Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Menyelinap


__ADS_3

"Ssstt, kalian ributin apa sih? Suaranya sampai kedengeran di luar loh." Salah seorang kru masuk ke dalam ruangan dan menegur mereka.


"Maaf, Kak." Salma menunduk sopan.


"Kamu tuh, Salma kalau ngomong biasa aja ga usah pakai otot. Biasanya orang yang ngotot menyangkal malah sebaliknya," cibir Febi lalu mengajak Jeani keluar dari ruangan.


'Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini. Apa aku terlalu terlihat ada hati dengan Pak Asa? Maafkan aku yang takabur dengan kebaikan Pak Angkasa, beliau sudah sangat baik tapi aku bermimpi terlalu tinggi. Sadar kamu Salma!'


Salma mengatupkan telapak tangannya menutupi wajahnya di depan kaca rias. Rasanya sudah tidak sanggup meneruskan pengambilan gambar hari ini. Berakting di bawah tatapan sinis pemain lainnya sungguh membuatnya tak nyaman.


Salma memandang wajahnya di depan cermin dan memberi semangat untuk dirinya sendiri. Tidak perlu mengharapkan orang lain untuk memberikan semangat, cukup kedua anaknya lah sumber segala semangatnya, 'Ini baru awal, Salma. Cobaan artis pendatang baru itu selalu ada. Kamu bisa melewati yang jauh lebih sulit dari ini. Kamu bisa, Salma!'


Sore harinya makanan ringan dari catering Tania diantar ke lokasi syuting. Armand dan Tania tentu tidak akan melewati kesempatan ini. Meski berulangkali bagian pengadaan konsumsi di lokasi mengatakan tak perlu ikut mengantar, mereka bersikukuh ikut dalam rombongan kantor.


"Kamu cerdas, kalau satu mobil seperti ini mana berani tukang pukul itu melarang kita masuk ke lokasi syuting," bisik Armand pada Tania. Keduanya memaksa menumpang mobil catering dari kantor Angkasa.


Saat melewati penjagaan batas area lokasi syuting, Armand membuka kaca jendela mobil lebar-lebar. Ia melemparkan senyum angkuhnya pada dua penjaga bertato itu.


"Kamu lihat wajah dua penjaga itu? Hahahaha, pucat sekali mereka." Armand tertawa sangat puas.


"Ssstt, jangan bikin malu." Tania menyikut perut Armand kesal. Beberapa pegawai yang ikut di dalam mobil pengantar makanan terlihat tidak nyaman dengan kehadiran mereka berdua.


"Sini, sini saya bantu. Ini mau diserahkan langsung ke pemain?" Armand dengan sigap mengambil alih beberapa kotak yang dipegang karyawan.


"Tidak perlu diantar langsung, Pak. Tugas kita hanya mengantar dan menaruh di ruang makan. Nanti ada petugasnya sendiri yang mengantar ke para pemain atau mereka akan datang sendiri kemari ambil makanannya," jelas karyawan itu.


"Ah, mana boleh seperti itu. Itu namanya bukan melayani, masak artis suruh ambil sendiri. Mungkin mereka belum tahu kalau makanan sudah datang. Bagaimana kalau saya yang ke sana memberitahu mereka?" Armand sudah akan melangkah menuju ke titik lokasi syuting, tapi tangan seorang karyawan pria menahan langkahnya.


"Jangan, Pak sudah prosedurnya seperti ini nanti kami yang kena tegur kalau mengganggu proses syuting."


Wajah Armand mengkerut kesal. Sudah sampai sejauh ini ia tidak dapat mendekati mantan istrinya. Padahal dari posisi berdirinya, ia dapat dengan jelas melihat sosok bidadarinya sedang duduk membaca naskah.


"Mari, Pak kita kembali ke kantor."

__ADS_1


"Begini aja?" protes Armand.


"Iya Pak, tugas kita hanya mengantar." Sebagian karyawan yang ikut dalam mobil pengantar, sudah masuk ke dalam mobil.


Armand masih belum rela meninggalkan lokasi syuting. Ia kira tadi dapat bertemu dan bercakap-cakap dengan Salma. Ia juga ingin dunia tahu, bahwa Salma pernah ada di kehidupannya.


"Ayo, Mas." Tania menarik tangan Armand keras. Ia cemburu melihat tatapan mesra Armand yang ditujukan pada Salma. Melihat Salma yang begitu cantik, penyakit hatinya mencuatkan rasa iri dan dengki.


"Kamu kembali sendiri saja. Aku tunggu di sini."


"Kamu pulangnya gimana? Lokasi ini 'kan jauh dari jalan raya?"


"Sudaaah, aku bisa urus diriku sendiri."


"Kalau gitu aku juga di sini aja sama kamu." Tania ikut duduk di samping suaminya.


"Ga usah ikutan di sini. Pulang sana!" usir Armand.


"Ga mau, aku mau di sini juga!" Tania bertahan dibangkunya.


"Keterlaluan kamu, Mas!" Tania memandang dengan tatapan benci ke arah Armand dan Salma. Ia lalu masuk ke dalam mobil dengan perasaan hancur dan marah.


'Aku mendukungmu sampai di titik ini, dan kamu memperlakukan aku seperti ini? Awas saja kamu, Mas!'


Dari balik kaca jendela mobil yang membawanya pergi dari lokasi syuting, Tania masih dapat melihat tatapan memuja suaminya untuk Salma.


"Maaf, Pak ada perlu apa ya di sini?" tegur salah seorang kru. Peraturan yang dibuat oleh perusahaan Angkasa memang tidak boleh ada orang yang tidak berkepentingan apapun di lingkaran satu lokasi syuting.


"Saya ... Saya menjaga makanan," sahut Armand gugup.


"Bapak yang ikut rombongan antar makanan dan properti ya? Kenapa masih di sini?"


"Eh, anu saya ... saya ada perlu dengan Pak Angkasa."

__ADS_1


Kru itu semakin curiga, ia mulai memanggil kawan-kawannya agar mengawasi Armand. Suami Tania itu panik ketika semakin banyak orang yang datang mengelilingi dia.


"Bapak lebih baik keluar deh, saya hubungi penjaga ya biar diantar keluar," ujar salah seorang kru sembari menyalakan handy talkie nya.


"Jangan ... Jangan!" seru Armand panik. Ia sudah trauma dengan cengkraman tangan pria bertato yang menjaga lokasi syuting, "Eh, ituu ... Pak Angkasaaa!" Armand melambaikan tangan bahagia melihat Angkasa berjalan tak jauh darinya.


"Anda? Ada apa di sini?"


"Ahh, untunglah ada Pak Angkasa. Penjagaan di sini ketat ya, Pak saya hampir diusir." Armand memegang lengan Angkasa seolah takut ditarik keluar lokasi.


"Memang harus seperti itu, Pak agar para artis bisa nyaman bekerja. Ada apa ya, Pak ... Siapa namanya?"


"Armand, nama saya Armand."


"Ah ya, Pak Armand. Ada perlu apa di sini?"


"Saya tadi ikut mengantar makanan."


"Ngapain repot-repot, cukup antar ke kantor saja."


"Justru saya ingin sekali kemari, Pak. Saya ingin lihat dari dekat proses syuting berlangsung."


Angkasa tampak berpikir, jika ia mengijinkan orang asing masuk ia melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri. Namun sekarang situasinya orang asing ini sudah ada di dalam lokasi syuting yang seharusnya hanya ada para pemain dan kru yang berkepentingan.


"Sekali ini saja ya, Pak. Lain kali jangan seperti ini," ujar Angkasa tegas.


"Terima kasih, Paak." Armand menggenggam tangan Angkasa erat.


"Pak Armand duduk di sini saja. Mohon jangan jalan berkeliling dan mengganggu para pemain."


"Ya, Pak." Tentu ia tidak akan mengganggu para pemain lainnya, karena hanya satu tujuan utamanya.


Armand sengaja duduk di sudut tempat para pemain menuju ke kamar kecil dan ruang ganti. Ia sangat yakin, pasti ada kemungkinan Salma akan menuju ke salah satu di antara dua ruangan itu.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2