
Salma melihat di layar ponselnya. Jane ada di sana sejak jam dua, itu berarti empat jam lamanya Jane menunggu kepulangannya. Salma semakin bersalah lagi saat melihat banyaknya notifikasi pesan serta panggilan dari Jane dan Mba Tia yang masuk di ponselnya.
"Maaf Jane tadi ... Ponselku kehabisan daya," ujar Salma berbohong.
"Hai, Pak Asa." Jane mengacuhkan permintaan maaf Salma, ia lebih fokus pada Angkasa yang berdiri di depan kawannya itu.
"Hai, Jane sudah lama?" sapa Angkasa berbasa-basi. Aslinya ia malas berinteraksi dengan wanita yang selalu mencari perhatiannya itu.
"Lama banget, Pak. Coba kalau ga bisa pulang cepat minimal kasih kabar." Jane menggerutu manja.
"Maaf, Jane kalau kamu harus menunggu lama, tapi sepertinya aku tadi sudah bilang sedang ada urusan biar kamu ga menunggu aku." Salma membela diri.
"Ah, sudahlah Salma aku ga apa-apa. Ada si kembar yang menemanj aku di sini. Mereka tadi sempat rewel loh ga ada kamu, untung aku bawa kue tadi. Kasihan Mba Tia kerepotan jaga mereka," ujar Jane yang seakan mengatakan kalau Salma lebih mementingkan urusan pribadinya ketimbang menemani anak-anaknya.
"Pak Angkasa silahkan duduk. Permisi, saya masuk ke dalam dulu." Salma merasa malu lalu menggiring kedua anaknya masuk ke dalam rumah.
"Mba, maaf aku tadi ga langsung pulang." Begitu masuk ke dalam rumah, ia langsung mencari kakak iparnya.
"Kamu kok susah banget dihubungi sih? Mba sampai khawatir terjadi sesuatu sama kamu loh, Salma. Lain kali ponsel harus selalu aktif, biar Mba tenang kamu ada di mana dan sedang apa. Kalau ada apa-apa sama kamu di kota besar ini, Mba harus ngomong apa sama Mas mu?"
"Ponsel aku matikan bunyinya, tapi aku lupa nyalakan kembali, karena tadi masih berunding masalah kerjaan, Mba. Maaf jangan marah." Salma merangkul lengan Tia agar kakak iparnya itu mereda marahnya.
"Kamu pulang sama siapa? Orang itu lagi?" Tia mengerutkan kening ketika mendengar suara Angkasa dari arah ruang tamu.
"Namanya Pak Angkasa, Mba. Tadi hujan deras di kota, lagipula dia yang memberikan aku kesempatan kerja. Kami ga ada hubungan apa-apa kok, hanya membahas tentang program acara yang akan aku bawakan nanti," jelas Salma meyakinkan kakak iparnya yang sedang menelisiknya lebih dalam.
__ADS_1
"Jangan bermain api, Salma. Kamu sendiri yang mengatakan dia sudah punya pasangan. Kamu sudah pernah merasakan dikhianati oleh suami dan sahabatmu sendiri, jadi jangan kau tancapkan lagi rasa sakit itu pada wanita lain." Tia menekankan tiap kalimatnya sembari membuatkan minuman untuk tamu Salma.
Diiringi oleh petuah kakak iparnya, Salma mengintip ke arah ruang tamu di mana Angkasa sedang berbincang dengan Jane. Teman barunya itu tampak bahagia, terlihat sekali dari binar matanya. Salma masih belum tahu dan tidak berani menebak-nebak apakah keduanya memang menjalin hubungan atau tidak. Lebih baik ia tidak tahu dan tidak berniat mencari tahu, karena hatinya belum siap untuk patah saat ini.
"Cepat bawa tehnya ke ruang tamu, jangan terlalu lama mengobrolnya. Sudah malam, nanti tetangga salah sangka. Ingat Salma, kedua tamumu itu orang terkenal, semua gerak gerik mereka terpantau mata netizen."
Salma berdehem sedikit saat akan masuk ke ruang tamu. Ia tidak ingin matanya menangkap pemandangan yang tidak semestinya terjadi di dalam rumahnya. Jane duduk sangat dekat dengan Angkasa, sesekali tangannya menyentuh lengan dan pundak Angkasa saat berbincang.
"Silahkan di minum." Salma memilih duduk berhadapan dengan Angkasa dan Jane, dari posisinya duduk ia dapat melihat dengan jelas interaksi keduanya.
'Mengapa aku harus mengawasi mereka berdua? mereka adalah pasangan. Apakah aku sedang cemburu?'
"Pak Asa rumahnya di daerah Sengkotek ya, apa boleh saya menumpang? Mobil saya sepertinya ban belakangnya kurang stabil. Saya takut kalau malam-malam begini bawa mobil yang kurang fit."
"Rawa Seneng. Pak Asa lewat daerah sana 'kan?"
Angkasa menggaruk pelipisnya sebelum mengangguk. Malas rasanya harus satu kendaraan selama dua jam dengan wanita banyak bicara ini. Sama sekali tidak ada rasa menyenangkan meskipun wujudnya seperti artis papan atas. Walaupun begitu ia sebagai seorang pria hanya bisa menyanggupi memberikan tumpangan, karena jika terjadi sesuatu orang pertama yang disalahkan adalah dirinya.
"Lalu mobilmu?" tanya Salma bingung. Ia berharap Jane berpikir ulang untuk ikut bersama Angkasa.
"Titip di sini dulu ya. Besok pagi nanti ada karyawan Papa aku ambil bawa ke bengkel," ujar Jane sumringah. Rencananya berhasil mencuri waktu berduaan dengan Angkasa dalam mobil di malam hari. Memikirkannya saja dada Jane sudah berdegub kencang dan berharap antara mereka ada sesuatu hal yang menyenangkan dapat terjadi malam ini.
"Oke," sahut Salma lirih.
"Kita pulang sekarang, Pak? nanti kemalaman di jalan." Jane segera menyeruput teh sekadarnya.
__ADS_1
"Sebentar. Mana si kembar? Tadi saya kemari 'kan mau nengokin mereka."
"Sepertinya sudah tidur Pak. Ga kedengeran suaranya, namanya aja anak kecil tidurnya cepat," potong Jane sebelum Salma sempat berdiri dari duduknya.
"Sayang sekali, saya masih kangen sama mereka." Angkasa memandang pintu kamar si kembar. Ia berkata jujur, ada rasa sayang untuk Cakra dan Candra sejak bertemu ketika ia menghampiri ibu si kembar di kota asal mereka.
"Pak Asa sepertinya sudah kepingin punya anak deh." Jane mengerling menggoda. Baginya itu hanyalah sebuah candaan, tapi bagi Angkasa celetukan itu mengingatkannya pada calon bayinya yang belum sempat terlahir di dunia.
'Yang .. Pelan-pelan, aku masih bisa tahan kok. Sakitnya sudah tidak seberapa.'
'Wajahmu pucat, Deb! Kalau lambat sampai di rumah sakit kamu bisa kehabisan darah.'
Malam itu saat hujan deras, Angkasa membawa istrinya yang akan melahirkan putri pertama mereka, ke rumah sakit bersalin. Darah yang terus menetes di sela kaki istrinya, membuat Angkasa panik dan gemetar. Ia sangat takut terjadi sesuatu pada istri dan calon bayinya.
'Iyaa, pelankan sedikit ya. Ga perlu menyalip, rumah sakitnya juga sudah dekat.' Debby mengusap lengan suaminya. Antara sakit di sekujur tubuh dan ngeri dengan cara mengemudi suaminya, Debby terus melafalkan doa di dalam hati.
DIIIINNNNN!!!
Angkasa menekan klakson mobilnya lama, saat mobil yang dikendarainya melaju kencang tapi kendaraan di depannya berjalan sangat pelan. Sebelum hidung mobilnya menyentuh bagian belakang mobil di depannya, Angkasa segera membanting kemudinya ke arah kanan. Namun sayangnya, ia tidak dapat mengendalikan arah mobilnya karena terlanjur melaju dengan kencang.
'Awaasss!' Debby menjerit ngeri ketika mobil terasa miring. Kendaraan itu seketika berguling-guling di jalanan dan berhenti saat menabrak pembatas jalan.
Pemandangan terakhir yang Angkasa lihat adalah, darah semakin mengucur deras dari sela kaki istrinya dan mata ibu dari calon anaknya itu tetap terpejam meski ia telah meneriakan namanya.
...❤️🤍...
__ADS_1