Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Ambisi


__ADS_3

Jane meremas dan mencabik-cabik tissue di tangannya saat ia teringat lagi, bagaimana Angkasa berlutut di bawah kaki Salma.


"Jane, lu kenapa ga makan?" tegur Winda, model bermata sipit.


"Dia masih kesal ditikung temannya," celetuk yang lain.


"Siapa temanku? Orang dari kampung itu? Ga level dong, jangan sam-samakan aku dengan dia deh!" Dengan gerakan kasar ia mengambil sendok lalu menyuapkan makanan yang sejak tadi tersaji di hadapannya.


Ia mengacuhkan celetukan dan tawa geli teman-temannya yang menertawakan sikapnya. Hampir semua kawannya tahu ia mengincar Angkasa. Selama ini juga ia berkoar-koar dengan sangat yakin, kalau orang nomer satu di Asa Production itu akan jatuh ke dalam pelukannya.


Sejauh ini ia tak pernah gagal membuat seorang pria luluh oleh pesona dan rayuannya. Ia akui, Angkasa cukup sulit untuk ditaklukan. Namun baginya itu bukanlah hal sulit, ia hanya butuh waktu.


Jika perempuan lainnya hanya sekedar iseng dan menjadikan sebuah pertandingan dalam hal mengejar pria berdompet tebal termasuk Angkasa, tapi tidak untuk Jane. Ia menargetkan Angkasa sejak awal bertemu pria itu saat menjadi pemain figuran.


Namun lihat sekarang, Angkasa melamar seorang wanita yang tidak ada seujung kuku penampilannya jika dibandingkan dirinya. Saat menjadi finalis konten kreator, ia pulalah yang memoles wajah wanita itu agar tampil lebih menarik. Wanita itu juga seorang janda dengan dua anak, bagaimana bisa ia yang masih lajang kalah dengan seorang janda!


"Huh!" Jane menghempaskan sendok dari tangannya. Nafsu makannya hilang seketika.


"Sabar, Jane. Barangkali itu hanya gimmick supaya film laris. Biasa seperti itu 'kan?" Angel mencoba menghibur kawannya yang terlihat frustasi.


"Kalau settingan kenapa kita tidak ada yang tahu, biasanya juga semua pemain di kasih tahu!" Suara Jane terdengar emosi.


"Yaah, kita lihat saja nanti. Lagian ya sudahlah kalau Pak Asa jadian sama Salma, yang kejar-kejar kamu masih banyak, Jane," ujar Winda santai.


"Kalau perempuan itu sebanding, seperti Putri Indonesia, artis papan atas atau penyanyi kondang aku ikhlas, aku ikhlaasss Win! Tapi ini Salma, perempuan yang ... aahh!" Jane kembali *******-***** tissu hingga menjadi serpihan.


"Salma cantik kok," sahut Okta tanpa merasa bersalah.


"Dia janda! Dari kampung! Udah punya buntut!" seru Jane emosi. Semua kawannya terdiam.


Baru ini mereka melihat sisi Jane yang mengerikan. Tak hanya teman-temanya yang tercengang, tamu di restoran yang duduk di sekitar meja makan mereka pun langsung menoleh terkejut.


"Mereka masih belum nikah, Jane. Paling juga hubungan musiman selama film kita ditayangkan. Setidaknya kita juga akan dapat untung, kalau rating film naik karena gosip mereka," ucap Angel menenangkan kawannya.

__ADS_1


Semua stasiun televisi menayangkan moment, di mana Angkasa melamar Salma saat pemutaran perdana film mereka. Hal itu memancing keributan di rumah tangga Armand dan Tania.


"Aku mau pulang!" seru Tania.


"Pulang saja kamu." Armand berjalan keluar sembari mengambil rokoknya. Kegiatan favoritnya jika di rumah kontrakannya. Duduk di teras dengan kaos dalam dan celana kolor, lalu menghabiskan berbatang-batang rokok.


"Ya sama kamu dong, masa aku pulang sendiri." Tak puas dengan jawaban Armand yang terkesan tak acuh, Tania menyusul suaminya ke teras.


"Aku masih ada urusan," sahut Armand sembari mengebulkan asap rokok.


"Urusan apa kamu di sini? Mengejar Salma? Buka matamu, dia sudah mau menikah!" seru Tania kasar. Rasa cemburunya menjadi-jadi.


"Kamu kira aku buta! Tak perlu kamu ajari aku!" Tak kalah kerasnya Armand berteriak tanpa malu dengan mata tetangga yang mengamati mereka.


Demi menghemat pengeluaran, Armand dan Tania menyewa sepetak rumah kontrakan yang berdempetan dengan tetangga. Dengan keadaan Armand yang tanpa malu hampir setengah telanjang tiap merokok di teras, jelas para tetangga dapat melihatnya karena tembok dan pagar pemisah yang sangat pendek.


"Ibumu minta kita cepat pulang, dia kelelahan menjaga Gaby sendirian," ucap Tania dengan suara lebih merendah.


"Gaby juga anakmu, Mas!" Emosi Tania kembali tersulut.


"Yang bilang dia anaknya orang lain juga siapa, kecuali kamu pernah jual diri mana aku tahu," ujar Armand santai sembari mengebulkan asap rokok ke langit-langit.


"Keparat kamu, Mas!"


"Hati-hati dengan mulutmu busukmu, Tania. Aku suamimu!" kecam Armand sembari mengacungkan batang rokoknya ke wajah istrinya.


"Pokoknya kita harus segera pulang, ingat kamu punya anak yang harus diperhatikan."


"Aku juga punya dua anak di sini."


"Anakmu di sini tak menginginkanmu. Kenal kamu saja tidak."


"Maka itu aku harus berusaha."

__ADS_1


"Alasan! Bilang aja masih mengejar Salma."


"Itu kamu sudah tahu." Armand tertawa mengejek, "Bisalah kamu bilang tantemu yang mantan mertua pria sombong itu untuk melarangnya menikah," pinta Armand.


"Ga bisa, keluarga sepupu aku sudah ikhlas Angkasa menikah lagi, mungkin asal duit bulanan lancar aja."


"Aahh!, cari cara lainlah."


"Malas! Mantan itu dibuang, Mas ngapain mau dipungut lagi. Orangnya juga sudah ga bakalan mau sama kamu." Tania terus menggerutu sembari berjalan masuk ke dalam rumah..Ia sudah tak berani berdebat lagi dengan Armand tentang Salma.


Armand membiarkan istrinya mengomel hingga tak terdengar lagi. Ia hembuskan asap rokok tinggi hingga ke langit-langit teras, sambil melamun. Entah apa yang membuatnya menginginkan Salma lagi. Dulu dengan ringannya ia melepas mantan istrinya itu, tapi setelah jauh dari jangkauannya ia ingin Salma kembali dekat.


Bukannya ia tidak puas dengan istri barunya. Secara kepuasan di ranjang, Tania ratunya. Segi ekonomipun, Tania tak segan-segan turun tangan. Pekerjaan rumah apalagi memasak, Tania tak perlu diragukan karena dapur adalah dunianya. Tapi mengapa, ia masih menginginkan Salma?


Ia tidak rela tubuh yang pernah ia peluk setiap malamnya, akan dipeluk pria lain. Tatapan penuh cinta yang selalu tertuju untuknya, sekarang menatap wajah pria lain. Kepala yang tertunduk setiap berbicara dengannya, sekarang terangkat dengan anggun menatap ribuan orang. Armand menginginkan itu semua hanya untuknya!


"Kamu punyaku, Salma ... harus kembali menjadi milikku!" Armand meremas sisa puntung rokok yang masih menyala.


Berbeda jauh dengan dua situasi sebelumnya, Angkasa dan Salma sedang menikmati masa-masa manis mereka.


"Jadi sekarang kita sudah jadian?" tanya Salma memastikan.


"Bukan jadian, itu istilah pacaran. Aku ga suka. Lebih pantas disebut tunangan, karena kita sedang menuju jenjang pernikahan."


"Tunangan itu jika disaksikan dua keluarga."


"Loh, yang menyaksikan aku melamar kamu ga hanya sekedar dua keluarga loh. Hampir seluruh Indonesia turut menyaksikan."


"Jangan lawak deh, Pak. Saya masih belum menganggap Pak Angkasa serius kalau belum bertemu dan meminta secara resmi ke Kakak saya."


Di kepala Armand langsung terbayang Bimo yang berperawakan tinggi besar dengan janggut dan kumis yang lebat, sedang menatapnya garang.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2