
Tiga manusia berwajah masam itu menunggu di luar hingga proses akad nikah selesai. Begitu terdengar kata sah dari dalam rumah, Armand menendang ban dan menghantam kap mobil dengan tinjunya.
"Sialan!" umpatnya geram. Wajahnya mengeras serta urat bertonjolan di kening dan lengannya.
"Ini mobil aku yang beli, jangan kamu rusak!" sembur Tania dengan mata melotot.
"Diam kamu wanita pembawa sial!" Armand mengacungkan jari telunjuknya ke arah wajah istrinya. Balita yang digendong Tania, kembali menangis melihat wajah Bapaknya yang mengerikan.
"Ayo masuk, jangan ribut di sini. Malu dilihatin banyak orang." Ibu Armand menggandeng tangan anak sulungnya, tanpa mempedulikan menantu serta cucunya yang baru saja jadi tontonan banyak orang.
Tania berusaha menahan sakit dan airmatanya. Baru ini kata-kata wanita pembawa sial keluar dari mulut suaminya. Setelah apapun yang ia punya ia berikan untuk Armand, apakah ia tetap membawa sial bagi suaminya itu?
Apa yang tidak ia berikan? apapun yang Armand minta mulai dari, mobil, tanah, usaha catering atas nama suami sampai ia menemani ke Jakarta hanya untuk mengejar mantan istri dari suaminya. Apakah semuanya itu kurang pengorbanannya selama ini?
Sakit!
Kini suami dan mertuanya tanpa memikirkan perasaannya hadir di pernikahan mantan istri, dengan harapan ingin memilikinya kembali. Mereka meninggalkannya di pinggir jalan berdua, hanya dengan seorang balita yang mana itu darah dan daging Armand juga.
Tania mau tidak mau menyusul mertua dan suaminya masuk ke dalam rumah Salma. Dapat dilihatnya wajah suaminya sangat tegang dan menahan emosi, sedangkan mertuanya sebaliknya. Wanita tua itu tampak senang mantan menantunya dapat orang kaya.
Wajah Salma yang tersenyum mendadak surut dan suram ketika melihat tiga orang yang paling ia hindari, mulai masuk ke dalam rumahnya. Seakan tahu situasi hati istrinya, Angkasa meremas lembut tangan Salma.
"Siapa yang mengundang mereka?" bisik Salma tak suka.
"Aku," sahut Angkasa tenang. Salma menoleh menatap suaminya tak percaya, "Kenapa memangnya? Kemarin saat berbincang dengan Armand, aku bilang kalau hari ini aku dan kamu akan menikah, kalau dia ada waktu sempatkan datang."
Salma berdecak kesal, ia tak percaya Angkasa mengundang tiga orang yang dapat membuat moodnya hilang seketika di hari bahagianya ini.
"Tidak perlu khawatir, justru kalau kita tidak memberitahu mereka akan timbul omongan yang tidak enak. Lagipula Tania adalah sepupu dari Debby, setidaknya ada yang mewakili dari pihak keluarga almarhumah istriku. Aku juga harus menghormati Armand sebagai ayah Cakra dan Candra." Angkasa menatapnya memohon pengertian.
Salma mengerti, tapi ia takut kalau ketiga orang itu berniat membuat onar di acara bahagianya. Dari sorot mata serta raut wajah Armand, ia dapat menangkap kalau mantan suaminya itu tidak ikhlas dengan pernikahannya.
Barisan tamu yang akan memberikan selamat sudah sampai pada Armand dan rombongannya. Salma semakin tegang sedangkan Angkasa tampak santai mengurai senyum.
__ADS_1
"Terima kasih sudah datang," ucap Angkasa dengan senyuman bangganya.
Armand dengan wajah bengis mengulurkan tangan tanpa berkata sepatah katapun. Ia lalu bergeser ke arah Salma yang tersenyum dengan kaku. Armand mengulurkan tangannya, tapi Salma tidak menyambutnya. Mantan istrinya itu mengatupkan dua telapak tangannya di dada. Sikap Salma membuat Armand semakin merasa jauh dan tertolak. Ia tetap berdiri di samping Salma sampai istri dan ibunya memberi selamat pada kedua mempelai.
"Selamat ya, Salma. Ibu juga ikut senang." Mantan mertuanya itu memeluk dan mengecup pipi Salma.
"Terima kasih, Bu," sahut Salma kaku. Ia jengah merasa semua gerak geriknya di awasi oleh Armand.
"Mana cucu-cucu ibu?" Masih setia dengan senyumnya yang lebar, mantan mertua Salma memanjangkan lehernya mencari Cakra dan Candra.
"Sama Mba Tia," sahut Salma pelan. Ia ingin agar ketiga orang itu segera pergi dari hadapannya.
"Selamat ya, Salma. Semoga berbahagia." Tania mengulurkan tangan dengan wajah sendu. Armand yang masih berdiri di samping Salma ikut mendengar ucapan istrinya. Mata Armand menatap istrinya tak setuju.
"Terima kasih, Tania. Kamu juga harus berbahagia," balas Salma. Ia tidak menyambut uluran tangan sahabatnya itu, tapi meraih tubuh Tania ke dalam pelukan.
Tania dan mertuanya selesai bersalaman, Armand masih saja terus berdiri memandang wajah Salma. Membuat keduanya salah tingkah.
Tanpa menanggapi tawaran Angkasa, Armand menjauh dengan masih sesekali memandang ke arah mantan istrinya.
"Takut," cicit Salma sembari merapatkan tubuhnya ke tubuh Angkasa.
"Takut? Harusnya kamu lebih takut sama aku nanti malam." Angkasa mengedipkan sebelah matanya.
Salma membesarkan matanya. Ia yang sudah merapat mengambil satu langkah menjauh dari Angkasa. Antara merinding dan takjub seorang Angkasa berbicara hal yang menjurus demikian.
"Tunggu sebentar." Ponsel Angkasa berdering, panggilan video datang dari Emran yang berada di Ibu kota, "Halo, sobat." Angkasa dengan senyuman lebarnya menyapa Emran di seberang sana.
Sebaliknya kondisi Emran di Jakarta terlihat kacau dan tak bersemangat. Tumpukan berkas, laptop yang menyala, dua kancing kemeja terbuka ditambah dasi yang terikat di dahinya menambah kusut keadaannya.
"Kapan kembali?" tanyanya tak semangat.
"Kembali kemana?"
__ADS_1
"Balik ke Jakarta, Asaaa!" seru Emran gemas.
"Ow, nantilah. Aku pasti akan segera kembali ke Jakarta setelah kami berbulan madu."
"Ha? Kamu mau pergi lagi?" Emran mendekatkan wajah ke layar ponselnya. Sedangkan Salma memandang penuh tanya, sejak kapan ada rencana berbulan madu.
"Kami belum sempat membicarakan itu, nanti aku beritahu kalau sudah dapat tujuannya. Kamu ingin pergi kemana, Sayang?" Angkasa berpaling pada Salma yang ikut menguping di sebelahnya, "Ah, aku sampai lupa memperkenalkanmu pada istriku. Ini Salma, istriku," ucap Angkasa bangga. Ia menarik pundak Salma semakin menempel ke tubuhnya.
"Selamat siang, Pak Emran," sapa Salma malu-malu.
Emran menatap layar ponselnya tanpa ekspresi. Sekarang di layar itu terpampang dua wajah yang tersenyum gembira. Sedangkan ia sudah tiga hari terperangkap di kantor, tidak sempat pulang ke rumah dan semua ini gara-gara Angkasa yang tiba-tiba kebelet nikah.
Sekarang pimpinan sekaligus temannya itu akan mengatakan akan memperpanjang waktu liburnya untuk berbulan madu? Berapa lama lagi ia harus mengatasi pekerjaan yang bukan tanggung jawabnya?
"Hai, Salma. Tolong sampaikan pada suamimu. Segera pulang, aku sangat merindukannya." Emran memberikan raut wajah tersedihnya di layar ponsel.
"Dia memang suka bercanda." Angkasa tergelak senang. Hari ini ia sangat bahagia, tak ada satupun yang bisa merusak kebahagiaannya bahkan kehadiran Armand sekalipun.
"Tenang saja, Emran aku akan bawakan oleh-oleh khas kota ini untukmu," ucap Angkasa sebelum memutus sambungan teleponnya.
"Aku tidak ingin oleh-oleh, Asaaaaa ... Aku ingin naik gaji dan bonus bulan ini!" umpat Emran pada layar ponselnya yang telah mati.
"Sebaiknya kita segera kembali ke Jakarta, kasihan Pak Emran," ucap Salma setelah sambungan terputus.
"Santai saja, Emran tak selemah yang kamu lihat. Lebih baik kita memikirkan malam ini kita akan menginap di mana?" Angkasa memandang Salma dengan pandangan berkabut.
...❤️🤍...
Aw aw aw, Pak Asa mulai nakal!
Mampir sini dulu deh sebelum lanjut
__ADS_1