya mencengkram ujung selimut yang menutupi sebatas dadanya.
"Sal, sudah tidur?" Bisikan lembut Angkasa dekat sekali di telinganya.
Galau hati Salma apakah ia harus berpura-pura terlelap, ataukah mengakui kalau ia belum tertidur sama sekali. Kira-kira apa yang diinginkan Angkasa hingga harus menghampirinya selarut ini?
"Sal?" Hembusan nafas hangat Angkasa semakin dekat terasa di telinga dan pipinya. Rasa geli di daun telinganya membuat Salma spontan bergidik.
"Ada apa, Pak?" gagal dramanya pura-pura terlelap, Salma membuka matanya dan memalingkan wajahnya menghadap Angkasa yang menunduk ke arahnya.
Jantung Salma hampir copot ketika ia memiringkan tubuhnya, wajah Angkasa tepat berada di atas kepalanya. Hembusan nafas beraroma mint menerpa kulit wajahnya karena jarak yang begitu dekat. Walaupun kamar dalam suasana yang temaram, ia dapat melihat senyum dan sorot mata penuh harap dari pria itu.
"Maaf, ganggu kamu tidur ya?" bisik Angkasa.
"Tidak apa-apa, ada yang bisa saya bantu?" cicit Salma dengan dada berdebar.
"Tidak ada, hanya aku belum bisa tidur. Ingin ngobrol sebentar, tapi kalau kamu ngantuk tidak usah."
"Tidak apa-apa saya juga belum terlalu ngantuk. Pak Asa ingin ngobrol apa?" Salma menggeser tubuhnya hendak bersandar di punggung ranjang.
"Jangan bangun, kamu berbaring saja." Angkasa menahan bahu Salma, "Geser sedikit, masih muat ga?"
Tidak sabar menunggu Salma bergeser dan memberikan ruang yang lebih luas untuknya, Angkasa langsung merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Sebelah lengannya ia lingkarkan di atas kepala Salma. Posisi keduanya sangat dekat dan intim.
"Salma," panggil Angkasa dengan sangat pelan. Salma tak berani menoleh, karena jika ia memalingkan wajahnya bibir mereka akan bertemu.
"Pak Asa mau cerita apa?" tanyanya tanpa mau memandang suaminya.
"Pak Asa? Cakra sama Candra saja sudah punya panggilan baru, masak istriku panggil Pak Asa?" Angkasa merajuk.
"Mas Asa." Salma menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Aneh rasanya mengganti panggilan orang untuk pertama kalinya.
"Aahh, jauh lebih merdu terdengarnya."
__ADS_1
"Salma," panggil Angkasa sekali lagi.
"Ada apa, Mas?"
"Lihat sini dong."
Salma memalingkan wajahnya, tapi sebelumnya ia memundurkan tubuhnya sedikit agar ada jarak ketika wajahnya berhadapan dengan suaminya.
Tangan Angkasa membelai lembut pipi serta rambut Salma. Lalu turun terus merambah rahang serta bibirnya.
"Kita sudah menikah, Salma. Kamu istriku," ucapnya sembari tersenyum.
Salma sama sekali tak mampu bergerak. Jari Angkasa terus bermain-main di sekitar wajahnya. Semakin lama turun terus menyusuri batang leher Salma. Perlahan tangan Angkasa ia selipkan di belakang tengkuk Salma lalu dengan lembut ia menarik semakin dekat ke wajahnya.
Salma tahu yang diinginkan Angkasa, ia hanya pasrah karena inilah kewajibannya. Kejadian saat syuting terulang kembali. Angkasa menciumnya dengan sangat hati-hati.
"Kamu cantik, Salma. Sudah sejak lama aku mengagumimu," ucap Angkasa dengan bibir masih menempel samar dengan bibirnya.
Bibir Angkasa kembali ke atas mengecup kening, alis, kedua mata, puncak hidung, kedua pipinya lalu kembali ke bibir. Kali ini Angkasa tidak melakukannya dengan lembut dan hati-hati, tapi sedikit menuntut dan bergairah.
"Om, Nakal!"
Bugghh!
Sebuah hempasan mengenai punggung Angkasa. Seketika keduanya tersadar dan membuka mata selebar-lebarnya.
Cakra berdiri di atas ranjang dengan mata nyalang dan dengan bantal sebagai senjatanya. Sedangkan Candra dengan wajah takut hampir meledakan tangis kencangnya.
"Om jahat!" Cakra berteriak sekali lagi.
"Eh, eh tunggu sebentar Cakra." Kaki Angkasa terbelit selimut, ia hampir saja terjungkal saat turun dari atas tubuh istrinya. Tangannya terangkat melindung tubuhnya dari serangan bantal anak usia empat tahun.
"Cakra!" Salma terduduk dan langsung menyalakan lampu tidur yang berada di sisi ranjang. Sebagai ibu dari anak yang mengamuk ia sangat malu sekali.
"Om jahaaat!" Teriakan itu berubah menjadi tangisan karena suara mamanya yang malah memarahinya. Kedua bocah itu menangis antara kesal dan sedih karena merasa disalahkan.
__ADS_1
"Papi jahat kenapa, Sayang? Cakra sama Candra mimpi ya?" Setelah cukup tersadar dan rasa iba, Angkasa naik ke atas ranjang dan mendekati kedua anak sambungnya.
Di pikiran positifnya, si kembar sedang mengalami masa transisi atas kehadiran orang baru di kehidupan mereka.
"Ga mau! Om jahat!" Candra menepis tangan Angkasa yang akan merangkulnya. Ia menolak menyebut Angkasa sebagai Papinya.
"Om jahat gigit mama!" sembur Cakra seraya memukul-mukul dada Angkasa dengan tangan kecilnya.
"Papi tidak gigit mama," sangkal Angkasa.
"Canda dengar om gigit mama, sampai mama nangis nahan sakit!" Bocah itu menunjuk Salma yang duduk di tepi ranjang dengan dua kancing teratas piyama terbuka lebar dan leher kemerahan.
Angkasa kehabisan kata-kata untuk menyangkal dan membela diri. Salma langsung memunggungi ketiga pria itu dan mengancingkan piyamanya kembali. Kapan Angkasa sempat membuka kancingnya, mengapa ia tak sadar?
"Maaf, tapi itu bukan gigitan Papi. Mama juga tidak kesakitan kok, coba tanya mama. Mamaaaa, apa tadi Papi gigit dan mama kesakitan?" seru Angkasa panik. Salma hanya menggelengkan kepala. Ini sesuatu yang sangat memalukan, di pergoki oleh anak sendiri.
"Tuuh, mama ga sakit. Tadi itu mama ga bisa tidur, teruuuss ...." Angkasa memutar otaknya sekiranya alasan apa yang bisa diterima oleh logika anak balita, "Ah, terus Papi bisikin nina bobo supaya mama bisa tidur. Mungkin yang Cakra sama Candra dengar mama kesakitan itu, karena mama mimpi dikejar-kejar hantu. Benar, 'kan Ma? Pasti mama lupa baca doa sebelum tidur."
"Itu?" Candra menunjuk beberapa tanda merah yang ada di leher dan dada Salma.
"Ow, itu sepertinya mama kena gigit semut besar."
"Ow." Kedua bocah itu menganggukan kepala, tapi masih menyisakan rasa curiga.
"Iya, Cakra sama Candra sudah baca doa belum?" tanya Angkasa mengalihkan perhatian keduanya dari tubuh Salma.
"Udah."
"Pintar, mama nih yang nakal. Makanya mimpi buruk, dah mama baca doa dulu. Cakra sama Candra mau di nyanyiin nina bobok juga ga?"
"Mauuu." Masih dengan wajah sembab, si kembar berlompatan senang di atas ranjang.
"Tapi ada syaratnya, panggil Papi sayang dulu," ucap Angkasa sembari menunjuk pipinya. Tanpa dikomando ulang, dua bocah kembar itu langsung memeluk dan mencium pipi papa sambungnya.
"Dah, mama kita mau bobok dulu. Jangan lupa baca doa ya," ujar Angkasa sembari berbaring memeluk si kembar.
__ADS_1
...❤️🤍...