
Tanpa rasa curiga, Salma terus berjalan melewati Armand yang duduk di atas motor dengan helm, masker dan memakai jaket yang tebal. Ia duduk menunggu bis yang akan membawanya menuju tempat tinggalnya, di halte bersama dengan penumpang lainnya.
Armand mengunci pandangannya pada mantan istrinya itu, jangan sampai ia kecolongan Salma naik bis tanpa sepengetahuannya. Setiap ada bis yang merapat, Armand memperhatikan gerak Salma. Begitu mantan istrinya itu berdiri dari bangku halte, Armand segera menyalakan motornya.
Armand terus menjaga jarak dari bis yang ditumpangi Salma. Walaupun berulang kali ia terkena semburan asap knalpot bis dan mendapat caci maki pengendara lainnya, Armand tak peduli akan itu semua.
Untuk kesekian kalinya bis itu merapat ke pinggir jalan, dan berhenti sejenak untuk menurunkan penumpanganya. Armand kembali menajamkan penglihatannya kalau-kalau Salma yang turun. Begitu melihat sosok wanita yang ditunggunya turun dari bis menginjakan aspal, Armand tersenyum penuh kemenangan.
Armand menunggu dengan sabar, ia tidak mau gegabah mendekati mantan istrinya itu, sebelum ia tahu di mana Salma dan kedua anaknya tinggal.
Salma menghampiri tukang ojek yang sepertinya sudah menjadi langganan. Armand mengikuti dari belakang dengan jarak yang cukup aman baginya. Begitu ojek itu berhenti di sebuah rumah mungil dengan pagar kayu, senyum Armand semakin lebar.
Armand mematikan mesin motornya lalu mendekati Salma yang sedang membuka kunci rumahnya.
"Salma."
Jantung Salma seakan berhenti berdetak mendengar sapaan pria dari belakang tubuhnya. Perlahan ia menoleh ke arah sumber suara, sosok yang tak ia harapkan muncul di depan tempat persembunyiannya.
"Hai," sapa Armand lagi. Salma masih berdiri tegak diam tak percaya.
"Mas Armand membuntuti aku?"
"Kalau tidak begitu, selamanya aku tidak bakalan tahu tempatmu tinggal bersama anak-anakku."
"Sekarang Mas Armand sudah tahu, lalu mau apa?"
"Mau bertemu mereka, kemarin aku tidak puas melepas rindu karena ada orang itu." Armand enggan menyebut nama pria yang diakui mantan istrinya sebagai calon suami.
"Ini sudah larut, mereka sudah tidur." Salma berdiri menutupi pintu masuk.
"Aku tahu ini sudah malam. Kalaupun anak-anak sudah tidur, tak ada salahnya aku melihat mereka?"
"Tak baik dilihat tetangga, pulanglah dulu."
"Urusan apa dengan tetangga, aku hanya ingin melihat anakku." Armand maju selangkah, suaranya yang semakin tinggi membuat Salma khawatir tetangganya terbangun dan menimbulkan masalah baru.
__ADS_1
"Ada ada ini?" Mba Tia keluar dari dalam, begitu melihat Armand wajahnya yang kusut semakin terlipat, "Jangan memulai keributan, Armand." Tia memandang Armand penuh peringatan.
"Saya tidak ingin memulai keributan, Mba asalkan saya diberi kesempatan bertemu anak-anak." Armand bersikukuh.
"Sepuluh menit," ucap Tia singkat lalu masuk kembali ke dalam. Salma mundur memberikan jalan untuk mantan suaminya masuk ke dalam rumah.
"Di mana anak-anak?" Armand tersenyum senang sembari mengedarkan matanya ke setiap penjuru rumah.
"Kamar, jam segini mereka sudah tidur." Salma menunjuk ke salah satu pintu yang tertutup rapat.
"Aku masuk ya?" Armand berjalan menuju kamar yang ditunjuk Salma.
"Tunggu sebentar." Salma menahan langkah Armand lalu mendahului masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Ia tersenyum lega melihat kedua anak kembarnya masih terbangun. Keduanya masih berguling di atas ranjang dengan sebotol susu di tangan mereka masing-masing.
"Cakra, Candra, keluar sebentar yuk. Papa datang mau ketemu."
"Papa?" Keduanya sempat melongo sesaat. Panggilan Papa terasa asing sudah lama tidak mereka dengar dan sebutkan. Sedetik kemudian mereka berebut turun dari ranjang menghampiri Mamanya.
Kenangan samar dan sedikit mengecewakan, membuat si kembar tak langsung mendekati Armand. Seperti saat di Mall, keduanya saling bertatapan dan memandang Mamanya meminta penjelasan lebih.
"Tidak apa-apa, Papa rindu sama Cakra dan Candra." Seolah mengerti pikiran kedua putranya, Salma menggiring keduanya mendekati mantan suaminya.
"Sepertinya aku harus sering kemari, supaya anak-anak dekat denganku bukannya laki-laki itu," gerutu Armand.
"Jangan bicara ketus dan berwajah sangar di depan mereka kalau tak mau mereka semakin takut padamu."
"Aku tak setuju kamu menikah dengan pria itu."
"Aku tak perlu meminta persetujuanmu."
"Tentu kamu harus minta persetujuanku, jika kamu menikah dengan siapapun kamu akan membawa mereka tinggal bersama orang asing."
"Waktu menikah dengan Tania kamu juga tidak meminta persetujuanku."
__ADS_1
"Aku sudah meminta persetujuanmu, apa kau lupa?"
"Waktu itu kamu bukan meminta persetujuanku, Mas tapi mengabarkan keinginanmu untuk menikahi temanku!" Walaupun sudah berlalu lama, tapi kenangan menyakitkan itu masih membekas dan sulit dilupakan. Membicarakan pengkhianatan terbesar dalam hidupnya ini, membuat Salma tak dapat membendung emosinya.
"Kamu masih marah rupanya, apakah kamu masih mencintaiku, Sayang?" Armand menggeser posisi duduknya mendekati ibu dari kedua anaknya.
"Marah dan kecewaku tidak mewakili perasaanku sama sekali." Salma menepis tangan Armand yang ingin membelai kepalanya.
"Aku masih sayang padamu, Salma. Lihatlah anak-anak ini, apa kamu tidak kasihan sama mereka? Kita masih bisa bersama."
"Jangan bermimpi!"
"Tak apalah bermimpi, aku akan membuat mimpiku ini menjadi nyata. Jika kamu tidak bisa menerima Tania, aku bisa menceraikannya."
"Gila!"
"Salmaaa, bilang sama tamu mu itu segera pulang, ini sudah larut jangan sampai Pak RT dan tetangga datang kemari karena kalian terlalu ribut." Tanpa menunjukan wujudnya, Tia berseru dari dalam dapur.
Salma berdiri lalu menggandeng kedua anaknya, "Anak-anak sudah ngantuk, Mas Armand lebih baik pulang saja."
"Baiklah aku pulang, tapi aku akan datang kembali."
Kedatangan Armand bukan hanya sekali itu, tiap ada kesempatan Armand selalu datang menghampiri rumah kediaman Salma dan kedua anaknya. Tapi Armand hanya datang jika ada Salma di rumah, menunjukan dengan jelas bahwa yang diincar Armand bukanlah kebersamaan dengan anak-anaknya melainkan keinginan memiliki Salma kembali.
Sementara itu, hubungan Angkasa dengan Salma tak kunjung membaik. Di bawah mata-mata yang menghakiminya, Salma tak nyaman berada di tempat yang sama dengan Angkasa. Ia terus menghindari dan menjaga agar ia dan pria itu cukup berjarak.
Namun untuk perannya sebagai Nabila, tentu ia tak dapat menghindar lagi dan Angkasa benar-benar memanfaatkan hal itu.
"Okee, siap untuk adegan 452, take posisiii." Asisten sutradara berseru menggunakan pengeras suara.
Angkasa nengangkat kedua sudut bibirnya lalu bergegas berdiri, "Siaap." Adegan ini yang ia tunggu-tunggu di mana Salma akan merayunya karena telah berbuat kesalahan.
Begitu seruan action di teriakan, Angkasa berjalan menuju sofa di tengah lokasi dan duduk di sana sembari membuka dasinya. Di ujung sana, Salma berusaha mengatur debar jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang.
Saat Pak Memet memberi kode agar ia masuk ke dalam frame, Salma mulai mendekati Angkasa dan langsung duduk di pangkuannya.
__ADS_1
...❤️🤍...