
"Armand! didik itu istrimu, dia sudah berani kasar sama Ibu!" Ibu Armand membuka pintu kamar dengan kasar lalu duduk di samping putranya yang berbaring bersama cucunya dan menangis mengadu di sana.
"Ibu mau aku apakan dia?" tanya Armand lirih.
"Kamu marahi lah, tegur dia! Kamu rela lihat Ibumu diperlakukan seperti itu?!"
"Aku capek, Ibu sajalah. Lihat Cantika ketakutan dengar suara Ibu dan Tania." Armand memperlihatkan putrinya yang mengintip dari pelukannya.
"Ah, kamu ini dasar sudah tidak berguna! Makanya kerja, Mand! Cari uang yang banyak, jadinya begini 'kan kamu jadi diinjak-injak sama istrimu!" sembur Ibu dengan teriakan yang semakin kencang.
Merasa harga dirinya sebagai seorang pria direndahkan, Armand bangkit dari tidurnya lalu balik menghardik Ibunya, "Aku memang laki-laki tidak berguna! suami yang pengecut, mau saja dulu mendengar perkataan Ibu untuk menikahi Tania! padahal aku masih punya Salma yang setia dan menerima keadaanku yang pengangguran dulu! Itu semua karena Ibu serakah! Sekarang apa lagi yang ibu mau? mencari istri baru yang kaya raya? Sini bawa wanita itu padaku lalu aku habiskan semua harta bendanya. Ibu puas?!" Mata Armand melotot nyalang.
"Armand, tega kamu bicara kasar seperti itu pada Ibu." Mata tua itu membesar terkejut. Tangan keriputnya mencengkram baju di dada kirinya.
"Aku menyesal berpisah dengan Salma, Bu! Aku masih mencintai Salmaaa! Kenapa dulu Ibu minta aku menceraikannya?" seru Armand frustasi.
Tania yang sejak tadi mencuri dengar pertengkaran Ibu dan anak itu, semakin meradang. Ia menghambur masuk ke dalam kamar dan berteriak tak terkendali, "Pergi saja kamu ke wanita itu, aku sudah tidak peduli. Angkat kaki dari rumah ini sekarang juga, bawa Ibumu juga dan semua barang yang kamu punya tapi jangan bawa anakku!"
Tania mengambil semua baju Armand dari lemari lalu melemparkannya keluar jendela kamar. Suasana semakin panas, sepasang suami istri itu tak ada yang mau mengalah. Keduanya saling berteriak satu sama lain, tak menghiraukan putri mereka yang menangis di atas ranjang dan Ibu Armand yang terduduk lemas di lantai sembari memegang dada kirinya.
"Assalamualaikum, permisi Pak Armand, Bu Tania. Ada apa ini ribut-ribut." Bu RT dan beberapa tetangga mengetuk pintu rumah mereka yang memang terbuka.
"Bu, kita masuk saja. Takut terjadi sesuatu kalau dibiarkan." Salah seorang warga member saran. Dari dalam rumah suara Armand dan teriakan Tania masih nyaring terdengar. Merasa tak ada tanggapan dari pemilik rumah yang masih terus bertikai, rombongan itu masuk terus hingga kedalam.
"Astaghfirullah, Pak Armand, Ibunya kenapa?" Tanpa permisi karena panik, Bu RT masuk ke dalam kamar lalu membantu Ibu Armand yang sudah tampak lemas dan kesulitan bernafas.
"Langsung di bawa ke puskesmas aja, Bu. Sepertinya kena serangan jantung," ucap salah satu warga memberikan usul.
Sepasang suami istri yang tadinya saling memaki itu diam terpaku tak menyangka, melihat wajah Ibu Armand pucat dengan bola mata terlihat hampir putih seluruhnya. Armand pasrah membiarkan Ibunya di bawa oleh warga.
"Nyenyeeekkk ...." Cantika, putri Armand menangis ketakutan melihat kondisi Neneknya yang digotong oleh warga.
Di ruang perawatan, nafas Ibu Armand semakin pendek dan berat. Alat medis yang terbatas tak mampu membantu kondisi wanita tua itu.
"Tolong di rujuk ke rumah sakit besar di tengah kota, Dok," ucap Armand tergesa.
__ADS_1
"Maand ... Maaaannd." Tangan Ibu menggapai-gapai dengan tarikan nafas yang pendek dan berat.
"Sabar, Bu, Ambulans sedang dipersiapkan. Kita ke rumah sakit besar ya," ucap Armand mendekat.
"Mahal," ucap Ibu lirih. Kepalanya menggeleng lemah.
"Alaaahhh! Sudahlah, Bu nurut saja!" seru Armand panik sembari menahan air matanya. Ia menyesal dan sangat ingin menarik semua kata-kata yang sudah terlanjur diucapkannya tadi.
Walaupun Ibunya kerap membuatnya jengkel dengan segala permintaan ajaibnya, tapi Ibunya lah yang selalu ada di sampingnya dan siap pasang badan saat ia berada di tengah kesulitan.
"Ju ... al emas ... Ibu. Ba ... yar utang. Ker ...ja yang ba ... ik." Tersengal-sengal, Ibu Armand berusaha merangkai kalimat.
"Ngomong apa sih, Bu!" Armand sudah hampir meledak antara emosi dan takut kehilangan.
"Ja ... ngan cerai. Ka ...sihan Can ...tika. Sam ... paikan maa ...f i ... bu u ... tuk Salma ... dan si kem ... bar."
Hanya itu yang dapat disampaikan Ibu di detik tarikan nafas terakhirnya. Mata Ibu yang terpejam, masih melelehkan air mata penyesalan. Armand mematung memandang para perawat yang memastikan kondisi Ibu untuk yang terakhir kalinya.
Armand berbalik lalu keluar ruangan dengan kepala tertunduk dalam. Kepalanya baru tengadah saat menyadari istrinya berdiri tak jauh darinya sambil menggendong Cantika. Tak ada kemarahan di raut wajah Tania seperti tadi. Mereka saling berpandangan dengan tatapan kosong.
"Aku pulang dulu, mau siapkan di rumah sebelum jenasah Ibu dibawa pulang," ucap Tania datar. Ia berbalik dan meninggalkan Armand sendirian di sana.
Sampai Ibu dimakamkan, keduanya memilih diam tak membahas yang sudah terjadi dan hanya saling bicara seperlunya.
"Ini, jual untuk bayar hutang yang aku pinjam." Armand menyerahkan kotak kayu kecil milik almarhumah Ibunya.
"Ini punya Ibu," ucap Tania saat mengintip apa yang ada di dalam kotak kayu itu.
"Ibu yang minta sendiri emasnya dijual untuk bayar hutang kita. Lunaskan biar hidupmu setelah ini tenang. Sisanya masih cukup untuk bangun kembali usaha catering mu," ucap Armand.
"Maksudmu apa? kamu suruh aku kerja banting tulang sambil besarkan anakmu sendirian begitu?!" Tania menutup kotak kayu milik Ibu Armand lalu meletakan kembali di atas meja.
"Lalu kamu maunya bagaimana?" tanya Armand dengan suara yang mulai meninggi lagi.
"Aku mau kamu bantu aku bangun usaha lagi ... Aku ga bisa sendiri," ucap Tania sembari terisak menahan tangis. Armand terhenyak, mencoba mencerna arti kalimat Tania.
__ADS_1
"Maksudmu ... kita tidak perlu berpisah?" tanya Armand ragu. Tania menggeleng dengan wajah sendu. Armand berdiri dari duduknya lalu menghampiri Tania dan berjongkok di bawah kaki istrinya, "Kamu yakin? Kamu tidak menyesal mempertahankan laki-laki seperti aku? Kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari aku setelah kita berpisah nantinya. Hidupmu akan jauh lebih baik seperti Salma." Armand menatap Tania mencari keyakinan di wajah istrinya.
"Hhhh, kamu memang pria yang tidak berguna dan aku wanita yang bodoh. Jadi kita sebanding dan impas," ucap Tania sembari memalingkan wajah menyembunyikan tangisnya.
"Tania, a-aku ... Kamu dengar kemarin. Hatiku masih tersisa di Salma." Kepala Armand menunduk dalam.
"Aku tahu, makanya aku bilang aku perempuan yang bodoh. Sudah tahu sejak awal hanya Salma yang kamu cintai, tapi aku masih mau berusaha. Ini sudah pilihanku, jangan banyak omong." Tania menengadahkan kepalanya mencoba menahan air mata yang ingin segera mengalir.
Tak bisa dipungkiri sakit rasanya mendengar langsung kalau suaminya mencintai wanita lain dan bukan dirinya sebagai istri. Namun begitulah dia menyebutnya, wanita bodoh.
"Aku berjanji akan berubah dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini demi Cantika. Terima kasih Tania." Armand bersimpuh dan menangis di bawah kaki istrinya.
Tania tidak tahu apakah harus bahagia dan terharu ataukah bersedih saat Armand mengatakan akan memperjuangkan pernikahan mereka tapi bukan untuknya, melainkan demi putrinya. Ia melipat bibirnya menahan rasa sakit yang semakin perih. Bibirnya tersenyum tapi hatinya menangis.
Salma, hukumanmu ternyata belum selesai. Ini terlampau berat untukku.
...🤍...
"Kenapa Sayang?" Angkasa duduk di samping Salma lalu ikut mengintip pesan di layar ponsel istrinya.
"Nenek Cakra dan Candra meninggal," sahut Salma pelan.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun." Angkasa merangkul pundak Salma lalu mengusap-usapnya, "Kapan kita mau kesana?"
"Kemarin sudah dimakamkan. Nanti saja kita cari waktu kesana ... aku masih belum siap." Salma menggeleng pelan.
"Aku mengerti. Kapanpun kamu siap, aku pasti akan menemanimu kesana." Angkasa mengangguk lalu beranjak keluar kamar memberikan Salma waktu untuk sendiri.
Salma menarik nafas panjang berulang kali lalu menghembuskannya dengan sangat pelan. Perlahan ia membaca lanjutan pesan dari Tania yang mengabarkan mantan mertuanya telah berpulang.
Di bawah pesan itu, tertulis permohonan Tania agar ia jangan pernah datang dan menampakan diri di sekitar mereka. Walaupun itu untuk kepentingan si kembar dan permintaan Armand sekalipun. Dengan kata lain, Tania meminta agar Salma melupakan jika si kembar adalah anak dari Armand.
Salma paham, wanita yang dulu menjadi sahabatnya itu masih belum tenang dan bahagia hidupnya, meski keinginannya untuk merebut Armand sudah tercapai.
Begitulah jika seseorang menginginkan sesuatu milik orang lain dan menghalalkan segala cara untuk merebutnya. Selamanya akan ada rasa ketakutan dan tidak tenang, kalau-kalau sesuatu yang direbut itu akan hilang direbut kembali oleh yang lain.
__ADS_1
...❤️🤍...