Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Pura-pura


__ADS_3

Salma masih belum mengerti dan takut salah kira, ia menatap wajah Angkasa dan telapak tangan kokoh yang terbuka lebar di hadapannya.


"Babee?" Angkasa mengangkat ķedua alisnya sembari menggerakan jari tangannya. Sekarang semua mata terarah padanya, Salma perlahan menaikan sudut bibirnya. Ia mencoba mengikuti alur permainan Angkasa, walaupun ia berharap apa yang pria itu katakan menjadi kenyataan.


Dengan dada berdegub, bibir mengurai senyum dan Salma menyambut uluran tangan Angkasa, "Jangan begitu aku malu," ujarnya sembari berjalan mendekati Angkasa dengan langkah anggun. Dari ujung matanya ia dapat melihat mulut Jane dan yang lainnya terbuka lebar, tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Oke, kami jalan dulu. Silahkan dilanjut bincang-bincang santainya. Oh ya, tolong jangan merusak barang yang ada di lokasi syuting ya, karena ini semua termasuk property perusahaan," ujar Angkasa sembari menunjuk kursi yang tadi ditendang oleh teman Jane.


Tak satupun dari mereka yang menjawab, semuanya diam terpaku sampai Angkasa dan Salma menghilang dari pandangan mereka.


"Kamu mau makan apa, Babe?" goda Angkasa setelah mereka berdua benar-benar sudah jauh dari mata-mata yang mengawasi.


"Pak Asa ini bisa aja." Salma tertawa kecil sembari melepaskan tautan jarinya. Ada secercik harapan Angkasa menahan tangannya tetap dalam genggamannya. Namun sayangnya pria itu membiarkan ia menarik tangannya, sedih rasanya begitu kehangatan telapak tangan Angkasa hilang seiring ia melepaskan genggamannya.


"Jadi seperti itu perlakuan mereka terhadap kamu, selama syuting berlangsung?"


Saat ini mereka sedang dalam mobil menuju tempat makan terdekat yang ada di dekat lokasi syuting. Salma sudah tidak mau ambil pusing lagi pada tanggapan orang tentang kedekatannya dengan Angkasa. Menurutnya selama ia masih berada dalam batas norma agama dan kesopanan, itu adalah hal yag wajar.


"Tidak juga, yang tadi hanya kebetulan saja." Walaupun sikap Jane dan kawan-kawannya sudah keterlaluan, ia tidak sampai hati berkata sesuatu yang dapat menyebabkan mereka kehilangan pekerjaan.


Salma masih dapat menahan mulutnya untuk tidak membuka aib tentang apa yang mereka lakukan padanya. Mengingat yang menjadi lawan bicaranya ini bukanlah orang biasa, melainkan orang yang punya kuasa penuh atas nasib banyak artis dan aktor. Biarlah, ia masih bisa punya stok kesabaran yang lebih untuk menjalani beberapa minggu lagi sampai proses syuting berakhir.


Sebelah sudut bibir Angkasa terangkat sedikit, ia tak mau memaksa Salma bercerita lebih banyak lagi. Hubungannya dengan wanita beranak dua ini belumlah sedekat itu. Ia merasa Salma masih memasang tembok yang sangat tinggi. Angkasa yang tidak suka dengan kalimat penolakan, jelas tidak mau gegabah dalam mengambil tindakan.


"Kalau ada sesuatu yang tidak nyaman atau kurang mengenakkan, kamu bisa bilang sama saya atau Emran."

__ADS_1


Salma hanya menimpali dengan senyuman tipis di bibirnya. Menggelikan jika ia harus mengadu hanya karena perundungan macam itu, apalagi dia hanyalah pendatang baru. Jangan sampai labelnya bertambah menjadi artis pendatang baru yang manja dan belagu. Masuk ke dalam dunia entertaint berarti mental sudah siap diuji.


"Bagaimana dengan mantan suamimu, apa benar kamu akan rujuk lagi?" tanya Angkasa dengan hati-hati.


"Rujuk berarti saya sudah siap menjadi yang kedua. Itu berarti saya tidak ada bedanya dengan wanita yang menjadi istri mantan suami saya sekarang ini."


"Berarti tidak mungkin terjadi atau bisa saja terjadi?" kejar Angkasa. Ia tidak puas dengan jawaban yang diberikan Salma. Ia hanya ingin Salma menjawab ya atau tidak.


Seolah sedang mempermainkan rasa penasarannya, Salma lagi-lagi hanya menjawab dengan senyuman membuat Angkasa semakin gemas.


"Sepertinya ia menginginkan kamu kembali menjadi istrinya." Angkasa kembali memancing, walaupun kata hatinya menyuruhnya untuk berhenti mengulik soal itu tapi rasa penasaran dan jiwa bersaingnya usil untuk mencari tahu.


Kali ini tidak hanya senyuman yang diberikan Salma, tapi meningkat menjadi tawa yang ringan.


"Terima kasih ya, Pak ini kedua kalinya Pak Asa membantu saya keluar dari perdebatan yang rumit," ujar Salma ketika makanan yang mereka pesan sudah diantar.


"Memangnya saya bantu kamu apa?" tanya Angkasa dengan sedikit sewot. Rasa kesalnya karena tadi Salma tidak serius menjawab pertanyaannya masih tersisa.


"Yang pertama Pak Asa bantu saya yang pura-pura jadi calon suami di depan Mas Armand, yang kedua tadi Pak Asa menyelamatkan wajah saya dari teman-teman di lokasi syuting."


Angkasa menaruh alat makanya, ia menatap Salma lurus. Entah kenapa ia agak tidak suka dengan kata pura-pura dalam kalimat wanita itu.


"Jadi yang di Mall itu pura-pura? Kamu tidak pernah menjelaskan apapun setelah itu. Dan yang tadi di ruang rias, aku hanya menimpali apa yang kamu bilang saat di Mall."


Salma menatap Angkasa dengan alis berkerut. Ia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan pria itu. Apa ia yang terlalu bodoh ataukah kalimat Angkasa yang terlalu susah untuk dipahami.

__ADS_1


"Habiskan makanmu, Pak Memet sudah mengirim pesan," lanjut Angkasa setelah mereka berdua hanya diam dan saling tatap. Keduanya tiba-tiba kehilangan selera makannya. Berusaha menghabiskan dengan hanya mengunyah sekali dan langsung telan.


Perkataan Emran terngiang-ngiang di kepala Angkasa. Jika Emran itu dia, kawannya itu akan mengungkapkan perasaannya langsung pada Salma.


Tapi Angkasa bukan Emran. Angkasa bukan pria romantis yang dapat dengan mudah menunjukkan perasaannya. Wanita yang pernah menjadi istrinya dan sekarang sudah tiada itu pun, dijodohkan oleh kerabatnya dan mereka saling mencintai setelah menikah. Jadi tak pernah ada kata penolakan dalam kamus Angkasa.


Terlebih tiap harinya wanita silih berganti menebar pesona di hadapannya, jika ia mau hanya dengan kedipan matanya saja wanita yang ia inginkan akan membuntutinya kemanapun ia pergi. Dan sekarang ada wanita yang mengatakan secara terang-terangan, bahwa ia adalah calon suami pura-pura. Apakah itu sama dengan penolakan secara halus?


Saat di dalam mobil kembali menuju ke lokasi syuting, Angkasa menghembuskan nafas kasar ketika teringat kembali perkataan Salma.


"Apa ada masalah, Pak?" tanya Salma ragu. Sejak di dalam rumah makan, pembicaraan mereka tiba-tiba terputus begitu saja saat ia mengucapkan terima kasih. Setelah itu sikap dan wajah Angkasa sangat tidak enak untuk dilihat.


Angkasa melirik wanita yang duduk di sampingnya. Ia menyesali perangainya yang mudah sekali berubah hanya karena persoalan sepele.


"Tidak apa-apa. Kamu kenapa mau ikut saya keluar makan siang?"


"Eh? Karena Bapak ajak saya," jawab Salma bingung.


"Ga takut kalau Armand lihat lalu dia marah?"


"Saya lebih khawatir sama fans Bapak." Salma menunjuk para pemain wanita yang sedang duduk berkumpul ketika mobil Angkasa memasuki lokasi syuting.


"Saya tidak seterkenal itu, Salma. Saya bukan aktor, justru kamu yang nantinya bakal terkenal setelah film ini tayang." Angkasa menoleh ke arah Salma dengan pandangan sendu. Ia menyesal baru tersadar jika nanti Salma menjadi terkenal, yang menjadi saingannya bukan hanya Armand tapi deretan aktor tampan dan terkenal.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2