Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Kenangan


__ADS_3

"Kamu yakin mau ikut?" Angkasa bertanya sekali lagi.


"Aku boleh ikut ga sih, kok ditanya terus. Kalau ga boleh ikut tidak apa juga." Salma menaruh kembali satu kardus terakhir yang tadinya akan dibawanya ke mobil Angkasa dengan kesal.


"Loh, loh, aku hanya memastikan saja. Ya jelas boleh, malah aku ingin kamu ikut. Aku cuman ga mau kamu merasa tidak nyaman di sana nanti."


"Sejak awal menikah 'kan Mas Asa sendiri yang janji mau ajak aku ke rumah orangtua Mba Debby."


"Iya, iyaaa. Sudah biar ini aku yang angkat, berat loh kamu kok maksain angkat sih tadi?" Angkasa mengomel sembari mengambil alih kardus terakhir dari ruang berpintu coklat dan membawanya masuk ke dalam mobil


Mereka sedang berkemas membawa semua barang milik Debby untuk dipindahkan ke rumah orangtuanya.


"Kamu siap?" Angkasa menoleh dan bertanya lagi setelah mereka berdua duduk di dalam mobil.


"Tanya terus! Aku turun nih."


"Iyaaa, iyaaa. Oke kita meluncur sekarang."


Sesekali Angkasa melirik istrinya yang masih memanyunkan bibirnya. Sejak malam itu, suasana hati Salma gampang mudah tersinggung dan salah paham.


"Okeee, kita sudah sampai." Angkasa menepikan mobilnya di depan rumah berwarna coklat dengan halaman yang sangat luas. Rumah itu terlihat hangat dari luar, seolah mencerminkan si pemilik hunian.


Salma tercenung di depan rumah orangtua Debby. Seketika ia merasa kecil dan rendah diri. Jelas Debby bukan berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Sejak semula Debby anak dari seorang yang lebih dari cukup ekonominya. Sangat serasi dengan Angkasa.


"Hayo, mikir apa lagi?" Angkasa dengan kardus di tangannya menyelidik raut wajah istrinya. Salma mendesah gemas merasa terlalu diintimidasi. Ia lalu beralih pada bagasi mobil hendak mengambil sebuah kardus lainnya untuk membantu Angkasa.


"E ... Eee ... Mau apa kamu?"


"Mau angkat ke dalam."


"Jangan, biar aku sama Pak Supri aja yang angkat semua. Kamu masuk," titah Angkasa tegas.


"Mau nolongin aja ga boleh. Buat apa aku ikut?" Salma melengos lalu berjalan mendahului Angkasa.


Angkasa ternganga heran, 'Lah, perasaan dia yang ngotot minta ikut.'


"Sudah sampai kalian." Ibu Ida, Mama Debby menyambut mantan menantunya dan istrinya dengan seulas senyum tipis.

__ADS_1


Salma membiarkan Angkasa masuk terlebih dulu. Ini kali pertama ia bertemu dengan orangtua dari istri Angkasa yang pertama. Salma melihat Mamanya Debby masih begitu menyayangi Angkasa. Wanita tua itu memeluk dengan erat dan mencium kening serta kedua pipi Angkasa seolah pria itu anak kandungnya sendiri. Angkasa pun seolah tidak canggung diperlakukan seperti itu. Suaminya tampak senang dan begitu menghormati mantan mertuanya.


"Bagaimana kabarmu? Sehat?"


"Sehat, Bu. Ibu sehat? Kakinya bagaimana, masih suka nyeri?"


"Sehat, Nak. Kalau malam saja sering kumat karena dingin."


"Nanti Asa antar Ibu kontrol."


"Tidak usah, ada Ira yang temani Ibu sekarang. Lagipula kamu sudah ada istri, tidak baik sering ditinggal sendiri." Pandangan Bu Ida beralih kearah Salma yang berada di belakang suaminya.


"Oh ya, kenalin Bu ini Salma, istri Asa. Dia ini yang maksa cepat main kesini." Salma melirik suaminya dengan mata membesar.


Salma mencium tangan Bu Ida, tapi langsung tertunduk lagi. Ia tak kuasa menatap mata Mamanya Debby yang menatapnya lekat.


"Kardusnya ini langsung saya bawa ke belakang ya, Bu."


"Oh, ya. Taruh saja di sana." Untunglah Angkasa memutus tautan mata mertuanya. Bu Ida mengikuti mantan menantunya ke ruangan yang ia buat khusus untuk menyimpan barang-barang peninggalan almarhumah putrinya.


Bertumpuk-tumpuk kardus bermacam ukuran sudah berpindah dari mobil Angkasa ke dalam rumah Bu Ida.


"Ya, Bu?" sahut Angkasa menghampiri ke dalam.


"Bukan Nak Asa, tapi istrimu. Siapa tadi namanya?"


"Salma?"


"Iya, Nak Salma. Tolong panggilkan kemari."


Angkasa mengangguk ragu, "I-iya, Bu sebentar." Angkasa lalu menghampiri istrinya yang sedang duduk di teras menunggunya lalu berkata dengan sangat hati-hati, "Kamu dipanggil ibunya Debby."


"Aku?" Salma menunjuk dadanya sendiri.


"Kalau kamu tidak mau menemuinya, tidak apa-apa nanti aku sampaikan."


"Jangan ah, nanti dikira tidak sopan."

__ADS_1


"Kamu yakin?" tanya Angkasa begitu Salma berdiri dari duduknya.


"Kenapa Mas Asa khawatir? Apa ibunya Debby itu galak sekali?"


"Gak. Aku cuman tidak mau kamu merasa terpaksa."


"Aku ga terpaksa kok."


Salma berjalan masuk ke dalam rumah. Sejujurnya ia terpaksa dan sangat khawatir perlakuan dan perkataan Ibunya Debby menyakitkan hatinya. Namun demi menjaga nama baik suaminya, ia ingin memberikan citra baik agar Angkasa tidak dikatakan salah memilih istri.


"Permisi, Ibu panggil saya?"


"Nak Salma, sini." Bu Ida memanggilnya dari sela tumpukan kardus, "Ini masih sangat bagus, kamu cocok pakai ini. Ini juga, pasti cantik kalau Nak Salma yang pakai."


Bu Ida mengeluarkan gaun, sepatu, hiasan rambut dan segala pernak-pernik milik almarhum putrinya dan menempelkannya pada tubuh Salma, "Nah, pas kan. Bagus loh."


"Bu ... Bu, jangan seperti ini." Salma menolak tak enak.


"Kenapa, kamu tidak suka yang Ibu pilihkan? Nak Salma boleh kok pilih yang disuka, ambil saja. Debby pasti juga senang kalau Nak Salma yang memiliki semua barang-barangnya." Bu Ida mengatakan itu dengan antusias.


"Bu, maaf bukannya saya tidak menghargai, tapi sebaiknya Ibu yang menyimpan semua barang milik Mba Debby." Salma dengan lembut dan halus mengembalikan semua barang ke tempatnya semula.


Mama Debby memandang istri Angkasa itu dengan raut wajah kecewa. Angkasa yang merasa suasana mulai tidak enak, ikut masuk ke dalam ruangan.


"Bu, katanya barang Debby akan di donasikan di rumah lelang untuk pembangunan rumah singgah penderita kanker?"


"Iya, tapi Ibu ingin barang Debby dimiliki oleh orang yang Ibu kenal," ucap Bu Ida sedih.


"Barang milik Debby ini akan jauh lebih berguna dan berarti jika dimiliki orang yang bisa menggunakan dan merawatnya dengan baik. Ibu harus ikhlas." Tangan Angkasa mengusap-usap pundak mertuanya.


"Nak Salma tidak suka dengan barang milik Debby? Kalau ada yang di suka ambil saja, Ibu lebih senang kalau Nak Salma yang memiliki ini semua." Bu Ida masih mencoba merayu Salma.


Salma dan Angkasa saling pandang. Angkasa tak mengatakan apapun, ia membiarkan istrinya mengambil keputusannya sendiri.


"Saya suka, Mba Debby orangnya punya selera tinggi. Semua barang miliknya bagus dan mahal, tapi orang-orang yang membutuhkan rumah singgah akan jauh lebih membutuhkan hasil dari lelang barang milik Mba Debby dari pada hanya tergantung di lemari dan tidak tahu kapan bisa saya gunakan. Tapi kalau boleh, saya ingin meminta ini untuk saya bawa pulang." Salma meraih jepit rambut kecil yang cantik tapi terkesan mewah, sebelum wajah Mamanya Debby mengkerut kecewa lagi.


"Boleh, bawa saja. Sini Ibu pakaikan." Mata Bu Ida berkaca saat menyematkan jepit ke rambut Salma.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2