
Sampai di tempat tujuan, suami serta sahabatnya itu belum juga membalas semua pesannya. Masih dengan hati yang resah karena belum mendapat kabar tentang anak-anaknya, Salma turun dari dalam mobil lalu mengikuti Bu Sari yang menuntunnya masuk ke dalam lobby hotel.
"Mohon tunggu sebentar ya, Bu."
Salma menurut saja ketika Bu Sari memintanya untuk menunggu di ruang privat restoran. Ia kembali mengetik pesan pada suaminya dan Bian.
'Mas aku sudah sampai, kamu di mana? Si kembar jalan sama Bian di Mall, sampai sekarang belum ada kabarnya. Kita susul mereka di sana yuk, kita makan di Mall saja, ga apa 'kan?' Salma berharap suaminya belum memesan tempat untuk mereka sehingga bisa berpindah tempat kencan berdua.
'Bian, angkat teleponku dong. Si kembar lagi ngapain? Kamu jangan bikin aku khawatir deh.'
Lagi-lagi ia harus menahan kesal, karena kedua orang itu masih saja mengabaikan pesannya.
Seorang wanita asing masuk ke dalam ruangan dengan sebuah buquet bunga mawar merah serta mahkota di tangannya.
"Permisi, Bu, saya ijin bantu Ibu pakai mahkotanya ya."
"Maaf, anda salah orang. Saya tidak memesan barang itu." Salma menggeleng dan mengangkat kedua telapak tangannya ketika wanita itu hendak menaruh mahkota di atas kepalanya
__ADS_1
"Pak Angkasa yang memesan untuk Ibu."
Salma mengerutkan kening mendengar nama suaminya disebut oleh wanita asing pembawa bunga itu, mau tidak mau ia menuruti permintaan wanita asing itu. Kepalanya sekarang terpasang sebuah mahkota yang berkilau serta sebuah bouquet bunga mawar di tangannya.
Namun hatinya tidak senang sama sekali, karena suaminya tak mengatakan apapun tentang hal ini. Ia merasa seperti orang bodoh di mata perias serta orang di sekitarnya. Belum lagi sahabat yang mengajak kedua anaknya jalan tak memberikan kabar, suasana hati Salma benar-benar memburuk.
"Mari, Bu, Bapak sudah menunggu." Bu Sari masuk kembali ke dalam ruangan dan menjemputnya keluar.
"Pak Asa sudah sampai?" tanyanya mencoba menahan rasa kesal. Mengapa suaminya itu tidak datang sendiri menjemputnya atau paling tidak mengabarinya jika sudah sampai.
"Sudah, Bu."
Salma berjalan dengan langkah lebar hampir mendahului Bu Sari. Andaikan ia tahu tempat di mana Angkasa berada, mungkin ia sudah lebih dulu sampai di sana.
Bu Sari membawanya ke taman hotel di bagian belakang. Taman yang tertutup kaca serta kawat dengan banyak bunga serta burung di dalam sangkar dan ada juga beberapa yang dibiarkan terbang bebas.
Salma memicingkan matanya ke arah taman yang akan ia tuju. Dari kejauhan meski taman itu dibatasi kaca dan kawat yang menyilang, ia seperti melihat beberapa sosok orang yang ia kenal. Beberapa diantaranya rekan di dunia hiburan dan karyawan kantor suaminya.
__ADS_1
"Ada acara kantor ya, Bu?" tanya Salma. Bu Sari lagi-lagi hanya mengembangkan senyumannya.
Hampir mendekati taman kaca itu, Sarah disambut oleh barisan gadis usia remaja dengan gaun indah berwarna senada. Mereka kompak berbaris di depan Salma mengikuti arahan ketuanya.
Salma menoleh kesana kemari tak mengerti. Matanya menyiratkan tanya pada Bu Sari, tapi tetap tak mendapatkan jawaban. Belum habis keterkejutan Salma, lampu taman sebagian diredupkan dan lampu sorot diarahkan padanya dan barisan gadis di depannya. Salma hampir saja berlari menghindar dari sorot lampu itu, tapi Bu Sari menahannya untuk tetap berdiri di tempat.
Alunan musik mengalun mengiringi suara dari dalam taman kaca, "Selamat malam para undangan, mohon berdiri kita sambut mempelai wanita yang akan segera memasuki ruangan."
'Mempelai?!'
Barisan gadis remaja di depannya mulai bergerak dan menari dengan gemulai. Salma diminta untuk ikut berjalan mengikuti mereka. Sorot lampu yang terus mengarah ke wajahnya, membuatnya tak bisa melihat jelas siapa saja yang berada di sekitarnya.
Saat ia mulai memasuki taman kaca, satu-persatu wajah yang akrab diingatannya mulai terlihat. Benar ternyata, barisan belakang dipenuhi oleh karyawan Asa Production lalu selanjutnya para artis yang bernaung di bawah rumah produksi milik suaminya.
...❤️🤍...
Mampir ke karya temanku juga yuk
__ADS_1