Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Anggrek yang direbut


__ADS_3

'Berarti saat itu Mas Armand bohong. Bunga itu ternyata dari Pak Asa, bukan dia yang spesial membawanya untukku,' Salma membatin geram.


Ingatannya melayang ketika sore itu saat Armand melamarnya dengan romantis. Seperti biasa ia sedang mengisi siaran radio dan ia tidak tahu, jika Armand telah merancang dan mengajak semua rekan kerja yang lain untuk membuat moment kejutan untuknya.


Saat itu ia sangat tersentuh dan mendadak jatuh cinta berulang kali, ketika Armand masuk ke dalam ruang siar di mana ia masih bertugas. Armand memintanya menikah dengan disaksikan oleh rekan kerja serta pendengar radionya secara live.


Namun bukan itu yang membuat Salma luluh, tapi satu hal yang tak pernah Armand lakukan adalah membawakan rangkaian bunga untuknya. Jangankan bunga, hanya sekedar hadiah kecil ataupun makan di luar yamg spesial selama mereka berhubungan tidak pernah diberikan Armand untuknya. Armand sejak dulu adalah pria yang pelit dan perhitugan, bodohnya dia mudah terbuai oleh janji manis mantan suaminya itu.


Armand bukanlah orang yang romantis, ia melamar pun tanpa mengucapkan kata-kata yang manis. Kejutannya pun Salma yakin dibantu oleh rekan kerjanya, tapi seikat Anggrek ungu cantik yang dibawa Angkasa untuknya, membuat ia mengangguk dan menerima lamaran Armand tanpa berpikir dua kali.


"Bunganya cantik sekali, cari di mana ini. Bunga jenis ini sepertinya tidak ada di sembarang toko bunga di kota ini." Salma mengusap-usap bunga anggrek yang sudah dirangkai sedemikian rupa.


"Untukmu apa sih yang tidak bisa aku lakukan," ujar Armand kala itu.


Sangking senangnya dan merasa dihargai oleh suaminya, Salma tetap menyimpan bunga itu hingga detik ini. Bunga yang sudah mengering itu disimpannya dalam sebuah pigura kaca, tapi ditinggalnya di rumah lamanya. Melihat bunga itu saat Armand menyakiti dirinya, membuat ia muak dan sempat membenci bunga serta semua yang berwarna ungu.


"Sepertinya lagi mikir harga beras yang naik terus, kerut keningnya kok nambah banyak?"


Celetukan Angkasa menyadarkan dirinya kembali. Ia merasa semakin marah dan kesal telah menikahi pria yang secara tidak langsung sudah menipunya.


"Bunga Anggrek yang Pak Asa bawa dulu bagus sekali, beli di toko mana?"


"Ada karyawanku yang aku minta bawa berkas ke Jogja, jadi sekalian aku minta bawakan rangkaian bunga itu dari Jakarta. Aku sudah keliling kota selama tiga hari mencari bunga yang sesuai bayanganku, tapi ga ketemu," keluh Angkasa mengingat bagaimana dulu ia hampir menyerah ingin memberi kejutan pada wanita yang suaranya membuatnya selalu candu.


"Bapak bawa dari Jakarta?" ulang Salma tak percaya.


"Bukan saya yang bawa, tapi karyawan saya. Loh kamu tahu bunga itu? Aku kira bunga itu sudah dibuang sama security ke tempat sampah."


"Ada saya bawa pulang," ucap Salma sedikit malu.


"Berarti kamu tahu dong kalau bunga itu aku yang bawa. Ada kata-kata puitisnya di sana. Kamu tahu, aku sampai begadang hanya untuk memikirkan kata yang indah untuk kamu loh." Angkasa sangat bersemangat saat mengetahui bunga yang dibawanya sampai ke tangan Salma.

__ADS_1


"A-ada ucapannya?" Salma memandang Angkasa dengan rasa bersalah. Dalam hati ia merutuki mantan suaminya yang telah berbuat curang. Dari sifat dan karakternya yang sudah terkuak, bisa dipastikan Armand telah membuang kartu ucapan dari pengirim aslinya.


"Iya, kamu tidak baca?" Angkasa memandangnya dengan kecewa.


"Mungkin jatuh," ujar Salma pelan. Ia tidak mungkin mengatakan jika mantan suami brengseknya itu yang telah menyerobot pemberian orang lain. Walaupun sekarang sudah berstatus mantan, Salma masih merasa malu di depan Angkasa telah mendapatkan pria seperti Armand.


"Bisa jadi ya, sayang sekali."


Pembicaraan mereka terhenti ketika mobil Angkasa memasuki pekarangan rumah kontrak Salma.


"Sabar ya setelah ini kamu tidak lagi tinggal di sini," ujar Angkasa sembari memandang kesekelilingnya.


Jalan masuk yang becek serta banyak hewan ternak seperti ayam, bebek sampai kambing melintas di dekatnya membuat wajah Angkasa mengkerut geli.


"Kenapa? Aku suka kok. Orangnya di sini ramah-ramah," timpal Salma sembari melambaikan tangan pada tetangganya yang melongok ingin tahu.


Pakaian serta kendaraan yang dibawa Angkasa memang sangat kontras sekali dengan lingkungan tempat tinggal Salma. Kehadirannya selalu mengundang perhatian warga sekitar. Seperti sore ini, para tetangga yang didominasi ibu-ibu berulang kali melintas hanya untuk mengamati wajah sang pengayom artis Ibu Kota.


"Masuk dulu, Pak." Salma menggiring Angkasa masuk ke dalam rumah sebelum tetangganya semakin mendekati mereka.


"Selamat sore, Mba." Angkasa mengangguk penuh hormat pada kakak ipar Salma. Kesan ketus yang diberikan Tia sejak awal bertemu, membuat Angkasa sedikit segan.


"Sore, ada apa ya?"


"Mbaaa," sela Salma. Ia memberikan kode pada kakak iparnya yang mulai membuat benteng pertahanan.


"Hanya ingin berkunjung, Mba sekalian ada yang ingin saya bicarakan."


"Mau bicara sama siapa? Salma, Saya atau Cakra dan Candra?"


Salma berdecak kesal melihat kakak iparnya yang tidak bisa santai menghadapi Angkasa. Ia mengerti kakak iparnya seperti itu, karena memegang amanah tanggung jawab dari Mas Bimo.

__ADS_1


"Sama Mba Tia, kalau sama Salma sudah banyak ngobrol di perjalanan tadi."


Salma bergerak gelisah melihat sikap Tia menghadapi Angkasa. Bimo dan kakak iparnya itu sejak kegagalan pernikahannya dengan Armand, seperti singa yang mengintai jika ada pria yang ingin mendekatinya.


"Salma tolong buatin minum, ya," pinta Mba Tia sembari menatap lurus ke arah Angkasa yang kewalahan menghadapi si kembar yang berebutan ingin duduk di pangkuannya.


"Cakra, Candra, sini!" Salma melambaikan tangan dari ambang pintu dapur.


"Biarkan saja, Salma mereka sedang senang bermain. Pak Angkasa pasti juga tidak keberatan dekat dengan si kembar," timpal Tia dengan senyuman penuh arti.


"Ya, tidak apa-apa."


Salma menggelengkan kepalanya, ia paham sekali dengan maksud Mba Tia. Tidak semua orang bisa sabar menghadapi dua balita kembar berjenis kelamin laki-laki. Cakra dan Candra yang semakin lincah terkadang usil menjahili siapa saja yang dekat dengan mereka.


"Mau bicara apa?" tanya Tia. Ia menahan senyum melihat Angkasa yang semakin kerepotan meladeni si kembar yang mencari perhatiannya, "Cakra, Candra, duduk yang sopan ya, Nak," titah Tia. Serempak kedua bocah kembar itu turun dari pangkuan Angkasa.


"Ehm, saya ... ingin menjalin hubungan yang serius dengan Salma," ujar Angkasa. Dipandangnya kakak ipar Salma, wanita itu tak memberikan reaksi apapun. Tatapannya lurus tertuju padanya, seakan masih menunggu kalimat selanjutnya.


"Kalau tidak ada halangan, saya ingin ke Jogja menemui Mas Bimo dan meminta langsung pada beliau," tambah Angkasa.


"Mmm." Tia hanya menggumam pelan.


"Mba, jangan galak-galak gitu dong." Salma masuk ke dalam ruang tamu dengan minuman di atas nampan.


"Masa aku galak. Apa iya, saya galak Pak Angkasa?"


"Ow, tidak sama sekali." Angkasa tersenyum lebar.


Padahal jika mau jujur, dulu waktu ia melamar Debby, suasananya tidak seseram ini. Keluarga Debby menyambutnya dengan tangan terbuka, bahkan menjamunya bak raja. Mungkin saat itu status serta harta yang membuatnya demikian, tapi mengapa keluarga Salma sama sekali tidak terpengaruh?


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2