
Mereka berpindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Tak hanya menghampiri, mereka berdua juga banyak di dekati oleh pesohor yang hanya ingin sekedar menyapa atau ingin tahu seperti apa istri baru Angkasa.
Lagi-lagi Angkasa dibuat tertegun dengan perubahan cara bicara dan bersikap istrinya malam ini.
"Mengapa aku merasa kamu berbeda hari ini, apa karena pengaruh baju dan riasan?" Angkasa memindai Salma dari bawah hingga rambutnya, dengan gaya bercanda.
"Oh ya? Sebenarnya biasa saja, apa Mas Asa suka?"
"Apapun dari dirimu, aku suka," ujar Angkasa setelah terdiam sejenak.
"Aku ke toilet dulu ya," bisik Salma.
Di toilet, Salma mengeluarkan alat rias miliknya yang ia bawa dari rumah. Ia kembali memoles perona pipi dan bibir.
"Mau berdandan setebal apapun, kamu tak akan bisa sejajar dengan Debby." Jeani berdiri di sampingnya ikut membenahi pewarna bibirnya.
"Aku tidak sedang menyamakan diri dengan Debby," ucap Salma ketus.
"Gaun putih, tata rambut ikal, perhiasan yang kamu gunakan sekarang semua identik dengan Debby. Itu yang kamu bilang tidak sedang menyamakan posisimu dengan almarhum istri Angkasa? Belum lagi cara ketawa sambil menyelipkan rambut di belakang telinga dan aksen bicaramu semua itu Debby banget!" Jane tergelak geli.
"Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu." Salma meringkas alat riasnya lalu segera berjalan lebar keluar dari toilet.
"Coba kamu perhatikan, mereka sedang membicarakan dirimu. Mereka pasti sedang membandingkan kamu dengan Debby. Di mata mereka, belum ada yang bisa menggantikan Debby menjadi pendamping Angkasa. Termasuk kamu." Jane mengiringi langkah Salma sambil terus membisikan sesuatu yang menjatuhkan mentalnya.
Sampai di pintu masuk ballroom acara, Jane memisahkan diri. Salma berdiri mematung dan memperhatikan semua undangan yang saling bercakap. Di pandangannya seolah semua mata sedang menatapnya penuh rasa iba.
Salma memasuki ballroom dengan menundukan kepala. Beberapa kali ia menabrak tamu atau pelayan yang membawa minuman dan snack.
"Maaf, maaf." Berulangkali Salma mengucapkan kata maaf tiap kali orang menegurnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Angkasa terkejut melihat kondisi gaun Salma yang terlihat kotor setelah kembali dari toilet. Terdapat beberapa bekas tumpahan minuman berwarna serta cream dari cake yang ia senggol.
"Tadi ga sengaja senggol pelayan yang bawa minuman." Salma duduk dengan kepala tertunduk di samping suaminya. Rasa percaya dirinya yang sebelumnya cukup tinggi, seketika merosot tajam setelah mendengar hasutan Jane.
"Kamu baik-baik saja? Kamu terlihat pucat, Sayang. Apa kamu mau pulang saja?" Angkasa menatapnya khawatir.
"Aku baik-baik saja, jangan hiraukan aku. Fokuslah dengan acaramu." Angkasa sedikit memundurkan kepalanya mendengar nada ketus tersirat dalam ucapan istrinya. Ia memutuskan untuk memberikan ruang dan waktu untuk Salma sendiri sebentar.
"Selamat malam, Pak Angkasa." Pasangan selebritis muda yang sedang naik daun datang menyapa Angkasa.
__ADS_1
"Selamat malam, bagaimana kabarnya keluarga kecil bahagia ini?" kelakar Angkasa sembari berdiri dan menyalami keduanya.
"Baik sekali, Pak Angkasa. Kapan kami diajak kerjasama lagi nih?"
"Harusnya saya yang bertanya seperti itu, apa masih mau kerjasama dengan saya?"
Ketiganya larut dalam pembicaraan seru, mengabaikan Salma yang masih duduk di sana.
"Saya ada konsep baru sama Pak Arisonang, rencana mau ajak Pak Angkasa untuk bergabung."
"Oh ya?"
"Kebetulan beliau hadir, Pak Angkasa bisa langsung bertemu." Brandon menunjuk seorang pria setengah baya berjas hitam yang sedang dikelilingi oleh petinggi stasiun televisi.
"Boleh." Angkasa mengangguk. Kesempatan bagus yang sayang sekali dilewatkan untuk bekerja sama dengan pemimpin partai politik terkuat.
Angkasa mengikuti langkah sepasang suami istri itu berjalan menghampiri Pak Arisonang, meninggakan istrinya duduk terpekur sendirian.
"Maaa, ngantuk." Candra merebahkan kepalanya di pangkuan Salma.
Kepala kecil itu ia usap lembut seraya mengedarkan pandangan ke tiap sudut ruangan. Semua tampak bahagia, sibuk melobi sana sini termasuk suaminya. Tak ada yang menyadari kehadirannya di tempat itu.
Dari tengah ballroom, ia dapat melihat Jane tersenyum meremehkan. Gadis itu tampak sesekali menimpali pembicaraan orang di sekelilingnya dengan gaya anggun dan berkelas.
Salma menertawai kebodohannya. Sebelum menghadiri pertemuan ini, ia menyempatkan diri membuka semua video dan berita di sosial media terkait Debby. Benar apa yang dikatakan Jane, sekuat apapun ia berusaha, ia tak dapat menyamai Debby seujung kukunya.
"Maaa ...." Candra mengangkat kepalanya dan menatapnya sendu.
"Baiklah kita pulang." Salma berdiri lalu menggendong Candra. Ia menghampiri Cakra yang sedang berbincang dengan Emran dan kekasihnya.
"Mau kemana?" tanya Emran melihat Nyonya bosnya mengajak Cakra keluar tanpa ditemani oleh suaminya.
"Pulang, Candra mengantuk."
"Tunggu sebentar saya panggilkan Angkasa."
"Jangan. Biar saja, Pak Asa sepertinya lagi membicarakan sesuatu yang penting."
"Tapi sudah bilang kalau mau pulang duluan?" Emran menunjuk Angkasa yang sedang berbincang serius dengan jempolnya. Salma hanya menjawab dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Baiklah, biar saya bilang Pak Sukri untuk mengantar Bu Salma pulang." Kali ini Salma tak bisa menolak, karena Emran sudah berjalan mendahuluinya.
"Sebenarnya saya bisa pulang naik taxi online," ucap Salma ketika orang kepercayaan suaminya itu membantunya membukakan pintu mobil.
"Mana boleh seperti itu. Cakra pulang duluan ya, Candra sudah ngantuk." Emran mengusap kepala Cakra yang cemberut karena dipaksa untuk ikut bersam dengan Mama dan saudara kembarnya, "Pak Sukri nanti tidak usah kembali, biar Pak Asa pulang sama saya," tambah Emran.
Memastikan mobil yang membawa istri dan kedua anak atasannya sudah keluar dari perkarangan hotel, Emran kembali masuk ke dalam ruang acara.
"Man, lihat istriku?" Belum sempat mendekati kekasihnya, Emran sudah dihadang oleh Angkasa dengan wajah panik.
"Istri dan anak-anakmu sudah dibawa sama Pak Sukri," jawab Emran tanpa beban.
"Hah! Apa maksudmu, dibawa kemana mereka sama Pak Sukri?" Mata Angkasa melotot.
"Ya dibawa pulang kerumahmu, Asa. Kenapa sih, baru juga berapa menit ga lihat istri seperti sudah kehilangan organ tubuh. Dasar pengantin baru."
"Laporanmu ga jelas. Kenapa dia pulang duluan? Aku telepon juga ga diangkat."
"Mungkin karena lagi gendong Candra jadi ga bisa angkat telepon, dia sudah bilang kamu katanya mau pulang duluan."
"Ga ada bilang." Angkasa menggeleng.
"Waduh, mana aku tahu. Mungkin dia tidak enak ganggu kamu yang lagi serius ngobrol."
"Ya sudah aku pulang juga kalau begitu."
"Eh, memang acaranya sudah selesai? 'kan belum masuk acara makan-makannya." Emran menahan langkah Angkasa.
"Ga usah, makan di rumah sama keluarga lebih nikmat."
"Tapi aku belum makan, Asa," keluh Emran.
"Ya makanlah, aku pulang." Angkasa bersikeras.
"Bukan begitu, tapi aku sudah terlanjur bilang sama Pak Sukri kalau tidak usah kembali karena nanti aku yang antar kamu pulang." Emran menyesali sarannya pada sopir pribadi Angkasa, karena sopir itu terlihat lelah dan juga mengantuk.
"Ya sudah, ayo kita pulang." Angkasa tak mempedulikan wajah sedih Emran, ia terus berjalan keluar ruangan meninggalkan orang kepercayaannya itu sibuk membujuk kekasihnya agar tidak marah.
...❤️🤍...
__ADS_1