
"Lihat dia, aku curiga dia ada hati sama kamu." Tia mengamati Angkasa yang sedang mengantri untuk memesan makanan bersama dengan si kembar. Sesekali tiga pria beda usia itu bersenda gurau di depan meja kasir.
Salma tidak berani menjawab, sebenarnya ia pun merasakan hal yang sama tapi takut berharap terlalu tinggi.
"Andaikan dia benar serius, kamu gimana?" Tia memandang adik iparnya. Ia tahu baik Angkasa dan Salma masing-masing ada ketertarikan. Namun yang menjadi keraguannya adalah wanita di sekeliling pria itu tidak main-main cantik dan populernya. Tia tidak mau adik iparnya mengalami patah hati untuk yang kedua kalinya.
"Mana mungkin." Salma tertawa palsu. Pertanyaan kakak iparnya tadi sempat menambah cepat detak jantungnya.
"Aku bilang 'kan andaikan."
"Menurut Mba Tia?" Salma tertunduk malu.
"Hehehe, benar ternyata kamu suka sama dia." Tia tertawa senang, pancingannya kena sasaran.
"Ga lucu ah." Bibir Salma mengkerucut, tangannya sudah siap mencubit kakak iparnya.
"Aku pesan ini, semoga sesuai selera." Tangan Salma yang sudah terangkat, turun kembali ketika Angkasa dan si kembar mendekati mereka.
"Terima kasih, yang penting anak-anak suka. Kita juga suka kok." Bibir Tia masih tersisa senyuman hasil dari menggoda Salma. Angkasa yang sebelumnya selalu mendapat reaksi dan respon judes dari Kakak ipar Salma, langsung bersorak dalam hati.
"Pacar Pak Angkasa ga cemburu nih, kalau lihat makan sama cewek sepert ini?" Tia mulai mengulur umpannya.
"Pacar? siapa?"
"Biasa kalau orang terkenal, pasangan resmi pasti disembunyikan. Jalannya sama siapa, nikahnya sama siapa. Tahu-tahu nanti ramai di media sosial berita pernikahan." Tia terus megulur umpannya. Tak ada ikatan kerja dan hubungan apapun, membuat dia ringan menyampaikan apapun.
"Pasangan resmi siapa, Mba? Aduh, ada berita apa nih di media sosial tentang saya, kok saya malah ga tahu." Angkasa sudah mulai gelisah.
"Loh, saya ga tahu siapa pacarnya. Kenalin, bawa ke publik biar ga pada salah paham. Kalau terlalu baik nanti banyak cewek baper semua." Tia menertawakan reaksi Angkasa yang salah tingkah. Ia juga mengabaikan kaki Salma yang menendang-nendang di bawah meja.
"Hehehe, benar juga." Angkasa tertawa kecil dengan kepala terangguk-angguk membenarkan ucapan Tia. Melihat itu sebersit rasa kecewa dan takut kehilangan muncul di hati Salma.
Makan malam itu dilalui Salma dengan perasaan yang tidak nyaman. Susah payah ia mengimbangi keceriaan Angkasa. Semakin pria itu nampak bahagia, semakin curiga dan perih hatinya.
Hari-harinya menyelesaikan syuting semakin terasa berat. Angkasa yang terlalu baik dan ramah pada siapapun, baik itu pria dan wanita membuat Salma tidak dapat menebak siapa wanita yang dimaksud Angkasa.
"Mba ... Mba Salma." Tepukan ringan di pundaknya menyadarkannya dari lamunan.
__ADS_1
"Iya, Mba kenapa?"
"Sudah mulai take di lokasi kedua."
"Oh ya, terima kasih." Salma berjalan menuju ke lokasi syuting tanpa semangat. Beberapa hari ini, melihat senyuman Angkasa yang semakin lebar, membuat pikirannya kemana-mana.
Seperti biasa, keberadaan Angkasa di lokasi syuting bagai gula yang mengundang semut. Di mana ada Angkasa disitu para wanita berkumpul berusaha menarik perhatiannya.
Belum terlihat sosoknya, suara bariton diiringi cekikikan para wanita genit sudah terdengar di ujung koridor. Malas rasanya Salma melewati jalan itu, mata para wanita di sana seolah mengatakan 'Hei lihatlah, tidak hanya kamu yang bisa dekat dengan Pak Angkasa, jadi jangan besar kepala!'
Suara sepatu beradu dengan lantai, membuat para wanita dan Angkasa menoleh kearahnya. Salma terus menunduk, berpura-pura fokus dengan telepon genggamnya. Suara kasak-kusuk mulai terdengar, Salma bertahan untuk tidak mengangkat kepalanya.
"Salma, sudah mau ke lokasi?" tegur Angkasa.
"Eh, iya." Tak terasa begitu mengangkat kepala, ia sudah hampir melewati wanita yang mengerumuni Angkasa.
"Kita sama-sama." Angkasa berdiri dari duduknya lalu berjalan mengiringi Salma.
"Pak, kok kita ditinggal." Suara centil dan manja memanggil dari salah satu wanita di belakang.
"Permisi, Pak Angkasa silahkan bersiap di posisi." Asisten Pak Memet dengan sopan mempersilahkan Angkasa. Perlakuan khusus memang ditujukan hanya untuk dia seorang.
Angkasa membaca naskah dengan senyum terkembang, lambat laun senyumnya meredup berganti dengan kerutan di kening.
"Pak Memet, sini sebentar." Angkasa menggerakan jari telunjuknya memanggil sutradara andalannya.
"Iya, Pak ada kendala?"
"Adegan ini, Pak sepertinya ada yang kurang pas." Kening Angkasa semakin berkerut ditambah ia menggosok-gosok dagunya.
Pak Memet mengambil naskah dari tangan bosnya lalu membaca dengan seksama. Berulang kali ia baca tapi tidak menemukan kejanggalan, "Yang mana ya, Pak?"
"Yang ini, coba kamu baca narasinya 'Marcel menggenggam tangan Nabila, matanya menatap syahdu wajah ayu yang terkena sinar rembulan. Lalu ia bertanya, kamu sungguh mau menikah denganku? Nabila mengangguk dengan senyum dan mata berkaca. Marcel memeluk erat dan mengecup kening Nabila sambil mengucapkan aku mencintaimu." Angkasa membacakan narasi pengantar adegan dengan penuh penekanan.
"Iya, benar seperti itu. Lalu bagian mana yang kurang pas, Pak?"
"Pak Memet, ini adegan penting proses Marcel melamar Nabila, benar?"
__ADS_1
"Benar." Pak Memet masih memandang bosnya bingung.
"Jadi harus lebih berkesan dan romantis, yang membuat penonton terharu dan tak bisa melupakan adegan ini."
"Seperti apa itu, Pak?" Pak Memet menggaruk kepalanya semakin bingung.
"Kok seperti apa, yang sutradara 'kan bukan saya. Begini, begini Pak Memet dulu waktu melamar istrinya bagaimana?"
"Saya dulu waktu melamar ibunya anak-anak, datang ke rumah sama keluarga bawa seserahan isinya kue, gaun, sepatu, uang, pakaian da---"
"Bukan, bukan itu maksud saya. Maksudnya itu waktu Pak Memet berduaan dengan calon istri dan meminta untuk menikah, apa yang terjadi." Angkasa semakin tidak sabar dan emosi.
Pak Memet berpikir sebentar, lalu menjawab dengan ragu, "Ga terjadi apa-apa, Pak."
"Begini, saya mau adegan ditambah," ujar Angkasa tegas.
"Ditambah apa dan di bagian apa, Pak?"
"Di sini, sesudah Nabila mengangguk dan tersenyum ... Lalu cium." Wajah Angkasa merah padam, tapi ia masih berusaha tetap tampil tenang dan berwibawa.
"Cium? Ini sudah ada, cium kening." Pak Memet menunjuk tulisan di atas naskah.
"Bukan itu, coret saja. Cium bibir," lanjut Angkasa cepat sebelum keberaniannya hilang.
...❤️🤍...
Hai mampir yuk ke novel tamatku yang lain. Judulnya : CEO dingin kau Milikku
“I Love You Alexander!” teriak Hanum pada pria tampan yang sedang menggiring bola basket saat pertandingan persahabatan di sekolahnya. Kejadian itu membuatnya jadi bahan tertawaan semua siswa di sekolah, karena ia yang kuno dan berpenampilan norak serta tidak menarik, berani menyatakan cinta pada Alexander, seorang pria tampan pewaris perusahaan property terbesar di daerahnya.
“Apa kelebihanmu selain produksi minyak di wajahmu dan tumpukan lemak yang berlebihan?”
“Alexander, aku pastikan semua bayi yang aku lahirkan nanti akan memanggilmu Papa,” tekad Hanum.
Bukan Hanum namanya, jika tidak bisa membuat Alexander Putra, CEO yang dingin bertekuk lutut di hadapannya.
__ADS_1