Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Pesta karyawan


__ADS_3

"Meriah seperti ini kok dibubarkan, gimana sih kamu. Nanti dulu," ujar Angkasa mengibaskan tangan, sembari berjalan cepat menuju istrinya yang melambaikan tangan ke arahnya. Ia jelas melihat Emran mengejeknya dengan senyum menyeringai, tapi ia malas menanggapi kawannya itu, karena tahu pertanyaan yang dilontarkan hanya untuk menyindirnya.


"Kenapa, Sayang?" bisik Angkasa saat sudah duduk berada di dekat istrinya.


"Mereka baik sekaliiii ...." Salma berbisik di telinga Angkasa dengan rasa haru. Ia memperlihatkan bunga serta kado yang menumpuk di hadapannya.


"Iya, mereka baik sekali," ulang Angkasa dengan senyum kaku.


"Mereka pantas naik gaji," ucap Salma sembari memperhatikan karyawan Asa Production yang bernyanyi dengan gembira.


"Iya, mereka pantas naik ... naik apa? gaji? itu beda urusan, Salma." Angkasa menggeleng tegas. Bagaimana bisa menaikan gaji semua karyawan hanya karena mengadakan pesta kejutan untuk istrinya. Dilihat juga yang lebih menikmati pesta adalah karyawannya, bukan Salma atau bahkan dirinya.


"Pak Asa, jenis kelamin calon bayinya apa?" salah satu karyawan melontarkan pertanyaan pada Angkasa menggunakan pengeras suara.


"Maaf, istri saya sejak usia kandungan empat bulan tidak melakukan USG, karena kami ingin sebuah kejutan. Sampai usia kandungan hampir sembilan bulan ini, istri saya hanya kontrol kesehatan Ibu dan janin saja. Doakan bulan depan kelahirannya lancar dan sehat ya."


"Amin, Pak," seru para karyawan hampir berbarengan.


"Sampai jam berapa ini pestanya? sudah mendung loh, kalian ga takut kehujanan?" Angkasa melirik jam tangannya dan menunjuk ke arah langit.

__ADS_1


"Jam dua belas ya, Pak. Pas waktunya istirahat makan siang. Itu bukan mendung, Pak tapi mataharinya hanya sedang melewati awan."


"Kenapa harus tunggu jam 12? kenapa ga makan siang sekarang saja?" Angkasa menunjuk deretan piring dan mangkuk yang berisi lauk dan sayuran.


"Kapan lagi seperti ini, Pak. Hiburan tipis-tipis, biar lebih semangat lagi kerjanya," sahut karyawan lainnya yang langsung ditanggapi seruan setuju dari rekan-rekannya.


Angkasa kembali duduk setelah Salma menarik lengannya.


"Kita buka kado dulu aja yuk, sambil tunggu mereka nyanyi-nyanyi." Kekesalan Angkasa menurun drastis melihat senyuman dan suara merayu istrinya.


Salma mulai membuka satu persatu kado yang diberikan karyawan Angkasa per divisi. Semua hadiah berisi keperluan wanita, mulai dari pakaian, tas, sepatu hingga parfum. Semuanya memiliki kualitas yang tinggi dengan harga fantastis, yang tidak pernah ia miliki bahkan dalam mimpi sekalipun.


"Itu buktinya mereka bekerja di sini sejahtera," ujar Angkasa bangga.


"Mas Asa yakin tidak ingin tahu jenis kelaminnya?" tanya Salma sembari mengusap perutnya yang sangat menonjol.


"Bukan hanya ingin sebuah kejutan tidak mau mengetahui jenis kelaminnya, tapi aku tidak ingin terlalu fokus dengan sesuatu hal yang tidak penting. Bagiku mau laki-laki atau perempuan itu sama saja. Diberi keturunan lagi setelah melewati masa sulit yang lalu, aku sudah sangat bersyukur. Bagiku, cukup kamu dan bayi ini sehat dan selamat, aku sudah sangat bahagia."


Angkasa menangkupkan tangannya di atas punggung tangan Salma yang sedang memegang perut.

__ADS_1


Kehilangan calon anaknya dahulu, masih menyisakan rasa perih di sudut hatinya. Ia tidak mau terlihat terlalu menggembar-gemborkan perihal calon anaknya. Sebagai publik figure, berita sekecil apapun menjadi makanan bagi pencari berita dan itu membuatnya tak nyaman kehidupan keluarganya menjadi konsumsi publik. Biarlah kebahagiaan ini hanya menjadi milik keluarga kecilnya.


"Dia bergerak-gerak." Mata Salma membesar merasakan tendangan dari dalam perutnya.


"Sepertinya dia tidak sabar ingin keluar." Angkasa terkekeh pelan.


"Sepertinya begitu." Salma meringis merasakan perutnya mengencang seolah sang bayi meregangkan tangannya di dalam perut.


"Kontraksi?" Dada Angkasa berdegup melihat perubahan wajah Salma.


"Sepertinya bukan." Salma menggeleng ragu.


"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja sekarang?"


"Jadwal periksa masih dua hari lagi." Salma menggeleng lagi.


"Aku merasa dia memang ingin segera keluar sekarang, Sayang," ucap Angkasa sembari mengusap perut Salma dengan telapak tangannya yang mulai dingin karena tegang.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2