
"Pak Asa terlalu berlebihan. Pamor saya jelas tidak ada apa-apanya dibanding Pak Asa. Saya turun dulu ya, hari ini saya tinggal scene terakhir. Terima kasih untuk makan siangnya." Salma memberikan senyuman termanisnya lalu keluar dari mobil Angkasa.
Angkasa terus memandangi Salma yang berjalan dengan percaya diri dan diiringi tatapan sinis dari rekan kerjanya yang lain. Perempuan itu terlihat sangat tegar dibanding awal ia terjun ke dunia peran. Waktu dan terpaan masalah dalam hidup membuatnya semakin matang dan kuat menghadapi masalah.
Bunyi denting pesan masuk di ponselnya yang untuk kesekian kalinya, memaksa Angkasa untuk membacanya. Sejak makan bersama Salma tadi, ia sudah mendengar bunyi pesan yang masuk secara beruntun namun ia sengaja abaikan karena sudah tahu siapa pengirimnya dan isi pesan itu.
'Maaf, Pak saya kirim pesan lagi. Ibu Ida minta ditanyakan pada Bapak, apa besok jadi diadakan acara ziarah ke makam Ibu Debby.'
Angkasa membaca beberapa pesan di bawahnya dengan isi serupa. Lalu ia hanya membalas, 'Ya, tolong diatur seperti biasa.'
Angkasa mendesah keras dan mengusap wajahnya kasar. Ini tahun kelima setelah kepergian istrinya untuk selama-lamanya. Kejadian yang sangat mengguncang dunia hiburan di kala itu.
Sejak saat itu, tiap tahun Angkasa selalu mengadakan doa bersama dan berziarah ke makam Debby. Semua itu dilakukan secara besar-besaran atas permintaan ibu dari Debby.
Perasaan bersalah dan penghakiman dari keluarga besar almarhum istrinya saat itu, membuat Angkasa mengikuti setiap permintaan mantan mertuanya.
Di tahun pertama, Angkasa masih bersembunyi dari sorotan media. Ia hanya memberikan sejumlah dana pada keluarga Debby untuk dikelola, terkait acara doa keluarga tanpa menunjukkan wajahnya di tengah-tengah awak media.
Jika di tahun pertama Angkasa sangat memaklumi acara mengenang almarhumah istrinya diadakan secara besar-besaran dan diliput oleh banyak media, tapi tidak untuk tahun-tahun berikutnya. Bukan ia tidak lagi mengingat Debby, tapi ia ingin mengenangnya secara pribadi tanpa perlu memanggil media. Angkasa merasa, Ibu dari Debby ingin menghukumnya serta mengikatnya secara tidak langsung.
Angkasa menengadahkan kepalanya ke atas lalu mendesah keras untuk kesekian kalinya. Sudah dapat dipastikan acara besok akan penuh dengan lampu blitz kamera yang menyorot tiap gerak-geriknya. Ia lelah sungguh lelah.
Menjelang sore di keesokan harinya, Emran masuk ke dalam ruangannya tanpa diminta.
__ADS_1
"Apa?" tanya Angkasa tanpa mengangkat kepalanya dari lembaran kertas di atas meja.
"Kamu ga berangkat?" Emran balik bertanya. Ia sudah tahu jadwal ziarah makam yang diadakan secara rutin oleh keluarga Debby, dan akan dilanjut dengan doa bersama di rumah orangtua Debby.
Angkasa melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Masih ada waktu," gumamnya malas.
"Kelihatan tidak bersemangat, apa karena sudah ada si lesung pipi?" goda Emran.
"Kamu sudah tahu sejak tiga tahun yang lalu, aku tidak suka jika ini diadakan secara berlebihan! Mengapa kamu masih bisa bicara seperti itu? Jangan bawa-bawa Salma, ada atau tidak ada dia aku tetap tidak setuju dengan kegiatan yang berlebihan macam ini." Angkasa menatap garang pada Emran.
Emran yang tidak tahu tentang situasi hati kawannya itu sedikit terkejut, lalu mengubah posisi duduk yang tadinya santai menjadi tegak, "Aku cuman bercanda."
"Aku pergi dulu," ujar Angkasa sembari mengambil jasnya yang tersampir pada sandaran kursinya. Ia kehilangan tenaga untuk mengeluarkan suara. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Salma yang mengecewakan, ditambah harus menghadiri acara yang dibuat mertuanya, Angkasa benar-benar tidak bersemangat menjalani hari-harinya.
Sampai di depan pekarangan kuburan elite di mana Debby dimakamkan, Angkasa memarkirkan mobilnya. Belum juga ia keluar dari dalam mobil, beberapa wartawan entah dari media mana saja tampak mendekat dan mengarahkan kameranya ke arah pintu mobil.
"Selamat sore," sapa Angkasa begitu turun dari mobil.
"Sore juga, Pak Angkasa tambah ganteng saja," sahut salah satu wartawan di sana.
Bibir Angkasa berusaha terus mengurai senyuman meski matanya silau terkena cahaya biltz dari kamera wartawan.
Dilihatnya di makam Debby sudah ramai berkumpul banyak orang. Setelah berpamitan dengan wartawan yang ada di dekat mobilnya, Angkasa berjalan menuju makam Debby.
__ADS_1
Angkasa menebar senyum pada tiap orang yang berdiri mengelilingi makam Debby. Sebagian besar adalah keluarga dari almarhum istrinya. Tak satupun dari mereka membalas senyumannya. Angkasa bagi keluarga Debby tidak diinginkan orangnya, tapi mengharapkan setoran bulanan untuk mereka.
Tapi tunggu, Angkasa memicingkan mata dan memanjangkan lehernya begitu ada satu-satunya wanita yang membalas senyumanya.
'Istri dari Armand!, untuk apa dia ada di barisan keluarga Debby?'
Sedetik kemudian barulah ia teringat kalau istri Armand adalah sepupu Debby. Angkasa membalas dengan senyuman tipis pada wanita itu. Angkasa sedikit memiringkan kepalanya dan menemukan Armand ada di belakang istrinya sedang menatapnya sinis.
Rangkaian doa dan sambutan serta ucapan terima kasih dibacakan. Seperti biasa ucapan terima kasih bukan Angkasa yang menyampaikan, melainkan dari pihak keluarga Debby. Angkasa sama sekali tidak diberikan kesempatan mengungkapkan perasaannya sejak istrinya itu dimakamkan, tapi keluarga Debby mengharuskan Angkasa untuk datang di tiap acara, agar kegiata rutin tahunan ini ada daya tarik untuk dapat diliput wartawan.
Selesai acara membaca doa di makam Debby, Angkasa ikut menabur bunga di atas pusara lalu pergi tanpa berpamitan. Ia melakukan seperti itu, karena sejak kematian Debby keluarganya hampir tidak pernah berbicara dengannya. Bahkan untuk mengabari acara ini dan menagih uang bulanan yang kadang terlupakan, ibunya Debby selalu menghubungi sekretarisnya.
Angkasa semakin mempercepat langkah kakinya, begitu merasa ada yang mengikuti dari belakang.
"Pak Asa," panggil Tania. Angkasa mau tidak mau menoleh. Dilihatnya Armand juga mengikuti istrinya dari belakang.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Pak Asa, cepat amat jalannya. Habis ini ke rumah Tante Ida 'kan?" Angkasa mengangguk malas menanggapi.
"Oke kalau begitu, ketemu di sana ya. Jangan sampai ga datang loh," ucap Tania sembari melambaikan tangannya dan berjalan ke arah parkiran motor mengampiri Armand.
Di dalam mobil, Angkasa berdecak kesal. Untuk menghadiri doa di rumah orangtua Debby saja merupakan usaha terberatnya ditambah sekarang ia harus menghadapi dua orang, menyebalkan.
__ADS_1
Angkasa memutar kemudi dan mengarahkannya ke kediaman orang yang pernah menjadi mertuanya. Seperti yang ia duga, rumah itu sudah disulap dengan sangat mewah. Dari ujung jalan, ia sudah dapat melihat jejeran tenda yang menutupi jalan. Para awak media berdiri dan berjongkok di sepanjang jalan masuk menuju rumah orangtua Debby. Entah siapa yang mereka tunggu, karena selalu saja ada artis yang diundang orangtua Debby atau yang hanya sekedar numpang lewat berharap di wawancara dan masuk dalam berita.
...❤️🤍...