
"Ayo Mas kita pergi." Tania menarik tangan suaminya. Ia mengkerut melihat garangnya tatapan dua penjaga bertubuh besar itu.
"Nanti dulu, aku belum bertemu Salma." Armand menepiskan tangan istrinya kasar.
"Jangan buat malu di sini, Mas. Ingat tujuan awalmu, kita sudah susah payah menembus pengadaan konsumsi di sini jangan sampai kau kacaukan. Bisa-bisa kontrak perjanjian dibatalkan sebelum kita setor makanan kemari." Tania berbisik dengan geram.
"Lihat kalian nanti!" ancam Armand pada dua penjaga yang berkacak pinggang sebelum mengikuti langkah Tania.
Seperti suara Mas Armand, apa aku sedang memikirkan dia?
Salma terpekur menatap ke arah kerumunan orang yang sedang menontonnya. Teriakan Armand menembus hingga ke lokasi syuting yang tidak jauh jaraknya.
"Salma, kenapa?"
Wajah Armand di lamunannya tergantikan oleh wajah Angkasa yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Ga ada apa-apa." Salma menggeleng seraya tersenyum, "Pak Asa sudah selesai dirias?"
"Sudah, kalau pria tidak perlu banyak macam seperti wanita. Bagaimana apa saya sudah cantik?" Angkasa mencoba bercanda dengan kedua jari telunjuk di pipinya.
"Pak Asa bisa aja. Pak Angkasa ganteng bukan cantik," sahut Salma.
Ucapan sederhana itu yang seharusnya terdengar biasa saja jika diucapkan orang lain, tapi dampaknya besar saat Salma yang mengatakannya. Kedua kaki Angkasa seolah tak sanggup menopang berat tubuhnya. Ia yang awalnya ingin menggoda Salma, malah berbalik ia yang gemetar.
Sama halnya dengan Angkasa, ucapan spontan yang ia ucapkan membuat Salma salah tingkah sendiri. Otomatis keduanya tampak seperti anak baru gede yang tersenyum malu-malu kucing setelah saling memuji.
Pemandangan itu tentu membuat Jane iri dan sinis. Ia tidak terima jika seorang Angkasa yang hebat, bisa dekat dengan Salma yang seorang wanita sederhana dan tak punya kelebihan apapun menurutnya.
"Coba lihat, sudah mulai ganjen 'kan?" Jane kembali lagi menpengaruhi pemain lainnya.
"Geli banget lihat pendatang baru sok iyes macam perempuan itu," timpal lainnya.
"Biasa aja itu, paling juga pakai susuk atau ilmu pemikat supaya laris," tambah lainnya.
"Amit-amit deh."
__ADS_1
Jane tersenyum senang dapat mempengaruhi pemain wanita lainnya di sana.
"Bukannya dia itu teman dekatmu, Jane?"
"Ga dekat juga, aku kebetulan ketemu dia waktu pemilihan konten kreator berbakat. Kalian tahu, astagaaa pertama ketemu dia, aku kira pembantu salah satu konten kreator. Penampilannya ga banget, udik!"
"Aku juga heran, kenapa dia bisa terpilih dulu. Waktu itu sih aku pikir memang rejekinya, ya sudahlah yaaa," lanjut Jane seraya memandang ke arah Salma dan Angkasa yang masih bercakap-cakap.
"Tapi sekarang aku jadi punya pikiran sama denganmu, Von. Apa jangan-jangan ia punya ilmu agar dapat menang di kontes dan terpilih sebagai pemain utama di film ini. Coba kalian pikir," lanjut Jane. Para wanita di sekeliling Jane mulai berkasak-kusuk membicarakan Salma. Mereka mengangguk dan memandang sinis ke arah ibu dari si kembar.
"Ayoo, adegan kedua siaap." Asisten sutradara berseru dari balik kamera.
"Adegan kita 'kan?" Angkasa berdiri dengan semangat. Saatnya satu frame dengan Salma.
"Posisiii siap ...." seru sutradara.
Angkasa mengenakan topengnya dan berdiri diantara pemain lainnya. Sedangkan Salma di atas panggung memegang mike, bersiap menyanyikan sebuah lagu.
"Camera roll ... And action!"
"Cut! ... Maaf, Pak Asa seharusnya Bapak maju mendekati Mba Salma di bagian referain lagu," ucap sang sutradara pelan.
"Maaf, maaf ... Boleh diulangi lagi ya," sahut Angkasa gugup.
"Kalau bukan yang bayarin gaji gue, ku sembur sudah," gerutu Pak Memet kesal.
"Maklumin aja Pak, lagi jatuh cinta," bisik Emran yang baru saja datang. Bukan rahasia lagi di antara Emran dan Memet bahwa atasan mereka sedang mengalami puber kedua. Pak Emran menggelengkan kepala sembari menahan tawanya.
"Sstt, Pak Emran apa benar Pak Asa itu serius dengan artis pendatang baru itu?" bisik Pak Memet dengan mata masih tertuju pada layar kamera yang menampilkan adegan Angkasa sedang mengamati Salma di atas panggung.
"Kita lihat saja nanti," ucap Emran dengan senyum misterius.
"Tapi saya kasihan sama Mba Salma, dia dimusuhi hampir satu team proyek film ini." Memet berbisik lagi.
"Sudah biasa itu, Pak. Pendatang baru langsung dapat peran utama, digosipkan dengan pemilik rumah produksi yang jadi incaran para artis. Siapapun pasti iri."
__ADS_1
"Semoga Mba Salma kuat mentalnya. Sayang kalau dia mundur apalagi menghilang hanya karena gosip ga jelas, karena saya lihat dia wanita yang potensial." Pak Memet kembali mengintip dari balik kamera miliknya.
"Mata anda awas sekali." Emran menepuk-nepuk bahu Memet sebelum mendekati Angkasa yang sudah menyelesaikan satu adegan.
"Ngapain kamu di sini?" sergah Angkasa ketus.
"Waah, gimana Pak Bos ini tiap kali saya datang selalu ditanya mau ngapain. Katanya disuruh mengawasi talent, jadi saya diperlukan ga di sini?"
"Sudah ada aku di sini, kamu urus di kantor sajalah," usir Angkasa kejam. Ia duduk di bangku yang disediakan khusus untuknya lalu menggeser-geser layar ponselnya.
"Ya sudahlah kalau sudah ga ada gunanya aku di sini, aku pulang aja dulu."
"Eh, siapa yang minta kamu pulang? Ke kantor Emran, gantikan aku di sana ini masih jam kerja." Angkasa membesarkan matanya.
"Iyaaa," sahut Emran malas, "Dulu aja ngemis-ngemis minta bantu buatkan cerita, kalau sudah jadi gini main usir aja," lanjut Emran menggerutu sembari berjalan menjauh.
"Maaan ... Emraan!" Belum ada sepuluh langkah, suara Angkasa berteriak memanggil namanya, "Kemari dulu!" Angkasa mengangkat tangannya ketika ia berbalik.
"Masih butuh saya, Bos?" tanya Emran malas.
"Coba kamu lihat ini." Angkasa menunjukan berita online di ponselnya dengan wajah panik.
"Lalu kenapa?" tanya Emran santai.
"Kok kenapa, gimana sih kamu ini. Kenapa bisa ada berita semacam ini? Coba kamu urus, Man."
"Bukannya bagus, berita semacam ini bisa mendongkrak nilai jual film ini, Pak. Orang-orang akan semakin penasaran, lumayan 'kan menghemat biaya promosi. Lagipula seperti ini sudah biasa terjadi setiap kita akan launching produksi baru, kenapa baru sekarang kayak kebakaran jenggot?"
Angkasa mengatupkan mulutnya yang sudah sempat terbuka ingin menimpali perkataan Emran. Benar kata kawannya itu, ia tidak pernah ambil pusing dengan apa yang terjadi di bawah. Konflik antar pemain, gosip panas yang bergulir sampai kasus yang menggiring pemainnya ke meja hijau. Baginya selama kucuran dana mengalir deras, hal itu wajar saja.
...❤️🤍...
Aku bawa cerita TOP niih, kamu wajib juga ikutin novel ini yuk
__ADS_1