
Angkasa masih belum mengerti kenapa calon istrinya ini mendadak berubah sikap. Ia masih berbaik sangka, mungkin Salma lelah perjalanan jauh atau hormon kewanitaan yang rutin tiap bulan datang menghampiri.
Terlintas dugaan datang bulan Salma, senyum Angkasa kembali terbit. Reaksi senang di wajah Angkasa ini sontak membuat Salma semakin curiga dan kecewa.
'Apa aku terlalu cepat membawa Pak Asa bertemu Bang Bimo? Harusnya aku kenal lebih jauh karakter Pak Asa. Kehidupannya yang gemerlap dan selalu dikelilingi wanita cantik, bukan tidak mungkin kalau pernah ada affair dengan salah satu artisnya.'
Pikiran buruk mulai menghampiri benak Salma. Wajahnya semakin tertekuk seiring dugaan-dugaan negatif yang terbentuk dalam kepalanya.
"Aahh, sudah sampai." Angkasa meregangkan tubuhnya setelah turun dari mobil, "Sini, biar aku yang bawakan kopermu." Angkasa hendak mengambil alih koper milik Salma, tapi wanita itu menjauhkan kopernya sebelum Angkasa sempat meraih pegangannya.
"Tidak usah, aku bisa bawa sendiri." Salma berjalan masuk ke dalam rumah tanpa mengajak Angkasa.
"Tolong gendong Candra saja," usul Mba Tia.
Angkasa mengikuti saran Mba Tia, ia mengambil Candra yang tertidur di bangku belakang sedangkan saudara kembarnya sudah masuk ke dalam rumah mengikuti Mamanya.
"Selamat siang, Mas. Apa kabarnya?" sapa Angkasa pada Bimo yang berdiri menghadang di depan pintu masuk.
__ADS_1
"Selamat siang, saya baik dan kesepian. Bawa masuk Candra dulu." Bimo memiringkan tubuhnya agar Angkasa bisa melewatinya.
"Aku dengar tadi ada yang kesepian?" Tia yang terakhir masuk, tersenyum mengerling menggoda suaminya.
"Awas kamu nanti malam." Bimo menggeram dengan mata menyipit. Hanya bisa bersua lewat gawai selama lebih dari setahun, membuat rindu keduanya memuncak. Mereka berdua rela berkorban hidup berjauhan, agar adik dan keponakannya aman selama di Jakarta.
"Jangan masuk," tolak Salma ketika Angkasa akan masuk ke kamarnya dengan Candra dalam gendongan.
"Mau tidurin Candra," jelas Angkasa.
"Biar aku saja, tak baik pria asing masuk ke kamar wanita." Salma mengambil alih Candra dari pelukan Angkasa.
"Maaf." Angkasa membalikkan badan dengan wajah merah padam. Masih terdengar di balik tubuhnya dua orang itu berdebat saling menyalahkan.
"Saya yang minta maaf. Mari duduk dulu, Pak Angkasa." Bimo menunjuk ke arah sofa sedangkan istrinya sudah menghilang ke kamar karena malu.
"Tidak apa-apa, Mas saya maklum aja karena lama tidak bertemu."
__ADS_1
"Bagaimana adik saya selama bekerja di Jakarta? Apakah ia merepotkan Pak Angkasa?" Bimo membuka percakapan awal.
"Sama sekali tidak merepotkan. Mungkin saya yang malah merepotkan Salma, karena tuntutan pekerjaan."
"Saya mengucapkan terima kasih pada Pak Angkasa mau memberikan Salma kesempatan bermain dalam film produksi terbarunya. Waktu telfon saya mengabarkan kalau mau main film, dia terdengar senang sekali." Bimo tertawa pelan.
"Benarkah?"
Bimo mengganggukan kepalanya dengan senyum masih menggantung di bibirnya, tapi lambat laun senyum itu memudar dan wajahnya kembali serius.
"Saya banyak mendengar tentang Pak Angkasa dari media sosial, apa semua yang ada di sana benar?"
"Maaf sebelumnya, Mas, tolong jangan panggil saya Pak, jadi terkesan tua sekali. Panggil nama saja, sepertinya usia kita tidak seberapa jauh."
"Baiklah, Angkasa, apa yang bisa saya tahu tentang kamu?"
...❤️🤍...
__ADS_1
Aku bawa cerita yang bagus, coba cek deh pasti kamu suka