
"Maaf ya, Mas." Untuk kesekian kalinya Salma mendengungkan permintaan maaf pada Angkasa. Selama tiga malam menginap di kampung halaman Salma sekalipun mereka berdua tidak diberi kesempatan berdekatan sama sekali oleh si kembar.
"Astaga, Salma. Harus berapa kali sih aku katakan tidak perlu dipikirkan. Kamu ini seperti masih menganggap aku orang asing. Mereka itu sekarang juga anakku, apapun yang mereka lakukan biarkan aku ikut andil mendidiknya."
Salma terdiam. Ia mengerti maksud Angkasa, tapi mungkin masih belum terbiasa dan ada perasaan tidak percaya diri membebankan seorang Angkasa dengan dua anak sekaligus. Si kembar sejak malam penggrebekan itu bukannya marah pada Angkasa, malah semakin lengket. Mereka selalu menagih cerita dan pelukan sebelum tidur pada Papa barunya itu, hal yang tidak pernah mereka dapatkan pada Papa kandungnya.
"Iya, tapi Mas janji ya kalau ada yang tidak enak hati tentang anak-anak beri tahu aku, jangan hanya diam," ucap Salma sembari memasukan bajunya ke dalam koper.
Sore ini mereka akan terbang kembali ke Jakarta, setelah Emran mengancam akan mengundurkan diri jika bosnya itu langsung pergi berbulan madu setelah menikah.
"Iya. Hmm, apa kamu tidak enak sama aku gara-gara kita belum kikuk kikuk?" Angkasa saling mengetuk-ngetukan kedua jari telunjuknya dengan mimik wajah menggoda Salma.
"Apaan sih!" Salma tertawa tersipu.
"Oww, sepertinya kamu yang pingin niih." Angkasa semakin gencar menggoda, "Sabar, Sayang nanti malam kita sudah sampai di istana kita. Malam ini kamu akan jadi ratu di kamar pengantin kita." Angkasa melingkarkan lengannya di perut Salma dan berbisik di telinganya.
Siang itu keduanya saling bercanda sembari berbisik, mengecup dan mengusap tanpa khawatir terganggu lagi oleh si kembar. Namun hanya sebatas itulah mereka dapat puas bermesraan karena Cakra dan Candra, sedang terlelap di atas ranjang hotel setelah makan siang.
Setelah berpamitan serta diiringi sejuta pesan oleh Bimo dan Tia, mereka berdua kembali ke Jakarta sore itu juga. Kali ini mereka kembali duduk bersebrangan dengan masing-masing menemani si kembar.
Salma menoleh ke kanan di mana Angkasa sedang duduk bersama Candra. Satu bangku dekat jendela masih kosong, dadanya berdegub mengira-ngira siapakah yang akan duduk di sana. Ia tidak mengharapkan yang menempati deretan kursi Angkasa adalah seorang wanita muda. Biarlah ia dianggap wanita pencemburu, pengalaman dicurangi sebelumnya menjadikannya wanita yang selalu was-was dengan pasangannya.
Angkasa menangkap kegelisahan di wajah istrinya yang kerap kali mengamati penumpang yang masih mencari tempat duduk. Tentu ia tidak bakal lupa kejadian saat mereka berangkat sebelumnya, dan kali ini jangan sampai salah bersikap apalagi ia ada rencana bermalam panjang dengan istrinya.
Ketika seorang pemuda memastikan nomer kursi dekat jendela pada Angkasa, senyum lega Salma terbit.
__ADS_1
"Tidak akan ada drama daaah ... lagi," celetuk Angkasa menggodanya.
Namun senyum Angkasa pudar saat seorang pria matang meminta jalan melewati Salma dan duduk dekat jendela di sisi Cakra. Keningnya berkerut, andaikan ia meminta Salma bertukar tempat akan sama saja. Akhirnya ia hanya bisa menahan diri dan bersabar sampai penerbangan ini sampai tujuan.
"Dia tadi ngobrol apa aja sama kamu?" tanya Angkasa sesaat merek turun dari pesawat.
"Tanya mau kemana."
"Sudah jelas pesawatnya menuju bandara di Jakarta, lantas mau kemana lagi? Itu modus, hanya untuk cari bahan pembicaraan."
"Ya, mungkin di pikirannya kota di sekitar Jakarta 'kan bisa."
"Lalu dia tanya apa lagi, kok sepertinya lirik-lirik ke arah aku? Kamu bilang 'kan aku suamimu?"
"Dia tanya apakah anakmu ini kembar dengan anak yang duduk di sebelah sana?" jelas Salma sembari memperagakan menunjuk Cakra dan Candra.
"Ya, suamiku. Aku bilang, ya mereka kembar dan pria tampan berjaket hitam yang duduk di sebelah kembaran Cakra itu adalah suamiku," ucap Salma menahan senyum.
"Nah gitu dong harus dibiasakan menyebut suami."
"Apa nanti aku juga diakui sebagai istri di depan umum sebelum resepsi diadakan?" Salma melemparkan tanya khawatir.
"Sesiap kamu. Apa kita biarkan saja berjalan, jika ada yang bertanya ya dijelaskan. Tak perlu mengadakan konfersi pers, karena kita tak melakukan kesalahan."
"Mas soal yang disampaikan sama Mas Armand tentang ... rumor kecelakaan yang disengaja dulu itu tidak benar 'kan?"
__ADS_1
Hal ini sudah ditanyakan dan dijelaskan Angkasa sebelumnya, saat hari pertama setelah mereka resmi menjadi suami istri, tapi ketika kaki menginjak kota Jakarta rasa penasaran itu kembali mengganggunya.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Mungkin kalau dari mulutku sendiri, kamu akan sulit menerimanya. Kamu nanti bisa tanya Emran, dia mengenalku sejak kami duduk di bangku SMU. Kamu nanti aku bawa ke keluarga besarku, dari merekalah kamu nanti akan mengenalku lebih dalam."
"Kalau kelurarga Mba Debby bagaimana?"
"Mereka, khususnya Ibu Debby sudah aku sampaikan niatku untuk menikah lagi. Awalnya menolak dan tidak mengijinkan, tapi secara ikatan kami sudah tidak ada apa-apanya lagi. Setidaknya aku sudah berniat baik meminta restu, semoga Ibu Debby ikhlas. Nanti jika ada waktu kita mampir ke rumah beliau."
"Ziarah ke makam Mba Debby juga."
"Iya, istriku." Angkasa mengedipkan sebelah matanya.
Ia menoleh ke arah bangku belakang, mata Cakra dan Candra tampak sayu memandang ke arah luar jendela mobil. Senyumnya semakin terkembang, membayangkan si kembar pulas di kamarnya masing-masing dan inilah saat waktunya ia menghabiskan malam pertamanya dengan ibu si kembar.
"Aahh, akhirnya sampaiii, selamat datang ratu dan pangeran." Angkasa merentangkan tangan meregangkan tubuhnya, "Ayo langsung masuk saja, biarkan kopernya diangkat sama sopir dan satpam."
Salma tertegun, baru ini ia melihat rumah Angkasa. Rumah yang akan ia tinggali sebagai Nyonya Angkasa. Rumah itu cukup luas dan modern. Salma dan si kembar digiring masuk sampai ke dalam rumah.
"Tidak ada siapa-siapa di sini. Sehari-hari di rumah ini ada 2 PRT yang bertugas bersih-bersih rumah dan memasak, lalu ada satpam yang merangkap tukang kebun." Angkasa menunjuk tiga pegawai rumah tangganya.
"Yuuk, dua jagoan ini siapa yang mau lihat kamarnya duluaan," seru Angkasa bersemangat. Tak lama mereka berlari menaiki tangga mengikuti Angkasa.
"Ini yang nuansa biru kamarnya Cakra, lalu yang nuansanya hijau muda kamarnya Candra. Bagaimana sukaaa?" Angkasa menunjukan dua buah kamar yang mempunyai pintu yang saling terhubung.
"Ratu mau lihat kamarnya sekarang?" Angkasa berbisik sangat dekat di telinga Salma, saat perhatian si kembar teralih pada benda-benda yang ada di kamar mereka.
__ADS_1
...❤️🤍...
Maaf ya, lamaaaa banget ga up karena agak sedikit kurang enak body 🙏😁