Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Dansa


__ADS_3

Sepeninggal Emran kembali ke kantor, Angkasa termenung sembari menggulirkan layar ponselnya. Benar kata Emran, berita di media sosial ini sebenarnya biasa aja untuk ukuran gosip. Biasa jika ada film atau pendatang baru gosip ini sangat diperlukan untuk mendongkrak popularitas filmya. Bahkan yang lebih parah dari ini pun pernah, dan dia biasa saja menanggapinya.


Angkasa terus menggulirkaan layar ponselnya, ia membaca satu demi satu berita tentang Salma di sana.


'Siapakah si Anggrek Bulan, pendatang baru yang membuat orang nomer satu di Asa Production itu bertekuk lutut?'


'Fenomena artis pendatang baru yang melejit dengan cara tak wajar'


'Tanpa kemampuan apapun, artis baru pendatang baru dapat melejit mengalahkan seniornya'


'Film terbaru produksi dari Asa Pictures di gadang akan sepi penonton'


Semakin ke bawah, berita yang di baca semakin meresahkan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Angkasa meremas ponselnya geram. Mungkin benar apa kata Emran, jika ini bukan menyangkut tentang Salma ia juga tidak akan peduli.


"Maaf Pak Asa, saatnya adegan selanjutnya," salah satu kru menginformasikan dengan sopan.


"Oh ya, adegan yang mana nih Mba," tanya Angkasa sembari mengikuti langkah kru itu.


"Dansa, Pak." Kedua ujung bibir Angkasa terangkat dengan sempurna.


Salma di tengah lokasi sudah berdiri siap menunggunya. Wanita itu walau penampilannya sederhana selalu tampak menonjol di antara pemain wanita lainnya. Apa itu karena mata Angkasa hanya fokus pada Salma seorang, entalah.


"Permisi, Pak Asa nanti ketika Nabila turun dari pang---"


"Siapa Nabila?" tanya Angkasa bingung.


Pak Memet mengerjap-ngerjapkan matanya, terlihat ia lebih bingung dari Angkasa.


"Nabila itu saya, Pak Asa. Nama peran yang saya mainkan," jelas Salma memutus Pak Memet dan Angkasa yang saling bertatapan dengan bingung.


Jika Pak Memet bingung bagaimana caranya berulangkali menjelaskan isi naskah dan menahan emosi menghadapi bos besarnya, sedangkan Angkasa masih terpengaruh dari berita online yang ia baca. Ia mengira peran utama sudah diganti oleh pemain lainnya.


"Ah iyaaa, saya sampai lupa. Saya kira Nabila siapa." Angkasa tertawa kencang dan menepuk-nepuk bahu Pak Memet untuk menutupi rasa malunya.


"Hehehe, iya lupa itu wajar, Pak," timpal Pak Memet dan membatin, 'Semoga ini yang terakhir Pak Angkasa main film'

__ADS_1


"Bagimana, bagaimana Pak Memet, saya harus apa," tanya Angkasa dengan semangat. Matanya fokus mengamati sutradara dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Pak Memet merasa geli melihat reaksi atasannya yang terlihat berlebihan.


"Begitu Mba Salma yang memerakan Nabila turun dari panggung, Pak Asa berjalan mendekati lalu meminta untuk berdansa bersama. Seperti ini, Pak." Pak Memet mengulurkan tangan pada Salma.


Namun begitu Salma akan menyambut tangan sang sutradara, Angkasa langsung menghentikannya sebelum jari Salma menyentuh tangan Pak Memet, "Oke, oke cukup. Saya sudah mengerti. Bisa dimulai sekarang Pak, biar kita cepat selesai."


Pak Memet tanpa mengucapkan apapun, kembali ke tempatnya dengan perasaan mendongkol.


"Oke, crew stand by. Camera roll, and ... action!"


Lampu sorot dan kamera mengarah ke wajah Angkasa yang memandang ke atas panggung. Perlahan ia berjalan menyusuri bawah panggung dengan mata menatap kagum pada sosok wanita yang sedang bernyanyi di atas sana.


"Hai," sapa Marcel yang diperankan oleh Angkasa menyapa Salma yang baru turun dari atas panggung.


"Hai juga, siapa ya?" Nabila yang diperankan Salma mencoba mencari tahu siapakah pria di balik topeng yang menyapanya barusan.


"Boleh berdansa dengan, Nona?" pinta Marcel tak menjawab pertanyaan Nabila.


Nabila menyambut tangan Marcel, yang langsung membawanya ke tangah lantai dansa. Tangan Marcel melingkar di pinggang ramping Nabila. Sebelah tangannya memegang lembut tangan Nabila.


Berulangkali Angkasa meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah akting dan dia adalah Marcel. Kakinya bergetar tiap kali hembusan nafas Salma masuk di indera penciumannya.


"Apakah kamu benar ingin mengenalku?"


"Jika anda tidak keberatan." Nabila tersenyum sangat manis. Dari dua celah lubang di bagian mata topeng Angkasa, senyum Salma itu sangat jelas terlihat.


"Kamu cantik," desis Angkasa, "Sangat cantik," tambahnya lagi.


"Pak, itu dialog yang mana ya?" asisten sutradara dengan cepat membuka naskah dan mencari kata-kata yang diucapkan Angkasa, "Seharusnya 'kan Marcel bilang, kalau kamu tahu siapa aku kamu pasti akan lari ketakutan." Asisten sutradara itu menunjukan tulisan pada naskah itu ke Pak Memet.


"Sssttt, biar saja. Ini namanya improvisasi, " ujar Pak Memet sembari menatap layar yang ada di hadapannya. Ia mengarahkan kru yang memegang kamera agar lebih fokus menyorot wajah sepasang manusia yang sedang berdansa itu.


Salma tak memprotes dialog salah Angkasa. Ia malah terhanyut oleh bola mata hitam milik Angkasa yang sedang mengintip dari celah topeng.


Keduanya terus berdansa tanpa mengucapkan dialog apapun. Ruang aula yang disulap menjadi arena dansa itu, seakan nyata untuk mereka berdua.

__ADS_1


Angkasa semakin merapatkan tubuh Salma ke tubuhnya. Tatapannya semakin sayu dengan mata fokus ke bibir Salma yang merah dan lembab. Hanya dengan memandang bibir Salma, ia seakan bisa merasakan kelembutannya. Tanpa sadar kepala Angkasa semakin mendekat ke arah wajah Salma.


'Gawat, maaf Pak Asa tolong jangan pecat saya,' batin Pak Memet "CUT!" teriak Pak Memet lebih kencang dari biasanya.


Angkasa mendesah kesal dipotong ketika nyaris mengecup bibir Salma.


Salma yang merasa malu langsung masuk ke bilik ruang ganti untuk menyembunyikan rona wajahnya.


"Gimana rasanya berpelukan sama Pak Asa?" Jane dan seorang pemain lainnya masuk ke dalam ruangan.


"Kamu bisa aja, Jane. Deg-degan lah pasti."


"Salma, kasih tahu dong kamu pakai dukun mana kok karirmu mulus aja kurasa. Aku yang dari dulu sudah casting bolak balik, mentok jadi pemeran pembantu," ucap pemain yang datang bersama Jane.


"Dukun apaan, Feb?"


"Alaah, udahlah cuman kita-kita aja kok yang tahu. Bisikin dong kamu ke orang pinter yang mana?"


"Astaga, aku tuh ga pernah main seperti itu."


"Pelit banget sih kamu, Salma."


"Beneran, Feb." Salma masih berusaha ramah, meski hatinya tersentil.


Sedangkan Jane sama sekali tak membantunya menjawab, wanita yang ia anggap teman dekatnya itu hanya mengamati mereka berdua sembari memperbaiki riasannya.


"Atau kamu pakai jalan pintas."


"Jalan pintas yang mana?"


"Berapa semalam tarifmu? sama Pak Memet atau Pak Emran. Kalau sama Pak Asa kayaknya ga mungkin 'kan, dia orangnya sulit di dekati apalagi main perempuan."


"Tarif apa? Jangan ngelantur deh, Feb!" Salma mulai tersulut. Kali ini bukan hanya hatinya yang tersentil, tapi harga dirinya sebagai wanita terinjak-injak.


...❤️🤍...

__ADS_1


Mampir ke karya temanku yaa. Masukan ke rak buku kamu buat isi liburan tahun baru nih



__ADS_2