Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Rencana Angkasa


__ADS_3

Selang dua minggu setelah itu, Angkasa ingin memberikan kejutan pada istrinya yang belakangan ini sering marah tak jelas. Ia mengira sikap istrinya seperti itu, mungkin diakibatkan kesalahannya karena tak jujur di awal kepindahan mereka ke dalam rumah ini, terkait tentang ruang kosong tempat penyimpanan barang.


Angkasa mengangguk puas pada paparan presentasi yang dijelaskan dua orang berpenampilan rapi yang duduk di hadapannya.


"Jam tujuh malam acara dimulai, jadi Pak Asa sudah harus siap dari jam lima sore di lokasi," ucap pria berpenampilan rapi itu.


"Bisa diatur, saya tak perlu berdandan khusus 'kan?" Angkasa terkekeh senang menatap konsep acara yang tersusun rapi di hadapannya.


"Tipis-tipislah, Pak biar Ibu terpukau."


"Kalian bisa aja. Media bagaimana?"


"Semua sudah beres, Pak. Pak Asa tinggal hadir saja. Kami sudah mempersiapkan sampai detail acara dibantu oleh Pak Emran juga."


"Ya, ya, ya, kalau dia harus bantu kalau masih mau lanjut karirnya," seloroh Angkasa dengan tawa geli.


"Baiklah kalau begitu, kalau tidak ada yang ingin dibahas lagi kami pamit untuk persiapan nanti malam."


"Terima kasih banyak, jangan kecewakan saya nanti malam ya." Angkasa berdiri memberi salam dengan senyum cerianya.


Sepeningga dua tamunya pulang, Angkasa mulai kebingungan menyusun untaian kata romantis untuk mengundang istrinya acara makan malam spesial nanti. Berulang kali ia menulis di atas kertas, tapi berulang kali juga ia meremas kertas itu lalu dibuangnya ke tempat sampah.


Angkasa mengangkat teleponnya, lalu menekan satu angka yang terhubung langsung ke ruangan Emran.


"Halo, mana bosmu?" ucap Angkasa begitu sekretaris Emran menjawab teleponnya.


"Ada, Pak Asa. Sebentar saya sambungka---"


"Tidak perlu, suruh dia kemari."


"Baik, Pak."


Tak perlu menunggu lama, Emran muncul dari balik pintu dengan wajah tertekuk.


"Ada apa lagi, lewat telepon juga bisa ngobrol kalau mau curhat."


"Ini kantor bukan tempat untuk curhat. Sebagai atasan, aku panggil ya kamu harus segera datang. Tolong bantu aku susun kalimat yang romantis untuk mengundang wanita datang makan malam." Angkasa menggeser selembar kertas serta pena ke depan Emran.

__ADS_1


"Kamu minta aku datang ke ruanganmu hanya untuk menulis ajakan makan malam untuk Salma?"


"Iya, salah? Buruan tulis," ucap Angkasa tak sabar.


"Katanya di kantor hanya urusan kerja, lalu ini apa namanya," gerutu Emran seraya menulis di atas kertas.


Angkasa mengembangkan senyum puas setelah membaca tulisan tangan Emran.


"Kamu memang selalu bisa diandalkan."


"Rasanya biasa aja, kenapa begitu saja kamu ga bisa sih?"


"Ga tau ya, sebenarnya ga jauh berbeda dengan apa yang aku tulis tadi, tapi baca versimu seperti beda aja."


"Andaikan Salma tahu siapa yang rangkai kata indah itu, pasti dia jatuh cintanya sama aku nanti."


Senyum di bibir Angkasa sontak menghilang, dengan teganya ia mengibaskan tangan mengusir Emran untuk keluar dari ruangannya, "Oke terima kasih, balik kerja sana."


Dengusan nafas kesal Emran mengiringi langkah pria berkacamata itu keluar dari ruangan atasan sekaligus teman baiknya.


Angkasa kembali membaca tulisan Emran, ia yang tadinya ingin menelepon Salma dan mengutarakan niatnya langsung tidak jadi. Ia lebih memilih menulis pesan dari pada salah bicara dan mengakibatkan istrinya salah paham lagi.


'Sayangku, Salma mengapa malam ini aku menginginkan menghabiskan malam berdua hanya denganmu. Coba kamu bayangkan kita duduk berdua menikmati makan malam yang romantis di bawah sinar bulan dan hembusan udara yang sejuk di malam hari. Aku harap kamu mengatakan ya untuk ajakanku, Anggrek Bulanku.'


Salma mengerutkan kening serta tertawa geli membaca pesan aneh dari suaminya.


'Oke,' balas Salma singkat.


Angkasa yang harap cemas menanti jawaban istrinya setelah ia menekan tombol kirim di ponselnya, mendesah kecewa dengan balasan pesan Salma. Namun begitu ia cukup lega Salma menerima ajakannya, karena kalau tidak rencana yang ia susun rapi akan hancur berantakan.


'Nanti jam empat seperti biasa ada yang datang untuk rias dan bawakan gaun ya'


Tak sabar hanya saling berkirim pesan, Salma menghubungi suaminya langsung melalui panggilan video. Angkasa sempat terkejut ketika menerima panggilan video dari istrinya, ia langsung memperbaiki rambut serta posisi duduknya.


"Halo, Sayang tumben mau panggilan video." Angkasa mengumbar senyum lebarnya, meski hatinya masih gugup sama rasanya seperti di awal ia berbicara dengan Salma melalui panggilan video.


"Aku lagi ga bisa ketik, nih lihat." Salma mengangkat sebelah tangannya yang sedang berlumuran tepung.

__ADS_1


"Lagi buat apa?"


"Goreng pisang aja, lagi kepingin."


"Kenapa ga minta buatkan Bibik saja?"


"Ga apa-apa lagi cari kesibukan aja."


Angkasa tersenyum melihat istrinya yang tampak fokus memasukan satu persatu pisang yang sudah dilumuri tepung ke dalam wajan.


"Kenapa harus makan di luar sih? Emang ada acara apa?"


Pertanyaan Salma menyadarkan Angkasa dari kekagumannya mengamati istrinya.


"Oh ya, ga ada acara apa-apa. Hanya ingin menyenangkanmu."


"Goreng pisang begini aja sudah senang kok aku, ga perlu makan di luar ga enak ketemu orang nanti muncul lagi berita macam-macam di media sosial." Salma merengutkan wajahnya.


Baru beberapa kali keluar berdua dan juga pernah dengan si kembar, berita dengan judul macam-macam bersliweran di media sosial. Salma jadi malas untuk keluar rumah lagi. Pernikahan mereka yang belum sempat dipublikasikan, membuat masyarakat mempunyai spekulasi beraneka ragam.


"Jangan khawatir, ini beda. Aku jamin privat."


"Okelah," sahut Salma pasrah.


"Siap jam empat ya, Sayang nanti mereka datang."


"Harus dirias?"


"Ya dong, biar makin cantik."


Salma menghentikan gerakan membalik pisang goreng di atas wajan. Ia menghadap ke kamera ponselnya dengan wajah sedih.


"Bosan ya lihat aku pakai daster dan ga pernah dandan seperti ini?"


"Ow, bukan seperti itu. Kamu selalu cantik bagaimanapun penampilanmu." Salma masih menatapnya ragu, "Eh, aku mau rapat dulu, sampai ketemu nanti malam ya, Sayang."


Angkasa berpura-pura memberi kode pada seseorang di balik ponselnya agar ada alasan untuk memutus pembicaraan. Jika pembicaraan berbahaya itu diteruskan, acara yang disusunnya nanti malam, bisa ambyar tak bersisa.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2