
Wanita yang dipanggil Bian itu tidak menanggapinya. Mata teman baru Salma hanya menatap lurus ke arah Angkasa yang sedang menemani si kembar.
"Kamu ngapain di sini?" Bukannya menjawab pertanyaan Bian, Salma malah melontarkan pertanyaan yang konyol.
"Justru kamu yang harus jawab, ngapain kamu ada di sini sama Pak Asa lagi." Bian memandangnya dengan tatapan takjub.
"Rumahku 'kan daerah sini, Bian," kelit Salma.
"Yang aku tanyakan, Pak Asa kenapa bisa sama kamu, Salmaaa ... Pak Angkasa Wiryawan loh iniiii." Bian mengguncang-guncangkan tubuh Salma gemas.
"Sstttt, jangan keras-keras. Pak Asa kemari cuman lagi bahas untuk program film terbarunya."
"Film? Kamu main film?"
"Iya, sama Jane juga kok." Salma tersenyum senang.
"Iih, kok Jane diam-diam aja. Biasa dia cerita loh kalau ada kerjaan baru, padahal tadi pagi kita ketemuan." Bian cemberut kesal.
"Kamu sama siapa kemari, Bian. Main kok jauh amat."
"Tuuuh." Bian menunjuk seorang pria tampan yang sedang mengantri di kedai sosis bakar.
Dari penampilannya, pria itu sangat mencolok di antara pengunjung lokal setempat. Namun pria itu tampak acuh dengan mata pengunjung yang ada di sekitarnya.
"Anthony?" Salma tersenyum menggoda, "Jauh sekali kencan kalian?"
"Cari suasana baru, mau tahu aja artis terkenal macam dia mau ga diajak ke pesta rakyat macam gini."
"Bisa aja." Salma terkekeh melihat Bian tersipu malu. Mereka ingin melanjutkan pembicaraan, tapi urung karena Anthony sudah berjalan mendekat.
"Ini Salma temanku yang menang kompetisi kemarin." Bian memperkenalkan Salma pada Anthony.
"Hai, maaf aku ga tahu Bian ada teman di sini, jadi aku hanya beli satu sosisnya. Sebentar aku beli lagi ya," ujar Anthony dengan aksen asingnya.
"Ga usah, aku kemari sama anak-anakku." Salma menunjuk ke arah Angkasa yang berjalan mendekati mereka dengan menggandeng si kembar.
__ADS_1
"Kamu istrinya Pak Asa?" Bola mata kebiruan itu terbelalak.
"Bukan, kami sedang ada proyek film baru, jadi harus ada pendalaman karakter ... yaah, seperti itulah." Salma menjelaskan dengan sedikit gugup.
"Oww, agensi aku juga cukup lama kerjasama dengan rumah produksi milik Pak Asa, tapi baru ini aku lihat beliau bergaul di luar jam kerja. Apalagi di pinggiran kota seperti ini." Anthony menatap Angkasa yang berjalan semakin dekat.
"Hai, Anthony apa kabar, lama ga ketemu. Ngapain di sini?" sapa Angkasa sembari menepuk pundak Anthony.
"Baik, Pak Asa. Saya di sini sama seperti tujuan Pak Asa di sini, bedanya saya belum bawa anak," kelakar Anthony sembari mengedipkan sebelah mata. Angkasa tertawa canggung, ia sadar Anthony sebagai sesama pria, pasti mengerti maksud dan tujuan mereka berada di sana adalah demi memperjuangkan seorang wanita.
"Lancar pekerjaan? Saya ada program baru semacam adventure, barangkali cocok bisa kamu ambil." Angkasa mengalihkan pembicaraan.
"Hahahaha, Pak Asa bisa aja. Santai ga perlu seperti itu, semua aman kalau sama saya." Anthony memeragakan mengunci bibirnya, "Kalau untuk soal program baru bolehlah, tapi bukan berarti ...."
"Oww, bukaan, hehehehe .... Kamu ini bisa aja." Tawa Angkasa terdengar gugup.
Dua wanita di sampingnya mengamati mereka dengan bingung, mencoba memahami kemana arah pembicaraan dua pria itu.
"Ayo kita lanjut, Bian. Terlalu lama di sini kita bisa mengganggu," ucap Anthony sembari menggamit tangan Bian.
"Pak Asa kelihatannya akrab sekali sama Anthony ya."
"Ya lumayan. Ayo kita cari makan yuk, Cakra dan Candra mau makan apa?" Angkasa mengabaikan pertanyaan Salma, ia kembali berjongkok mendekati si kembar.
"Es kim," ucap Cakra.
"Oke, kita cari tempat makan yang ada es krimnya." Tanpa menoleh, Angkasa berjalan menggandeng si kembar, "Mama kok diam aja, mau ikut ga?" Tak merasakan kehadiran Salma di belakangnya, Angkasa berhenti dan menoleh.
Belum habis rasa terkejutnya Salma melihat dua putranya tampak akrab dengan Angkasa, ia diam melongo mendengar Angkasa memanggilnya dengan sebutan mama. Walaupun ia tahu, sebutan itu mewakili kedua anaknya, tapi mampu menggetarkan hatinya.
Tak hanya malam itu, Angkasa kerap datang ke rumah hampir tiap hari. Sejak malam itu juga, intensitas mereka berkomunikasi semakin sering dan santai. Tanpa mereka sadari dan rencanakan, foto dan video singkat kebersamaan mereka berdua tersiar di media sosial.
Hampir semua infotaiment menyiarkan kedekatan mereka. Ada yang mengkaitkan dengan launching film terbaru mereka, ada pula yang menduga ada hubungan spesial antara keduanya.
Praaakkk!
__ADS_1
"Kenapa sih? Ponsel itu mahal, kemarin minta dibelikan keluaran terbaru, enak aja sekarang main lempar begitu!" Tania yang sedang berkutat di dalam dapur, sejak tadi terganggu dengan suara geraman dan sumpah serapah suaminya di dalam kamar. Begitu mendengar suara benda dibanting, ia segera masuk ke dalam kamar.
"Kenapa? Ponsel ini dibeli juga dari usahaku, mau aku buang sekalipun terserah aku!" Armand menyepak ponselnya yang masih menyala meski layarnya sudah retak.
Tania mengambil ponsel milik Armand, bola matanya membesar melihat wajah yang sangat ia kenali tampak di sana.
"Cantik 'kan istriku, nyesel aku ceraikan dia," ucap Armand sinis dan juga menahan emosi.
"Mantan! dia mantanmu, aku istrimu."
Armand memutar kedua bola matanya, tangannya menepis udara kosong seolah menyangkal ucapan Tania.
"Dia sepertinya sudah menemukan calon suami. Kenapa, kamu cemburu?" Tania tertawa mengejek. Hubungan keduanya sejak kelahiran anak pertama mereka sama sekali tidak harmonis. Mereka bertahan hanya dasar kebutuhan biologis dan ekonomi semata.
"Diam kamu!"
"Kamu tidak ingin tahu siapa pria yang ada di samping, mantanmu itu?"
"Orang bodoh yang ga tahu siapa dia! Ga usah kamu mengajari aku, dan lagi jangan kamu sebut Salma mantan aku. Bagiku dia masih istriku, dan aku akan mengambilnya kembali!" sergah Armand gusar.
Hatinya terbakar cemburu yang hebat melihat video dan foto yang berseliweran di dunia maya. Mantan istrinya itu tampak cantik sekali, wajahnya ceria seolah sudah melupakan dirinya yang pernah merajut kebahagiaan bersama. Senyum Salma dan tatapan intim pria yang merengkuh pinggang ramping Salma, semakin membuatnya gila, dan ia tidak suka itu!
"Aku tahu kamu tidak bodoh, dia orang terkenal. Jelas kamu tidak ada artinya di mata Salma lagi, tapi kalau kamu tahu siapa Angkasa Wiryawan itu, kamu mungkin akan terkejut." Tania tersenyum misterius.
"Kamu kenal dia?"
"Lebih dari kenal. Yaah, bisa dibilang kami masih ada hubungan keluarga jauh."
"Pembual!"
"Dia pembunuh sepupu aku, mantan istrinya yang meninggal dua tahun lalu saat sedang mengandung, adalah sepupu aku."
...❤️🤍...
Rekomendasi novel bagus lagii nih, pokoknya jangan sampai kalian lewatkan. Wajib masuk rak buku!
__ADS_1