
"Pembunuh?" Armand sontak mendekati Tania dengan langkah lebar.
"Ya, berita yang beredar Angkasa itu sengaja menabrakan mobil yang ia kendarai agar istri dan anak yang masih di dalam kandungan sepupu aku itu meninggal."
"Omong kosong, alasan apa dia berbuat hal gila semacam itu?"
"Punya wanita simpanan mungkin," ucap Tania tak acuh sembari mengangkat kedua bahunya, "Kamu tahu 'kan pekerjaan pria itu seperti apa? Hidupnya dikelilingi wanita cantik. Laki-laki mana yang ga ngiler ditawari artis di atas tempat tidurnya?" Tania semakin menjadi memanasi Armand.
Padahal ia pun tidak seberapa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun Debby adalah sepupu Tania, tapi hubungan keluarga mereka sudah merenggang sejak keduanya masih remaja. Papa Tania yang merupakan adik dari Papa Debby, sudah menipu dan menggelapkan dana dari perusahaan milik Papa Debby. Sejak saat itu Papa Tania menghilang dan tidak mau menampakan wajahnya di keluarga besar mereka.
Hanya Debby yang kerap datang ke rumah mereka secara diam-diam dan memberikan uang agar Tania dapat melanjutkan kuliahnya. Pertemuan mereka yang pertama dan terakhir setelah dewasa hanya pada saat pernikahan Debby.
"Jadi Angkasa itu pria brengsek?"
"Bisa jadi," sahut Tania tak peduli.
"Aku ga rela Salma jadi dengan laki-laki itu."
__ADS_1
"Kenapa sih, biarin aja. Ingat, dia itu hanya masa lalu kamu, aku dan anakmu di kamar adalah masa depanmu yang sekarang." Tania kembali memandangi wajah Salma dan Angkasa yang masih terlihat jelas meski layar ponsel suaminya itu retak. Keduanya saling menatap dengan bibir tersenyum bahagia.
Ia sendiri juga tak ikhlas jika kehidupan Salma lebih bahagia dibanding dirinya. Tania tidak lagi menganggap Salma sebagai sahabat, sejak ia ditolak ketika ingin menjadi madu sahabatnya itu. Ditambah cinta Armand yang seolah tak ada habisnya untuk Salma, meski mereka sudah berpisah dan tak pernah bertemu lagi.
Tania tahu, jika Salma benar ada hubungan dengan Angkasa, sudah dipastikan derajat hidup Salma akan naik drastis. Jelas saja ia akan iri, karena bayangan indah dan romantis setelah menikah dengan suami sahabatnya ternyata tak seindah angannya.
"Punya otak ga sih kamu? Jelas aku ga mau anak-anakku tinggal bersama dengan pembunuh!" Jari telunjuk Armand mengarah ke wajah Tania seakan istrinya itulah sang pembunuh sesungguhnya.
"Alaaah, alasan aja. Bilang aja kamu cemburu, merasa tersaingi. Udalaaah, Mas kamu tuh dibanding Angkasa jauh dari segala sisi. Udah ganteng, tajir pula, biarpun pembunuh jelas aja Salma pasrah diapa-apain juga." Tania tertawa mengejek. Ponsel Armand yang sudah tak menyala lagi, dilemparkannya masuk ke dalam kotak sampah.
"Ngomong apa kamu! Istriku itu tidak seperti kamu yang gampang buka baju di depan laki-laki." Armand menarik lengan Tania ketika istrinya itu akan keluar dari kamar.
"Cerai?" Armand tertawa keras dan sinis, "Silahkan aja, tapi jangan menyesal kalau nanti kamu keluar dari rumah ini hanya dengan baju di badan. Kamu lupa, rumah, mobil dan nama usaha cateringmu itu semua sertifikatnya atas namaku?" Armand semakin tergelak melihat raut wajah Tania yang pias mendengar ucapannya.
Bodohnya Tania, ia sempat terbuai janji manis Armand ketika mendekatinya dulu. Ibarat budak cinta, Tania menuruti permintaan Armand untuk mengganti semua sertifikat atas namanya dengan alasan ia akan mengelolanya dengan baik sehingga menghasilkan keuntungan berlipat ganda. Sekarang lihatlah, ia seperti budak yang bertelut di kaki tuannya.
"Ba jingan! Bang sat!" Tania memukul dada dan menendang Armand sekuat tenaga.
__ADS_1
"Jaga kelakuanmu, Tania. Aku tidak segan-segan membuangmu ke pinggir jalan," desis Armand seraya mencengkram rahangnya.
"Lepas!" Tania berusaha menarik tangan Armand.
Bukan baru kali ini saja Armand menyakitinya, suaminya itu selain lidahnya tajam, tangan serta kakinya kerap menyakiti tubuh Tania. Namun Tania bukanlah Salma yang hanya bisa mengalah dan diam menangis, Tania lebih berani melawan semua perlakuan Armand padanya. Pertengkaran dan kekerasan dalam rumah mereka, sudah menjadi pemandangan sehari-hari untuk anak mereka yang masih balita.
"Kalau kamu tidak mau hidup di pinggir jalan, bantu aku menjauhkan Salma dengan laki-laki itu," ancam Armand.
"Kamu gila, aku ga mau!" Mata Tania terbelalak mendengar permintaan Armand yang mustahil baginya.
"Sayangnya kamu harus mau." Tania meringis kesakitan, jari besar suaminya seakan meremukan rahangnya.
"Aku ga tau harus apaa!" Tania berteriak dengan susah payah. Pipi dan rahangnya terasa sangat nyeri.
"Pikirkan sendiri sebelum aku mencari gantimu di atas buku nikah yang baru." Armand menyeringai lebar.
...❤️🤍...
__ADS_1
Mampir ke sini juga yuk, ceritanya bagus baget loh ini