
Setelah pemeriksaan di dokter kandungan, Salma tidak diijinkan untuk pulang ke rumah lagi. Istri dari Angkasa itu langsung digiring masuk ke dalam ruang perawatan untuk menunggu jadwal operasi.
"Harusnya bisa loh aku pulang sebentar lalu menyiapkan baju dan kebutuhanku sendiri," keluh Salma. Ia merasa tak nyaman tanpa persiapan apapun, sudah harus terbaring di ranjang rumah sakit.
"Sudah disiapkan Bik Yut, kamu ga perlu khawatir. Mau makan apa?" tawar Angkasa mengalihkan keresahan Salma.
"Dokter tadi 'kan suruh puasa karena mau operasi, gimana sih." Protes Salma mengerutkan keningnya. Angkasa mengusap dagunya yang mulai ditumbuhi rambut tipis, mencoba mencari topik lain untuk mengalihkan pikiran istrinya. "Beda rasanya kalau disiapkan orang lain." Salma melanjutkan keluhannya.
Dengan masih menggunakan gaun panjang yang dikenakannya sejak pagi tadi di kantor suaminya, wanita itu berjalan hilir mudik mengitari ruangan sembari mengusap perut besarnya.
"Berbaringlah, Sayang. Istirahat saja dulu." Angkasa memegang kedua pundak Salma lalu menggiring istrinya itu agar naik ke atas ranjang.
Namun hanya sebentar Salma berbaring tenang, wanita berperut buncit itu kembali berdiri lalu memeriksa ponselnya untuk kesekian kali.
"Si kembar sudah mandi belum ya?" tanyanya resah pada diri sendiri. Jarinya mengetikkan sesuatu pada ponselnya dengan kening terlipat, "Kok ga dibalas sih," gerutu Salma. Tak sabar menunggu jawaban dari orang yang dikiriminya pesan, Salma langsung menghubungi dengan panggilan selular, "Ga diangkat," keluhnya kesal seraya mencoba mengulangi panggilan telepon.
"Kamu telepon siapa sih?" Angkasa yang semula rebahan di atas sofa, kembali berdiri lalu menghampiri Salma yang duduk di tepi ranjang. Dengan sabar ia menunggui istrinya itu mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Narti, pesanku ga dibalas, telepon juga ga diangkat. Aku hanya ingin tahu, si kembar sudah mandi belum. Sekarang mereka semakin sulit diatur, aku saja hampir kewalahan mengatasi mereka," ujar Salma dengan mata tetap mengarah ke layar datar ponselnya.
"Kamu hanya gugup menghadapi operasi besok. Biasa kamu tidak seperti ini. Percayalah anak-anak dalam kondisi baik-baik saja. Mungkin Narti sedang memandikan si kembar atau masih bermain di halaman, jadi belum bisa mengangkat dan menjawab pesanmu." Angkasa berujar penuh kesabaran.
"Aku ga gugup kok, perasaanku baik-baik saja," sangkal Salma. Ia masih berusaha menghubungi pekerja rumah tangganya lagi.
Angkasa menarik nafas panjang, kali ini ia harus bertindak tegas. Sudah sangat terlihat jika Salma sedang mengalami depresi karena rasa tegang yang berlebihan.
__ADS_1
"Sayang, tidurlah dulu." Angkasa mengambil ponsel dari tangan Salma lalu menaruhnya di atas meja.
"Sebentar, aku mau hubungi Narti dulu." Salma berdiri lalu berusaha mengambil ponselnya. Namun dengan cepat Angkasa mengambilnya kembali dan memasukannya ke dalam kantong celananya.
"Aku yang cari tahu keadaan si kembar, kamu masih percaya 'kan sama aku?" Angkasa menatap kedua bola mata Salma lurus, "Aku juga Papa si kembar loh, Sayang," lanjut Angkasa lebih menajamkan pandangannya ketika istrinya masih belum menunjukkan sikap mengalah.
Bagai terhipnotis, tubuh Salma mulai mengendur lalu dengan sendirinya naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana. Angkasa ikut membantu saat melihat istrinya kesulitan naik ke atas ranjang dengan perut besarnya.
"Mau kemana?" Tangan Salma menarik ujung kemeja Angkasa ketika pria itu beranjak berdiri dari sisinya.
"Mau telepon Narti sama Pak Romli dulu, cari tahu keadaan si kembar," jawab Angkasa.
"Ga usah, aku yakin mereka baik-baik saja," ucap Salma lirih, "Mereka nurut kok sama Narti," tambah Salma masih dengan suara pelan.
"Kamu yakin aku tidak perlu mencari tahu keadaan si kembar?" tanya Angkasa meyakinkan.
Angkasa kembali duduk di tepi ranjang. Tangannya mengusap perut buncit istrinya dan mengecup berulangkali. Ia juga menempelkan telinganya di perut Salma lalu tertawa kecil.
"Kenapa?" tanya Salma heran.
"Mereka sedang berunding, siapa nanti yang keluar duluan," ucap Angkasa seolah sedang mendengarkan dengan serius. Wajah tegang Salma mulai mengendur. Ia ikut tertawa bersama suaminya.
"Kalau kamu rileks seperti ini, mereka pasti ikut tenang. Sebenarnya apa sih yang membuat kamu resah?" Angkasa menyelipkan rambut di belakang telinga Salma.
"Apa ada kemungkinan aku bisa melahirkan secara normal?" Salma memandang suaminya penuh harap.
__ADS_1
"Dokter sudah bilang, kamu harus persalinan Caesar, karena mempertimbangkan kondisi usia jadi jauh lebih aman." Salma berdecak kecewa dan melempar pandangannya ke arah jendela.
"Ada yang kamu khawatirkan?" Angkasa memegang dagu Salma lalu memalingkannya kembali.
"Aku ga tahu." Salma menggeleng dengan air mata berlinang. Ia sungguh tidak memahami perasaanya saat ini, "Aku hanya ingin merasakan persalinan secara normal, dulu saat si kembar lahir juga Caesar."
"Lalu?" kejar Angkasa masih tak mengerti.
"Rasanya kurang lengkap saja," jawab Salma dengan suara lirih sekali.
"Bagiku sama saja itu hanya caranya saja berbeda, yang terpenting kamu dan bayi kita sehat dan selamat."
"Dulu Ibunya Armand marah besar saat aku diminta dokter untuk operasi Caesar. Mas Armand juga sempat tidak mau menandatangani pernyataan untuk menjalani operasi." Salma menggigit bibinya saat ingatan menyakitkan itu hadir kembali.
Saat di mana ia sendirian di atas ranjang pasien menahan sakit di perut dan juga sesak di dadanya. Mertuanya yang menemaninya, terus mengomel mengatakan kalau wanita belum bisa dikatakan seorang ibu kalau belum melahirkan secara normal. Sedangkan suaminya marah pergi entah kemana, setelah permintaannya agar membantunya melahirkan secara normal ditolak oleh dokter yang menanganinya.
Setelah si kembar lahir dengan selamat, baru ia tahu kalau penolakan mantan suaminya dan ibu mertuanya dulu bukan karena soal pilihan normal atau Caesar, tapi karena Armand tidak mau mengeluarkan uang lebih banyak untuk persalinannya.
Padahal kondisinya yang mengharuskan ia dioperasi, karena kondisi fisik dan mentalnya sedang tidak baik. Ibu Armand hampir tidak pernah memberikannya istirahat dari pekerjaan rumah sejak dari awal kehamilan sampai menjelang persalinan.
Tak berhenti sampai di sana, mempunyai anak kembar pun dipermasalahkan oleh Armand dan Ibunya karena pengeluaran menjadi dua kali lipat. Gen kembar yang berasal dari keturunan Salma, membuat wanita itu merasa bersalah dan tertekan.
Karena itu saat dokternya kali ini mengatakan dia harus menjalani persalinan Caesar karena usia dan bayi kembar, situasi dan perasaan rasa bersalah itu datang kembali.
Angkasa mendengarkan cerita Salma dengan sabar. Ia akhirnya mengerti, mengapa istrinya ini begitu khawatir dan ketakutan menghadapi operasinya esok hari.
__ADS_1
"Sekarang kamu bukan istrinya Armand, tapi istri Angkasa Wiryawan. Anak yang ada di dalam perutmu ini, bukan anak Armand, tapi anakku. Aku sangat bahagia dan tak sabar menanti kehadiran mereka, jadi tolong lahir kan mereka dengan sehat dan selamat." Angkasa menatap lekat dan lembut pada istrinya.
...❤️🤍...