
"Pak ... Pak Asa! Iih, kok malah melamun." Jane mengkerucutkan bibirnya.
"Maaf. Saya pulang dulu, Salma. Tolong pamitkan saya dengan kakak iparmu," ujar Angkasa lalu berdiri dan melangkah ke arah pintu. Angkasa menyembunyikan wajah suramnya dari Salma. Ia tak mau Salma melihat sisi lemahnya jika mengingat kejadian itu. Rasa bersalah dan kehilangan masih melekat dan terus membayanginya.
"Loh, tunggu saya Pak." Jane berlari kecil mengejar langkah Angkasa yang lebar. Salma mengikuti keduanya dengan sedikit heran. Saat duduk berhadapan tadi, ia dapat dengan jelas melihat perubahan raut wajah Angkasa saat Jane menyinggungnya tentang anak.
"Salmaaa, kami pulang dulu. Titip mobilku ya, daaa Salmaaa." Jane melambaikan tangan ke arah Salma begitu Angkasa menyalakan mesin mobilnya. Angkasa sendiri tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menekan klakson mobilnya sekali ketika meninggalkan pekarangan rumah kontrakan Salma.
"Pak Asa sudah makan?" tanya Jane lembut setelah beberapa meter jauhnya mereka meninggalkan rumah Salma.
"Sudah," sahut Angkasa singkat dan pelan.
"Mungkin lapar lagi, di pojokan jalan Ampera ada yang jual sate enak loh. Mampir nyobain yuk."
"Maaf belum bisa mengikuti keinginanmu sekarang. Ini sudah larut, saya harus segera mengantarkan kamu pulang."
"Astaga, Pak Asa ini masih jam sembilan. Masih sore untuk warga Jakarta masuk rumah." Jane tertawa renyah. Angkasa hanya diam, ia benar-benar tidak ingin berbincang dengan Jane saat ini.
"Atau mungkin Pak Asa ingin coba makanan lain?" Nanti kita lewat di foodstreet yang hanya buka di malam minggu, kita cobain yuk." Jane tidak menyerah ia terus mencoba menggoyahkan ketegaran pria berahang tegas itu.
"Saya hanya ingin segera megantarkan kamu pulang, Jane. Tidak mampir kemana-mana. Kalau kamu ingin makan sesuatu cobalah beli lewat online setelah kamu sampai rumah nanti, atau saya turunkan di tempat makan yang kamu sebutkan tadi dan saya pulang. Jam sembilan bagimu masih terlalu sore bukan, jadi pasti kamu tidak akan takut untuk pulang sendiri," ucap Angkasa dingin.
Jane mengatupkan bibirnya rapat. Baru ini ia melihat dan merasakan ucapan Angkasa yang menohok hatinya. Diliriknya pria yang menjadi incaran hatinya. Angkasa adalah motivasi awalnya mengikuti kompetisi di mana ia bertemu dengan Salma dan Bian.
Wajah pria yang biasanya terlihat ramah itu, sekarang tampak menyeramkan di tengah sinar lampu jalan yang menerangi hingga ke dalam mobil. Jane diam tak berani bicara lagi.
"Kamu sudah lama berteman dengan Salma?" tanya Angkasa tiba-tiba.
"Eh, siapa? Aku dengan Salma? eemm ... gak juga. Kami baru bertemu di acara penghargaan beberapa bulan lalu. Kenapa?" Jane melirik curiga, dari nada pertanyaan Angkasa bukan seperti akan bertanya perihal pekerjaan atau sejenisnya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa."
"Pak Asa tadi kok bisa ketemu sama Salma? Seingat saya tadi Salma mau ketemu teman lamanya. Tentunya bukan Pak Asa 'kan teman lama yang dimaksud Salma." Jane tertawa palsu. Senang ada topik pembicaraan lagi, tapi kesal mengapa harus membicarakan wanita lain di waktu spesial berdua seperti ini.
"Bisa jadi," sahut Angkasa singkat dengan senyum tipis di bibirnya. Hal itu tentu tidak luput dari pengamatan Jane, sontak ada rasa panas menjalar di dadanya.
"Teman apa, Pak?"
"Bukan, saya hanya bercanda tadi." Angkasa tertawa kecil. Jane melihat Angkasa sudah kembali mencair, jelas ia tidak mau menyianyiakan kesempatannya.
"Pak Asa bisa aja. Mmm, Mba Dewi hari minggu menikah ya, Bapak hadir?"
"Dewi karyawan saya tentu saya harus hadir. Kamu juga dapat undangan?"
"Ya, tadi Mba Dewi bilang saya harus datang," ujar Jane. Sebenarnya yang terjadi, saat Dewi membagikan undangan pernikahannya, Jane kebetulan ada di sekitarnya dan melihat nama Angkasa ada di salah satu undangan yang belum dibagikan. Ia langsung menagih undangan untuknya. Dewi yang merasa tidak enak, berbasa basi mengatakan jika ia baru saja akan memberikan undangan pada Jane. Dewi langsung mengambil undangan yang belum ia beri nama dan memberikannya pada artis pendatang baru itu.
"Saya datang sama Bapak ya. Saya ga ada kenal dengan orang kantor, hanya dengan Pak Asa saja saya dekatnya."
"Jika kamu mau datang, ya silahkan datang aja. Kita toh pasti ketemu di tempat acara."
"Maksud saya datangnya bersamaan, Pak," cetus Jane gemas karena Angkasa tidak peka dengan keinginannya.
"Gak perlu datang bersamaan juga, Jane. Kamu bisa ajak Salma kalau kamu merasa asing."
Jane menghela nafas kasar mendengar nama Salma kembali disebut.
"Salma 'kan ga kenal sama Mba Dewi, lagipula dia tidak diundang kok. Saya 'kan malu bawa orang lain yang tidak diundang."
"Ya dikenalkan nanti, saya rasa Salma cukup dikenal. Kamu juga lihat 'kan tadi di ruang tim kreatif?" Mata Angkasa kembali berbinar jika Salma yang menjadi topik pembicaraan.
__ADS_1
"Pak Asa ini kenapa sih? Dari tadi nama Salmaaaa aja yang disebut."
"Memang kenapa? Ada yang salah dengan Salma?"
"Gak ada." Jane melempar pandangannya ke arah jendela, ia sedang berakting seperti kekasih yang sedang cemburu. Jane berharap, Angkasa bertanya dan membujuknya agar ia tidak marah. Namun bagi Angkasa, jawaban Jane tadi sudah cukup dan sangat jelas.
Ketidakpedulian Angkasa membuat Jane semakin menjadi. Terlebih wanita yang menjadi saingannya adalah wanita kampung, janda dan beranak dua. Menurutnya, tak ada satupun nilai lebih Salma dibanding dirinya.
"Rumahmu di sebelah mana, Jane?"
"Di pojok, Pak," sahut Jane lemah. Tinggal beberapa menit lagi ia sudah sampai rumah. Dua jam lebih hanya berduaan dengan Angkasa di dalam mobil saat malam hari, tapi tak ada kemajuan yang berarti.
"Sudah sampai, Jane. Selamat istirahat."
"Terima kasih ... Pak, kapan lagi ya saya bisa jalan berdua dengan Bapak seperti ini?" Jane memberanikan diri maju duluan walau harus menahan malu.
"Jane, maaf kalau mungkin ada kata-kata atau perbuatan saya yang menyakitimu. Jika hanya sekedar jalan, tidak ada masalah. Kita bisa buat rencana outbound bersama atau hanya sekedar nonton bioskop ramai-ramai. Tapi Maaf sekali lagi, Jane kalau untuk hanya berduaan saja, saya tidak bisa."
"Kenapa? Bapak malu jalan berdua dengan saya? Apa saya kurang menarik bagi Bapak?"
"Masuklah Jane, sudah malam. Tidak baik publik figur seperti kamu terlihat bersama pria malam selarut ini."
"Tidak masalah bagi saya jika orang melihat saya berduaan dengan pria, asal pria itu Pak Asa."
"Masuklah, Jane saya harus segera kembali." Angkasa sudah tidak kaget dengan sikap Jane. Tak hanya Jane, banyak wanita di luar sana bahkan aktris terkenal sekalipun seakan rela melemparkan tubuh mereka ke atas ranjang demi mendapatkannya.
Akal sehat dan iman yang kuat selamanya harus ia pegang dan pertahankan. Sejak awal terjun di dalam bisnis hiburan semacam ini, ia sudah tahu resikonya. Namun setelah istrinya tiada godaan dari para wanita semakin berani. Mereka seolah bersorak atas kematian istrinya. Mereka berlomba-lomba menarik perhatiannya dengan tubuh dan prestasinya dan berharap dapat menggantikan posisi istrinya.
...❤️🤍...
__ADS_1