Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Menduga


__ADS_3

Sudah lebih dari satu jam ia duduk di lantai entah menangisi apa dia juga tak mengerti, yang ia tahu hatinya terasa sakit dan nyeri. Salma sadar ia tak bisa larut dalam situasi seperti ini, ia berdiri lalu menghapus air matanya dengan cepat.


Sebentar lagi Angkasa pulang, suaminya itu tidak boleh melihatnya dalam kondisi kacau seperti ini. Matanya bengkak dan wajahnya terlihat kusut. Salma memutuskan mandi dan berhias sebelum Angkasa tiba di rumah.


Saat suaminya itu sudah pulang, Salma memutuskan untuk tidak bertanya dan menceritakan apa yang terjadi pada Angkasa. Cakra sudah ditemukan dan dalam kondisi yang baik-baik saja. Ia menganggap tak ada hubungannya ruangan berpintu coklat itu dengan dia, karena selama ini ruangan itu seperti disembunyikan dari dirinya. Tak ada gunanya ia mengungkit-ungkit hal itu. Salma juga merasa bersalah pada Bik Yut dan jangan sampai keberadaannya di rumah ini, membuat penghuni lainnya yang lebih dulu ada sebelum dirinya merasa tidak nyaman.


Setelah makan malam, Salma duduk di depan televisi mengawasi Angkasa dan si kembar bermain game. Sementara Bik Yut dan Narti membersihkan meja makan dan ikut mengunci mulutnya rapat-rapat perihal kejadian siang tadi. Wajah keduanya masih menampakan wajah kekhawatiran.


Mata Salma melirik pada pintu coklat yang masih mengganggunya.


"Kamu kenapa, dari tadi aku lihat murung terus? Bosan di rumah? Mau jalan-jalan?" Angkasa berdiri dari lantai lalu duduk di sofa bersama dengannya.


"Tidak ada apa-apa."


"Ada sesuatu. Aku bisa melihat dari matamu, tapi aku tak bisa melihat isi hatimu." Angkasa melingkarkan lengannya di bahu Salma.


Sikap manis dan romantis ini sebelumnya diterima Salma dengan perasaan bahagia dan tersanjung, tapi semenjak ia menemukan barang milik wanita lain di dalam rumah yang seharusnya ia menjadi ratunya, rasa itu sudah tidak sama.


"Aku benar tidak apa-apa." Salma mencoba tersenyum, tapi yang terangkat hanyalah sudut bibirnya sedikit.


"Kalau ada yang tidak nyaman atau aku ada melakukan kesalahan padamu, tolong cerita."


"Tidak ada apa-apa, sungguh." Salma menatap Angkasa lalu memberikan senyuman, "Anak-anak, sudah malam ayo tidur." Salma berdiri lalu langsung menggandeng tangan si kembar dan naik ke lantai dua meninggalkan Angkasa yang masih duduk di depan televisi.


Angkasa tak menyerah begitu saja. Saat sudah di atas ranjang, ia kembali mencoba memancing istrinya untuk bercerita.


"Apa kamu ingin kembali bekerja?" Angkasa berbisik sembari memeluk tubuh Salma dari belakang.

__ADS_1


"Apa boleh?" tanya Salma setelah berpikir sejenak. Ia hanya ingin mempunyai nilai yang lebih dibanding Debby. Ia tidak mau dipandang orang hanya sebagau wanita yang menikmati kesuksesan Angkasa. Sedangkan mantan istrinya, tampak jauh lebih berkelas dan bersahaja dibanding dirinya.


"Mm, boleh saja, tergantung jenis pekerjaannya."


"Berakting?" Salma memutar tubuhnya dan menghadap Angkasa.


Angkasa mengerjap-ngerjapkan matanya, meskipun ia berkecimpung di dunia hiburan tapi ia sendiri tidak suka dengan pergaulan di kalangan artis. Dunia mereka sungguh mengerikan tak seindah yang dilihat di layar kaca ataupun di media sosial. Jelas ia tidak ingin keluarganya terlebih istrinya berada di lingkaran yang sama.


"Mm, kalau yang lain?"


"Mas Asa tahu sendiri, aku sangat suka dunia hiburan dan rejekiku sedang terbuka lebar di sana. Sekarang saja banyak tawaran masuk, tapi Mas Asa tolak semua."


Salma hanya bisa pasrah ketika tawaran bintang iklan, sinetron, film layar lebar mengalir deras tapi ditolak oleh Angkasa sebagai pihak management artisnya. Awalnya ia tenang saja, tapi semenjak mengetahui isi di balik pintu coklat itu hatinya berontak.


"Mm, jualan online mungkin. Kamu bisa memasak, buat kue, pakaian atau apapun secara online seperti yang dulu pernah kamu lakukan."


"Apa Debby dulu juga seperti itu?"


"Ow." Salma kembali berbalik membelakangi Angkasa. Mengapa topik tentang Debby kali ini menusuk hatinya, padahal sebelum ini ia tidak ada masalah tentang mantan istri Angkasa.


"Salma ... kamu sudah ngantuk?" tanya Angkasa pelan. Ia merasa takut berbicara pada istrinya sekarang. Padahal pernikahan mereka baru terhitung ukuran jari dan belum mengadakan pemberitaan resmi, tapi mengapa sudah terasa sulit?


Salma mengangguk pelan. Ia sedang merasa malas berinteraksi dengan suaminya. Ia merasa jauh dan berjarak meski sekarang berada dalam satu ranjang yang sama.


Beberapa hari berikutnya, hubungan mereka tetap tidak ada perubahan yang berarti. Salma tetap melayani Angkasa sebaik mungkin. Tersenyum, memeluk, bercanda, melayani di atas ranjang, tapi itu semua dilakukannya dengan berpura-pura bahagia.


Pikiran dan hatinya dihantui oleh persaingan semu antara dirinya dan Debby. Apakah Debby melayani lebih baik darinya, apakah Debby memasak lebih baik darinya, apakah Angkasa lebih bahagia bersama dirinya, atau jangan-jangan Angkasa melihat Debby di dalam dirinya?

__ADS_1


"Sayang ... Salmaaa," panggil Angkasa untuk kesekian kalinya, "Ada yang kamu pikirkan?"


"Ga ... ga ada." Salma menggeleng gugup.


"Kalau tidak ada, kenapa siram tanaman sampai seperti ini?" Angkasa mengambil alih selang dari tangan istrinya.


Pot tanaman yang disiram Salma sudah banjir dan sebagian tanah mengalir keluar.


"Maaf ... a-aku tadi lihat kupu-kupu jadi ga fokus. Maafkan aku ya." Salma kembali mengambil selang dari tangan Angkasa, mematikan lalu menggulung selang itu. Ia merasa malu, gugup dan takut melakukan kesalahan di depan suaminya. Ia takut kalau Angkasa melihat kekurangan dirinya lalu meninggalkannya seperti Armand dulu.


"Sudah, sudah tidak apa-apa. Biar aku yang bereskan." Angkasa menenangkannya dan mencoba membantu.


"Jangan! Biar aku saja." Salma bersikeras. Angkasa hanya dapat memandangi istrinya yang terlihat sibuk yang dipaksakan.


"Salma, film kita mendapat respon yang bagus sekali dan dikabarkan akan masuk dalam nominasi film terbaik," ucap Angkasa. Ia harap berita ini dapat menghibur hati istrinya yang akhir-akhir ini terlihat suntuk dan murung.


"Iya aku tahu, semua media sosial membicarakan hal yang sama. Termasuk juga mempertanyakan kapsitas artis yang bermain di dalamnya," sahut Salma pelan.


"Jangan percaya dengan yang ada di media sosial, mereka terkadang mengangkat suatu berita tanpa melihat fakta."


"Benarkah?" Salma menoleh dan menatap Angkasa ragu.


"Benar. Aktingmu banyak dipuji oleh praktisi hiburan. Besok malam kita diundang ulangtahun stasiun televisi ABCD, dan aku minta kamu hadir sebagai istriku, bukan sebagai salma anggrek bulan."


"Mas Asa yakin?"


"Ini saatnya, Salma. Kamu senang bukan?" Angkasa yakin bahwa hal inilah yang ditunggu-tunggu oleh Salma, sebuah pengakuan. Ia harap setelah ini istrinya akan kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


"Baiklah." Salma tersenyum samar. Haruskah ia bahagia ataukah ia harus menyiapkan diri menata hati menghadapi reaksi orang pada acara besok malam.


...❤️🤍...


__ADS_2