Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Perundungan atau merundung


__ADS_3

Salma tersenyum dan mulai mengucapkan dialognya. Rasa grogi karena ditatap banyak pasang mata yang tak menyukainya, membuat ia berulangkali melakukan kesalahan.


"Cut! Lebih rileks sedikit, Mba Salma. Di sini Mba Salma sedang merayu suami, jadi harus lebih manja dan genit," tutur Pak Memet.


"Maaf," cicit Salma untuk yang kesekian kalinya.


"Oke, tenangin diri dulu. Kita break lima menit cukup yaaa," seru Pak Memet pada kru dan pemain lainnya. Sebagian besar meneriakan keluhan tak setuju, karena waktu syuting akan bertambah semakin lama.


"Mau kemana? di sini aja." Angkasa menahan pinggul Salma, ketika wanita itu akan berdiri dari pangkuannya.


"Masih break, Pak."


"Breaknya cuman lima menit, memangnya kamu mau kemana dalam waktu kurang dari lima menit? Kita latihan aja biar nanti lebih lancar," rayu Angkasa.


Salma menggeleng tapi ia menuruti permintaan Angkasa untuk tidak beranjak dari pangkuannya. Ketika ia merasa ada yang memandanginya dari pojok lokasi, Salma kembali terlihat resah.


Angkasa mengikuti arah pandang ujung mata Salma, ia mulai mengerti ketika melihat kelompok para wanita yang melirik kearah mereka dengan pandangan sinis.


"Kamu tidak nyaman dengan mereka?" bisik Angkasa.


"Siapa?"


"Mereka, yang sedang memandangimu sekarang." Angkasa memberi kode dengan ujung matanya.


"Ow, tidak apa. Wajar aja kalau mereka seperti itu, karena mereka menginginkan posisi saya." Salma tersenyum tipis.


"Posisi apa yang kamu maksud? di pangku seperti ini?" Angkasa semakin mempererat rengkuhannya pada pinggang Salma.


"Maksudnya tokoh yang saya perankan, Pak."


Rasa percaya diri Angkasa yang besar membuat Salma tertawa kecil. Pemandangan yang akrab antara Salma dan Angkasa membuat para musuhnya semakin kebakaran jenggot.

__ADS_1


"Kalau kamu sendiri bagaimana? Tidak menginginkan posisi seperti ini?"


"Tentu saya senang dengan posisi peran utama ini." Salma menjawab secara diplomatis, walaupun jantungnya sejak tadi berdebar halus.


"Maksud saya posisi di pangku seperti ini, Salma." Angkasa memandangnya lekat.


Senyum di mulut Salma sontak menghilang. Jika ia menjawab iya, betapa malunya, tapi jika ia menjawab tidak, betapa munafik dirinya.


"Kalau kamu senang dan juga menginginkannya seperti mereka, maka jangan pernah beri kesempatan orang lain untuk merebut posisimu." Salma mengerutkan kening berupaya memahami arti perkataan Angkasa, "Aku lebih senang jika kamu yang duduk di pangkuanku," lanjut Angkasa dengan tatapan yang semakin dalam.


Cukup lama mereka berdua saling bertatapan dengan jarak yang cukup dekat. Tangan Angkasa memeluk pinggang Salma, begitupun juga tangan Salma melingkar di leher Angkasa. Siapapun yang melihat, pasti akan merasa iri dengan keintiman mereka berdua padahal ini di luar adegan. Pak Memet dan para kru pun seperti memberi waktu lebih untuk keduanya.


"Lakukan yang terbaik, Salma. Jangan pedulikan orang di sekelilingmu. Di sini hanya ada kamu dan aku." Angkasa memandangnya lembut tapi sangat lekat.


"Kita mulai yaaa, Mba Salma langsung masuk dialog aja ga perlu ulang dari awal." Asisten Pak Memet memberikan arahan melalui pengeras suara. Mereka segan untuk meminta Angkasa melepaskan tangannya dari pinggang Salma.


Mata Angkasa yang tajam seolah menghipnotis Salma, wanita itu tampak semakin rileks dan menghayati perannya. Tangannya bergelayutan manja di leher Angkasa sebagai Marcel, dan bibirnya semakin lancar mengucapkan dialog rayuan yang menggoda.


Pak Memet pun sepertinya tidak tega memutus kemesraan atasannya, walaupun dialog dan adegan yang mereka tampilkan sudah tidak sesuai dengan skenario yang ada. Pria setengah baya berambut putih itu hanya melempas topinya dan menggaruk-garuk kepalanya sembari mengintip dari balik layar.


Colekan sang asisten di pundaknya, menyadarkan Pak Memet, ia langsung meneriakan kata pamungkas untuk memutus adegan.


"Maaf, Pak tadi sedikit improvisasi biar Salma lebih rileks." Angkasa memberi alasan.


"Tak apa, Pak Asa tadi masih sesuai jalan cerita kok. Bagus improvisasinya, kalau tidak diingatkan durasi oleh Pak Amir bisa saya teruskan sampai malam," kelakar Pak Memet.


Angkasa ingin menanggapi candaan sutradara andalannya, tapi ekor matanya menangkap beberapa wanita yang mengikuti Salma masuk ke dalam ruang istirahat untuk para pemain.


"Oke terima kasih, Pak Memet saya ke toilet dulu." Angkasa menepuk pundak Pak Memet dan langsung mengikuti para wanita itu.


"Bisa ga sih kamu tuh jangan keliatan kegatelan banget?" Terdengar salah satu dari wanita itu berbicara ketika Angkasa merapatkan punggungnya di tembok dekat pintu masuk.

__ADS_1


"Apa lagi? Yang kalian maksud adegan barusan? Itu hanya akting!" Suara Salma terdengar lelah dan emosi.


"Akting itu kalau sesuai skenario, kamu lupa kalau kami juga pegang naskahnya?"


"Yah, kalian tanya aja sendiri sama Pak Asa kenapa dia melenceng dari skenario," ucap Salma santai. Berkali-kali menghadapi perundungan di lokasi syuting, membuat mentalnya terlatih.


Salma tidak terlalu serius meladeni tatapan sinis dan bisik-bisik para wanita itu, ia fokus memperbaiki riasan wajahnya di depan cermin.


"Tapi kamu suka 'kan?" Jane menatap Salma dari balik cermin sembari tersenyum sinis.


"Sukalah, siapa yang ga suka berakting bersama Pak Angkasa dan duduk di pangkuannya dengan mesraaahh." Bukannya merasa tersindir, Salma malah memanasi mereka semua dengan gaya yang dibikin secentil mungkin.


Angkasa menutup mulutnya dengan tangan, agar suara tawanya tidak sampai terdengar di dalam ruangan. Ia senang Salma dapat menangkap apa yang ia sampaikan sesaat sebelum syuting tadi.


"Dasar janda gatel!" Salah seorang wanita yang duduk di sebelah Salma, menendang kursi yang diduduki ibu dari si kembar hingga hampir terjungkal.


"Apa-apaan sih!" Salma segera berdiri dan berpegangan pada meja rias. Wanita yang menendang kursinya tadi ikut berdiri dan maju akan menghimpitnya dengan meja.


Salma mendorong wanita itu dengan sekuat tenaga dan ketika tangan wanita itu melayang akan menampar wajahnya, suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dalam ruangan.


"Permisi, loh ada apa ini?" Angkasa membesarkan mata seolah tampak terkejut, padahal ia sudah tahu yang terjadi sejak awal.


"Tidak ada apa-apa, Pak kami hanya berbincang santai. Tadi ada sedikit salah paham maklum wanita, tapi semua sudah clear kok." Jane tersenyum canggung. Wanita yang akan menampar Salma pun mundur tapi masih dengan wajah yang tegang.


"Ow, saya kira ada apa. Oke lanjutkan saja bincang-bincang santainya, asal jangan anarkis ya. Saya kemari mau ajak calon istri saya makan siang," ujar Angkasa santai.


"Calon istri?" Lima orang wanita di dalam ruangan itu saling berpandangan bingung termasuk Salma.


"Astaga, Sayaaang ga usah pakai akting lagi kamera sudah mati. Ayo buruan aku sudah lapar." Angkasa memasang wajah cemberut dengan tangan terulur ke arah Salma.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2