Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Restu


__ADS_3

Angkasa memantapkan diri lalu bergerak turun dari mobil. Benar saja begitu ia menapakkan kaki di aspal, para pencari berita itu segera berdiri dan menghampirinya. Angkasa menyambut mereka dengan senyuman terkembang lebar. Ia sudah sangat hafal dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan oleh awak media.


"Selamat sore, Pak Angkasa."


"Selamat sore," timpal Angkasa sembari terus berjalan pelan. Para awak media mengiringi langkahnya di kanan kiri sembari mengarahkan kamera ke wajahnya.


"Bagaimana kabarnya, Pak?"


"Baik. Harus selalu baik." Senyum Angkasa semakin lebar.


"Sendirian saja, Pak?" salah seorang pewarta wanita memberikan pertanyaan dengan nada menggoda.


"Ramai seperti ini kok dibilang sendirian." Angkasa berkelakar sembari menunjuk para wartawan yang langsung disambut dengan gelak tawa mereka.


"Barangkali ada yang mau digandeng, Pak?"


"Ya sudah, saya gandeng Mas Wito saja." Angkasa meraih pergelangan tangan seorang wartawan yang sering ia temui.


Para wartawan itu kembali tergelak kencang hingga menarik perhatian para tamu undangan. Suasana duka sudah tidak nampak lagi meski acara sore ini untuk mengenang Debby yang telah tiada lima tahun yang lalu.


Acara sore ini lebih seperti undangan jamuan makan malam dari pada mendoakan Debby yang sudah tiada.


"Ada yang ingin disampaikan, Pak Angkasa tentang acara sore ini?"


Angkasa tampak berpikir sebentar lalu menjawab, "Yang ingin saya sampaikan sama dengan tiga, dua dan setahun yang lalu. Kalian bisa mengutipnya dari sana."


Angkasa berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan awak media yang terkekeh sembari menggelengkan kepala. Mereka sebenarnya juga sudah tahu jawaban Angkasa, pertanyaan tadi hanya sekedar formalitas atau keberutungan jika ada berita bagus yang bisa diangkat.


"Assalamualaikum," ucap Angkasa begitu memasuki ruang tamu yang sudah dipadati oleh tamu dan keluarga dari pihak almarhumah istrinya.


"Waalaikumsalam," jawab para tamu undangan sembari tersenyum ramah. Hanya tamu yang tersenyum, selebihnya kerabat Debby hanya memberikan senyum tipis sekedarnya.


"Duduk sini, Nak Angkasa." Salah seorang kenalan keluarga Debby memberikan celah baginya untuk duduk bersamanya di dalam ruangan.


"Sudah salam sama Ibu?" bisik orang itu.

__ADS_1


"Sudah tadi di makam."


"Sudah lima tahun ya, tidak terasa."


"Iya." Angkasa menimpali lirih. Ia sedikit enggan membahas kejadian yang lalu, karena membahas itu sama dengan menghakiminya berulang kali.


"Debby dan calon anak Pak Angkasa pasti sudah bahagia di sana, beliau pasti sedih kalau lihat Nak Angkasa yang masih terus merasa bersalah." Angkasa mulai berpaling menatap pria yang rambutnya sudah mulai memutih semua itu.


"Saya memang berbuat kesalahan waktu itu, Pak."


"Benar, itu benar tapi tidak disengaja to?"


"Ya tentu tidak, Pak."


"Yaitu, jangan terus merasa terpuruk. Ga baik itu." Pria itu menepuk lutut Angkasa dengan gemas.


"Ya, Pak, saya tidak sampai terpuruk kok."


"Menyesali itu wajib, tapi kalau sampai meratapi terus menerus itu juga ga baik. Kasihan Mba Debby. Kejadian itu mungkin memang suratan takdir, siapa yang bisa menghindar kalau sudah begitu." Angkasa hanya mengangguk-anggukan kepala.


"36tahun."


"Sudah ada calon?" Pertanyaan Bapak tua itu membuat air mineral yang disedotnya tertahan di kerongkongan, "Ditanya itu saja kok pakai batuk-batuk. Jangan sungkan." Bapak itu terkekeh senang merasa sudah bisa menebak sesuatu yang benar.


"Belum ada, Pak" ucap Angkasa sembari membersihkan air minum yang tumpah sebagian di atas karpet.


"Ah, mosok. Gagah gini kok belum ada calon, 'nda mungkin gak ada yang mau. Apa jangan-jangan pingin cari yang seperti Debby? Ga ada orang di dunia ini yang sama persis, jangan kebanyakan milih ingat umur." Pria itu kembali memukul kaki Angkasa.


"Doakan saja dalam waktu dekat ini ya, Pak." Angkasa mencoba mengakhiri pembicaraan yang berbahaya ini. Jika semakin lama diladeni pria tua itu akan menguliknya semakin dalam, bukan karena ia tak mau mengakui, tapi tempatnya saja tidak tepat.


"Waah, benar toh perkiraan saya, Nak Angkasa mau mengakhiri masa dudanya." Suara pria tua itu tiba-tiba membesar membuat matanya membola. Benar saja beberapa kepala sudah mulai menoleh ke arah mereka. Rupanya jawabannya diartikan lain oleh kenalan keluarga Debby itu.


"Siapa, Asa?"


"Kamu mau nikah sama siapa? Kenapa Mba Zul ga pernah lihat beritanya?"

__ADS_1


"Bawalah kemari, kami juga ingin kenal."


"Jangan salah pilih Asa, salah-salah kamu dimanfaatkan."


"Wah, nanti kamu kalau sudah menikah lupa sama kami."


Para tamu yang sebagian besar adalah kerabat Debby mulai memberikan tanggapan, beberapa malah mulai bergerak mendekat ingin mengorek lebih dalam lagi tentang berita yang tak sengaja mereka dengar.


"Bukan, tidak seperti itu." Angkasa mengatupkan kedua telapak tangannya. Ia mulai panik ketika mantan mertuanya keluar dari dalam dengan mata menyelidik.


"Loh, ga perlu sungkan, Nak. Berita baik itu tidak boleh ditutup-tutupi, kalau iya bilang ya. Nanti kita semua bantu doa dan kawal sampai sah di pelaminan." Pria tua itu semakin bersemangat menyebarkan berita yang ia sendiri juga sebenarnya hanya menebak-nebak.


"Kamu mau menikah lagi?" tanya Bu Ida, Ibu dari Debby dengan tatapan menylidik.


Belum sempat mulut Angkasa menjawab, pria tua itu berlaku sebagai juru bicaranya, "Ya ga apa-apa toh, Bu namanya fitrah manusia itu berpasang-pasangan. Wajar jika Nak Angkasa mencari pendamping untuk menemani nanti di usia senja."


"Dengan siapa?" Kening Bu Ida tertaut, jelas terlihat kalau wanita usia enampuluhan itu tak suka dengan berita ini.


"Sudah, sudah kita mulai saja doanya. Soal itu dibahas nanti." Kakak Debby menengahi.


Sepanjang acara Bu Ida terlihat resah sembari mengusap matanya. Sesekali tangannya mengepal meremas jubah panjang yang menutupi kakinya. Saat acara hampir berakhir, perwakilan dari keluarga Debby hendak memberikan pengeras suara pada Angkasa untuk menyampaikan beberapa kata sebagai orang terdekat Debby. Namun Bu Ida langsung menyambar pengeras suara itu sembari menatap sengit mantan menantunya.


"Dia bukan lagi bagian dari keluarga ini. Kamu sudah membunuh anak dan calon cucu saya, lalu begitu mudahnya kamu menemukan orang baru untuk menggantikan anak saya. Saya tidak ikhlas!" Bu Ida berbicara dengan keras menggunakan pengeras suara hingga menarik perhatian pencari berita yang masih menunggu di luar rumah.


"Bu Ida, yang sabar. Ini juga belum tentu benar."


"Jangan begitu, Bu, ikhlaskan kasihan Debby."


Bu Ida yang menangis serta meratapi almarhum putrinya tanpa mematikan pengeras suara, menjadikan suasana semakin riuh. Beberapa orang mendekati dan menenangkan Bu Ida, ada yang memberikan minum dan mengusap-usap punggungnya.


Hati Angkasa ciut melihat mantan mertuanya terduduk lemas dengan foto Debby di pelukannya. Ditatapnya wajah yang ada di potret itu. Senyum teduh Debby yang selama setahun pernikahan mereka, tidak pernah surut walau ia seringkali bertindak seenaknya.


'Apa aku salah, Deb kalau aku mencintai orang lain? Apa aku sudah mengkhianatimu? Apa aku boleh memberikan secuil hatiku untuknya? Dia tidak sama denganmu, aku tidak pernah membandingkan kamu dengannya. Kamu dan dia berbeda. Aku mencintainya dengan cara berbeda saat aku mencintaimu. Bolehkah aku meminta restumu, Debby Maharani?'


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2