Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Sudah jadi istri orang


__ADS_3

Salma hanya bisa pasrah di tangan Tia yang meriasnya dengan mulut mengomel.


"Harusnya bisa lebih bagus dari ini. Kamu sih, mepet sekali mandinya. Tahu sendiri 'kan, aku itu masih belajar merias jadi tidak bisa cepat. Kalau hasilnya jelek 'kan jadi tidak enak sama Angkasa."


"Bagus kok, cantik," puji Salma menghibur.


"Apanya yang bagus, sederhana gini. Harusnya ini jadi moment go public ku, bisa merias artis ibu kota." Tia masih setia dengan manyun di bibirnya.


"Maaf, aku akan mempromosikan kemampuan rias kakak iparku yang baik hati ini."


"Mama, cantik," puji Candra yang sejak tadi bersandar di bahunya.


"Tuh, Candra aja bilang Mamanya cantik."


Tia memutar bola matanya keatas mendengar adik iparnya memuji dirinya sendiri.


Suara di ruang tamu sudah mulai ramai. Beberapa undangan sudah mulai berdatangan. Hanya tinggal menunggu penghulu dan calon mempelai pria. Saat terdengar suara ban mobil berdecit di depan rumah, Salma meremas tangan Tia yang sedang merapikan riasannya.


"Sudah datang," ucapnya gugup.


"Lantas?" sahut Tia santai. Salma berdecak kesal dibalas oleh kakak iparnya, "Candra sama Cakra tunggu di luar sama Pak De, ya." Tia menggiring si kembar keluar dari kamar.


"Kita juga ga keluar kamar, Mba?"


"Iiih, ga sabaran banget ya." Tia tak henti-hentinya menggoda.


"Cuman nanya."


"Abangmu mau, Angkasa menyelesaikan ijabnya tanpa kamu di sampingnya."


"Maksudnya aku tetap di dalam kamar?"


"Iya, keluar dari kamar sudah jadi istri orang, atau kamu mau tunggu saja di dalam kamar sampai malam pengantin juga tidak apa-apa."


"Mba Tiaaaaa!" Salma menjerit kecil seraya mencubit gemas tangan kakak iparnya.

__ADS_1


"Sssttt, jangan ribut. Tamu sudah datang. Sebentar lagi mulai acaranya. Salma, kamu tetap di dalam sampai ada yang memintamu untuk keluar." Kepala Bimo muncul dari celah pintu kamar.


"Mba aku deg-degan." Salma menggenggam tangan Tia yang tadi dicubitnya.


"Siapa tadi yang ragu mau nikah?" Salma malas menanggapi, ia hanya berkonsentrasi pada suara berat yang sangat dihafalnya. Kamar yang berbatasan langsung dengan ruang tamu, memungkinkan ia mendengar semua percakapan di luar sana.


Sementara itu, sebelum acara dimulai Bimo mengajak calon adik iparnya masuk ke dalam dapur.


"Ada apa, Mas?" Angkasa resah membaca wajah Bimo yang datar.


"Semalam Armand datang ke rumah." Angkasa mendesah malas mendengar nama itu disebut, "Dia menceritakan sesuatu yang tidak pernah kudengar sebelumnya."


Bimo lantas menceritakan apa yang mantan adik iparnya itu sampaikan. Tentang kekhawatirannya dan ketakutan Salma pun ia sampaikan.


"Saya tidak terkejut, karena sejak awal saya mendekati Salma, Armand selalu menghalangi kami. Bahkan kemarin siang saat saya menemani Salma mengambil barang yang tertinggal di rumah lamanya, kami bertemu dengan Armand dan dia juga mengatakan hal yang sama."


"Saya tidak menampik apa yang Armand katakan, karena kabar itu memang berhembus kencang saat tragedi itu datang. Tania memang kerabat dari almarhum istri saya, tapi permasalahan saya dengan keluarga Debby sudah saya selesaikan sebelum saya melamar Salma. Tidak ada yang perlu dibahas lagi, karena yang sebenarnya terjadi adalah murni kecelakaan."


"Saya tidak tahu harus bagaimana meyakinkan Mas Bimo, tapi saya datang kemari dengan niat tulus untuk meminang adik Mas Bimo," ucap Angkasa panjang lebar dengan mantap dan yakin. Sejujurnya dalam hati, ia takut jika Bimo memintanya pulang sebelum sempat menjadikan Salma istrinya.


"Aku percayakan adikku padamu, Asa. Aku percaya padamu, jangan sekali-kali kamu langgar kepercayaanku. Siapapun dan dimanapun kamu berada akan aku datangi, jika adik atau keponakanku kau sakiti."


Angkasa tersenyum lebar lalu mengangguk senang. Belum akad nikah dimulai, ia merasa Salma sudah menjadi miliknya.


"Bersiaplah, semua tamu sudah menunggu kita."


Di dalam kamar, bibir Salma komat kamit mengucapkan doa selama prosesi pernikahan berjalan.


SAH


"Mba!" Salma menangis haru mendengar satu kata diucapkan bersamaan di ruang tamu.


"Simpan air matanya, riasanmu tidak tahan air." Tia membantu menyusut airmata iparnya sebelum melunturkan maskara dan bedak Salma, "Ayo, kamu sudah boleh keluar. Temui suamimu." Tia menggandeng Salma menuju pintu kamar.


Jantung Salma bergemuruh cepat, kenapa saat menikah dengan Armand ia tidak merasakan hal yang sama seperti ini? Apakah dengan Angkasa tidak melalui proses pacaran seperti dengan Armand dulu, ataukah ini karena ia menikahi seorang Angkasa?

__ADS_1


Semua kepala menoleh ke arahnya begitu pintu terbuka. Tidak banyak orang yang hadir tapi mampu membuat Salma merasa menjadi ratu dalam sehari. Tatapan pertamanya langsung tertuju pada seorang pria berjas putih berdiri menghadapnya dengan Cakra dan Candra di sisinya.


Seperti sudah di ajarkan, si kembar berlari kecil ke arahnya dan menggandeng kedua tangannya. Dua bocah kecil itu, membawanya menuju Angkasa yang tersenyum lebar dan cerah sekali.


Angkasa tak sanggup mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Jarak antara kamar dengan ruang tamu yang terhitung sangat dekat, serasa berkilo meter jauhnya. Jika mungkin hanya ada mereka berdua, sudah dipastikan akan diseretnya Salma agar lebih cepat berjalan.


Angkasa sudah yakin jika Salma akan tetap tampil cantik memesona, meski hanya memakai gaun kebaya sederhana dan bukan riasan salon ternama. Ia tidak mempedulikan itu semua, toh nantinya penampilan tercantik Salma di matanya adalah di atas ranjang tanpa sehelai benang pun.


Angkasa!


Pendiri Asa Production itu mengerjap-ngerjapkan matanya serta menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran yang belum saatnya ada di otaknya.


"Kenapa, Pak Asa, sakit?" Salah satu perangkat desa yang menjadi saksi terlihat khawatir dengan keadaannya.


"Tidak Pak. Ada lalat tadi."


"Ow, istrinya disambut, Pak." Terlalu banyak melamun sesuatu yang jauh, ia mengabaikan kalau sosok aslinya sudah ada dihadapannya.


Satu persatu tamu mengucapkan selamat pada keduanya. Bimo sebagai wali dari Salma memberikan pesan serta ucapan terima kasih pada tamu yang berdatangan.


Ada yang terlewat dari pandangan mereka. Tania, Armand serta Ibunya tentu tidak mau melewatkan moment spesial ini. Mereka bertiga sengaja datang terlambat, karena Armand tak ingin menyaksikan prosesi wanita yang masih dicintainya menjadi milik orang lain.


"Kenapa harus datang sih!" Saat masih dalam perjalanan menuju rumah Bimo, Tania menggerutu kesal sembari berusaha mendiamkan anaknya yang rewel.


"Kalau kamu tidak mau ikut, harusnya tetap tinggal di rumah!" sembur ibu mertuanya.


"Aku istri Armand, tentu harus ikut dan tahu suamiku mau kemana saja!" balas Tania tak kalah garangnya.


"Makanya diam!" Tak terima ibunya dikatai kasar oleh istrinya, Armand menghardik Tania meski di depan putrinya yang masih balita.


Sumpah serapah Tania hanya bisa terhambur dalam hati. Entah sampai kapan, Salma terus membayangi kehidupan pernikahannya. Ternyata harta, keahlian mengolah masakan dan bisnis catering yang selalu dibanggakannya di depan suami orang tidak dapat mengangkat derajatnya di mata Armand dan mertuanya.


...❤️🤍...


Yuhuuuu, bawa cerita bagus lagi untukmu

__ADS_1



__ADS_2