Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Nikah besok


__ADS_3

Angkasa menggandeng tangan Salma dengan erat dan sesekali meremasnya lembut. Perlakuan manis ini tentu membuat Salma semakin luluh lantak. Tiba-tiba di ambang pintu masuk ke restoran, Angkasa membalikan badan.


"Besok kita nikah, ya?"


"He?"


"Ow, apa terlalu lama? Bagaimana setelah makan malam ini?" Angkasa mengerling menggoda.


"Apaan sih!" Salma memukul lengan Angkasa gemas.


"Aku takut, ternyata kamu kalau marah menakutkan. Kalau kita belum ada ikatan resmi, kamu ngambek bisa tiba-tiba menghilang dan pergi tapi kalau sudah nikah mau ngambek kamu tetap tidurnya di samping aku."


"Iiihhh, semakin ga jelas!" Salma mencubit lengan Angkasa dengan wajah memerah.


Suara dentingan sendok yang di adu dengan piring, menghentikan gurauan mesra mereka berdua.


"Saya kira kalian berdua langsung pesan kamar," celetuk Bimo dengan wajah tanpa senyum. Istrinya yang mendengar ucapan nakal suaminya, mendelikan matanya.

__ADS_1


"Itu juga yang saya mau bicarakan sekarang, Mas." Angkasa terkekeh gugup.


"Apa? Pesan kamar?" Bimo membesarkan matanya.


"Bukan, bukan. Terkait dengan pembicaraan sebelumnya, tentang keinginan saya melamar Salma. Saya sudah membulatkan niat saya untuk meminang, Salma. Di luar kami juga sudah bertukar pendapat dan Sarah setuju juga, kalau kami akan menikah besok. Untuk pestanya nanti bisa menyusul. Semoga Mas Bimo dan Mba Tia merestui niat baik kami."


"Besok?" Tiga orang yang duduk di hadapan mereka saling berpandangan. Sementara Salma kembali mencubit tangan Angkasa di bawah meja.


"Terlalu cepat. Memangnya kamu sudah siap? Menikah itu tidak hanya sekedar kata sah, tapi harus ada berkas pendukung. Maaf, bukannya kami tidak percaya tapi baiknya sesuai prosedur yang ada." Bimo menggelengkan kepalanya tak setuju.


"Sebelum kemari, saya sudah membawa semua berkas yang sekiranya nanti diperlukan, Mas," ucap Angkasa yakin. Ia memang sudah merencanakan ini sejak awal. Tia dan Bimo kembali menggelengkan kepala melihat semangat Angkasa.


"Maaf kalau terkesan memaksa, tapi saya ingin saat kami kembali ke Jakarta Salma sudah menjadi istri saya. Jadi Mba Tia tidak perlu repot-repot menjaga Salma dan si kembar, karena mereka sudah menjadi tanggung jawab saya," ujar Angkasa mantap. Kali ini Bimo menganggukan kepala setuju.


"Kamu bagaimana, Salma. Siap kalau kalian menikah besok?"


Salma menoleh ke arah pria yang duduk di sampingnya. Ia membayangkan jika Angkasa memakai jas lengkap lalu memegang tangan Bimo dan mengucapkan ikrar pernikahannya. Bayangan itu membuatnya tersipu malu.

__ADS_1


"Kalau bisa jangan besok, ada beberapa yang harus dipersiapkan seperti kebaya dan makanan. Kita juga harus mengundang kerabat dan tetangga sekitar. Meskipun pestanya nanti dibuat megah, tapi ini moment penting dan tidak bisa diulang lagi. Bagaimana kalau besok lusa?" usul Tia.


"Iya, besok lusa aja," sahut Salma. Ia teringat ada beberapa hal yang harus ia selesaikan di kota kelahirannya ini.


"Jadi aku harus bersabar lagi, hhmm?" Angkasa berbisik di telinganya saat ia akan turun dari mobil.


"Besok aku mau mengambil beberapa barangku yang tertinggal di rumah lama." Salma mencoba tenang setelah terkena hembusan nafas hangat Angkasa di telinganya.


"Rumah lama? Tempatmu dengan Armand? aku temani, jam berapa?" Angkasa berubah menjadi waspada.


"Iya, tapi sepertinya tidak ada yang tempati karena Mas Armand tinggal di rumah Tania. Boleh kalau mau ikut aku tidak memaksa, pergi sendiri pun aku tidak masalah." Salma tak mau mengatakan kalau rumah Tania berada di seberang rumah lamanya.


"Jangan, perginya sama aku," ucap Angkasa tegas. Membiarkan calon istrinya masuk ke dalam kehidupannya yang lama, sama saja dengan berjalan di atas genangan lumpur yang tebal. Bisa terjebak selamanya.


...❤️🤍...


Lanjut nanti siang ya. Sambil nunggu, mampir ke novel temanku ya

__ADS_1



__ADS_2