Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Daahhhh


__ADS_3

"Tuuh, benar 'kan." Mba Tia tersenyum senang. Baru pertama kali ini Angkasa melihat kakak ipar Salma memberikannya senyuman sejak pertama kali mereka bertemu. Ketegangan di ruang tamu itu seketika mencair, "Kapan Pak Asa mau datang ke Jogja? saya hanya sebagai kakak ipar Salma, yang lebih berhak memutuskan segalanya tentang Salma hanya kakaknya," lanjut Tia.


"Secepatnya, besok juga boleh."


"Mmm, saya suka semangatmu. Semoga semangat Pak Asa sejalan dengan keseriusannya ya," ucap Tia penuh arti yang membuat keberanian Angkasa sedikit menciut.


Angkasa benar menepati janjinya. Sepulang dari rumah Salma ia segera mengumpulkan orang kepercayaannya di perusahaan termasuk Emran, dan mendelegasikan semua pekerjaannya yang masih menggantung.


"Kok mendadak sih? Sudah sore lagi. Ga biasa kamu seperti ini, memangnya mau kemana?" Emran berbisik di tengah riuh kepala divisi yang kelabakan menerima limpahan tugas dari Angkasa.


"Jogja," ucap Angkasa sembari memilah-milah dokumen yang akan diberikan ke sekretarisnya.


"Jogja aja sampai seperti ini. Aku kira mau ke luar negeri."


"Mungkin lanjut sekalian bulan madu," sahut Angkasa ringan.


"Heeee?? Bulan madu sama siapa?" Emran menutup map di hadapan Angkasa, agar perhatian kawannya itu tertuju padanya.


"Sama istrikulah." Angkasa tersenyum sangat lebar membuat Emran agak kesal.


"Kapan nikahnyaaaa?"


"Besok rencana aku ke Jogja ketemu sama kakaknya Salma, kalau semua lancar bisa langsung nikah lanjut bulan madu."


Emran menatap kawannya itu dengan mulut terbuka. Ia merasa sejak jatuh cinta dengan Salma, Angkasa seperti kehilangan kewarasannya.


"Secepat itu?" tanya Emran tak percaya.


"Kalau bisa cepat kenapa harus dilama-lamain? Aku dan Salma bukan remaja lagi, untuk apa pacaran kayak anak ABG aja."


"Memangnya sudah yakin diterima lamaranmu sama kakaknya Salma?"


"Harus yakin," ujar Angkasa tegas.


"Kamu mau nikah di Jogja? Kenapa tidak di Jakarta? Kolega dan keluarga besarmu ada di sini, apa kata media nanti kalau kalian nikah di sana mendadak pula."


"Urusan nantilah itu. Bisa juga resepsinya di Jakarta yang penting sah dulu."

__ADS_1


"Kalau pikiranmu seperti itu, sudah jelas kamu ... Nafsu!" Emran langsung berkelit ketika bolpoin yang dipegang Angkasa melayang kearahnya.


Esok harinya Angkasa, Salma dan si kembar serta kakak iparnya sudah berada di bandara siap terbang ke kota yang terkenal dengan kuliner gudegnya.


Wajah Angkasa sangat cerah, bersemangat sekaligus tegang. Tia, kakak iparnya Salma sejak tadi memandangnya sangat lekat seolah ingin menilai dirinya sampai ke lapisan kulit terdalam.


"Cakra sama Candra nanti di pesawat duduk sama Om, ya," ujar Mba Tia saat mereka sedang dalam ruang tunggu penerbangan.


"Jangan, Mba biar duduk sama aku aja. Si kembar ga bisa diam, kasihan Pak Asa." Salma tak setuju karena tahu kalau dua bocah kembarnya ini sedang aktif-aktifnya.


"Terus duduk sama siapa? Kalau si kembar sama kamu, berarti aku yang duduk sama Pak Asa dong. Kalau si kembar duduknya sama aku, itu berarti kamu duduk berdua dengan Pak Asa. Tidak boleh, kalian belum sah kursi di pesawat itu terlalu dekat jaraknya."


"Tapi ga enak dong, Cakra sama Candra Mba tahu sendiri tingkahnya bagaimana." Salma berbisik walaupun kakak iparnya itu berbicara cukup keras untuk di dengar Angkasa yang duduk di hadapan mereka.


"Pilihanya cuman itu tadi, si kembar duduk sama aku, kamu atau Pak Asa." Mba Tia menunjukan lima nomer kursi pesawat pada Salma.


Salma memperhatikan lima nomer bangku yang berjejeran. Tiap lajur hanya berisi tiga kursi, benar kata Mba Tia ini pilihan yang sulit.


"Si kembar biar duduk sama aku saja, tidak apa. Bangku kita hanya dipisahkan lorong kecil saja, bukan beda pesawat." Angkasa sejak tadi sudah mendengar perdebatan mereka menengahi. Baginya mengatasi dua anak kembar dalam penerbangan selama satu jam lebih sedikit hanyalah masalah kecil, tidak ada apa-apanya dibanding kebahagiaannya hari ini.


"Tidak apa, Salma lagipula setelah ini mereka juga anakku." Ucapan Angkasa itu membuat Salma tersipu malu.


Harapan tinggal harapan. Bayangan Angkasa setelah si kembar ia belikan banyak makanan kecil serta beragam mainan, dua bocah itu akan duduk diam di dalam pesawat.


"Om, Cakla mau pipis." Baru sepuluh menit pesawat di udara, Cakra berbisik di telinga Angkasa.


"Mau kemana?" tanya Salma melihat Cakra dan Angkasa berdiri dari kursinya.


"Pipis," ucap Angkasa dengan gerakan bibir.


"Biar aku yang antar." Salma hendak melepas sabuk pengamannya.


"Ga mau. Cakla sama Om aja, Mama ga boleh ikut itu toilet cowok."


Salma yang sudah setengah berdiri kembali duduk. Senyum Angkasa masih lebar dan semangat mengantar Cakra ke toilet.


Namun senyum itu semakin pudar, ketika Cakra dan Candra berulangkali minta diantar buang air kecil. Tak hanya itu, dua bocah itu tak membiarkannya tenang sedikit. Si kembar selalu berebutan bertanya semua hal yang dilihatnya di balik jendela pesawat.

__ADS_1


Belum lagi keduanya sering berdiri di bangku, sehingga mengganggu penumpang yang duduk di bangku belakang.


"Maaf ya, Mba," ucap Angkasa berulangkali pada wanita di belakang kursinya.


"Ga apa-apa, Mas anaknya lucu." Walaupun terganggu wanita itu tetap tersenyum dan mencoba mengajak si kembar bercanda, tapi di mata Salma wanita itu terlihat ingin menggoda Angkasa bukan anaknya.


"Namanya siapa adek?" Wanita itu memajukan duduknya hingga menempel pada senderan bangku Angkasa.


"Cakla."


"Candla."


"Lucu dan ganteng banget deh, mirip Papanya." Wanita itu mencubit gemas salah satu pipi si kembar, membuat keduanya terkikik geli termasuk juga Angkasa.


Merasa berhasil mencairkan suasana, wanita itu terus mengajak ngobrol si kembar dan Angkasa. Tanpa Angkasa tahu, ibu dari si kembar memandangnya tak suka.


"Sampai ketemu cowok-cowok ganteng, daaahhh." Wanita itu melambaikan tangannya pada si kembar sesaat setelah turun dari pesawat.


"Daaahhh." Cakra dan Candra membalas lambaian tangan wanita itu, termasuk juga Angkasa walaupun ia tak ada niat apapun.


"Langsung ke rumah atau cari makan dulu?" tanya Angkasa dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.


"Pulang." Salma menjawab dengan singkat dan ketus.


"Okey, nanti kita pesan makan dari rumah kamu aja ya, biar tidak merepotkan kakakmu." Angkasa masih mengembangkan senyumnya.


"Terserah."


"Udara dj Jogja segar sekali ya, beda dengan di Jakarta." Angkasa mengangkat kedua tangannya, menarik nafas dalam-dalam dengan senyum yang tak mau lepas dari bibirnya.


"Biasa, sama aja. Mungkin bagi Pak Asa beda terasa lebih segar ya?" Salma melirik sinis.


"Iya, mungkin karena bisa libur dari tekanan kerja sebentar, rasanya nyaman sekali." Senyum Angkasa semakin lebar dan membuat Salma semakin muak.


"Bukannya segar karena habis dapat vitamin, daaahhh." Salma melambaikan tangan meniru si wanita tadi, tapi sebelum Angkasa mengelak Salma sudah meninggalkannya menuju mobil yang menjemput mereka.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2