
Besok paginya, tanpa diminta Angkasa sudah ada di rumah Bimo.
"Kalian mau kemana?" tanya Tia melihat adik iparnya sedang bersiap-siap.
"Ke rumah lama."
"Mau ngapain kesana lagi?" Tak hanya Angkasa, Tia pun sama gregetnya mendengar Salma akan pergi ke rumah yang telah membuangnya.
"Aku dulu keluar dari rumah itu mendadak, Mba. Ga bisa bawa barangku semua. Ada beberapa yang ingin aku ambil, semoga saja tidak dibuang sama Mas Armand."
"Rumah itu belum laku?"
"Bagaimana mau laku, katanya rumah itu dalam sitaan bank. Kunci cadangan aku titipkan di Bu laili, kata beliau rumah itu masih sering dibersihkan sama Mas Armand."
"Berarti Armand masih sering datang kesana dong?"
"Ya mungkin, rumah dia kan seberangan aja, Mba," ujar Salma sembari berjalan keluar kamar.
"Barang apa sih yang mau kamu ambil? Ga bisa gitu direlakan saja?" Tia masih mengejar dari arah belakang.
"Mumpung ada di sini, Mba. Tidak perlu khawatir, mereka itu manusia bukan hantu ngapain takut. Lagipula aku kesana ditemani Pak Asa."
__ADS_1
"Mereka itu lebih mengerikan daripada setan! Mba masih ga setuju kamu kesana, Salma. Hati-hati kalau Masmu tahu kamu kesana, bisa marah lagi dia."
"Ya, Mba Aku hati-hati kok. Titip si kembar ya, aku ga mau bawa mereka kesana. Kalau ada keributan ga baik untuk mereka." Salma memberikan senyuman manis agar kakak iparnya itu tidak berat melepaskannya pergi.
"Apa sih yang mau kamu ambil di sana? Apa seberharga itu sampai aku tidak bisa membelikannya untuk kamu?" Angkasa memandangnya sendu.
Sungguh ia tidak ikhlas Salma menginjakan kakinya di rumah itu. Ia takut kalau Salma akan hanyut dengan kenangan manis bersama Armand. Ia takut kalau Salma ragu untuk menerima pinangannya, padahal mereka tinggal selangkah lagi. Entah mengapa perasaan Angkasa tak nyaman seharian ini.
"Barangnya Cakra sama Candra. Bukan yang bisa dibeli lagi, tapi nilai historinya seperti album foto sejak mereka lahir."
Angkasa hanya bisa pasrah dengan menghela nafas panjang.
"Baiklah, aku tunggu di sini. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku," ujar Angkasa setelah berpikir sejenak. Ia tidak keberatan karena rumah Salma hanya berjarak lima rumah dari tempatnya memarkir kendaraan.
Dari tempatnya berteduh, ia dapat melihat Salma mengetuk pintu rumah tetangganya. Begitu tetangganya keluar, wanita setengah baya itu langsung memeluk erat calon istrinya.
Tak lama mereka berdua memasuki rumah tempat tinggal Salma dulu. Angkasa berdiri menunggu dengan resah di bawah pohon, ingin hati menyusul Salma tapi ia tidak mau merusak kepercayaan yang sudah diberikan.
Salma menarik nafas panjang sebelum memutar anak kunci pada pintu masuk rumahnya.
"Ayo Mba, nanti keburu mereka datang," ucap Bu Laila tak sabar. Rumah Tania di seberang tampak sepi.
__ADS_1
"Biar saja mereka datang, tidak ada yang perlu ditakutkan." Salma sudah berdamai dengan masa lalu, apapun yang sudah terjadi ia ikhlas. Sekarang ia sudah digantikan jauh lebih baik.
Begitu pintu terbuka, ruangan pertama yang ia lihat adalah ruang tamu. Tidak banyak yang berubah, semua barang masih dalam posisinya. Hanya ada lapisan debu tipis di setiap sudutnya.
Barang-barang berharga seperti televisi, lemari pendingin dan kipas angin sudah tidak ada. Mungkin sudah digadaikan oleh Armand atau dibawa ke rumah Tania. Salma lalu bergegas ke kamarnya. Matanya jatuh pada ranjang yang biasa ia tiduri dengan Armand. Ranjang dimana tiap malam ia memadu kasih dengan mantan suaminya dan di ranjang itu pulalah, pertama kali ia menyerahkan miliknya yang paling berharga untuk pertama kalinya pada pria yang ia sebut suami.
'Fokus, Salma!' Salma menggelengkan keras kepalanya. Ia lalu membuka lemari tempat menyimpan segala berkas miliknya dan si kembar.
"Ini dia." Salma tersenyum senang mendapati album foto milik si kembar. Ia juga menyimpan di dalam dompet kecil, beberapa helai rambut pertama si kembar sebelum dipotong habis. Memang bukan barang berharga, tapi bagi Salma itu punya kenangan tersendiri.
Setelah merapikan album foto dan barang milik si kembar, ia lalu pergi ke kamar belakang yang difungsikan sebagai gudang. Lalu ia mulai membongkar kardus yang tertumpuk di sana.
"Ketemu!" Mata Salma berbinar cerah begitu benda yang ia kira sudah hilang, dapat ditemukannya.
"Ayo, Bu." Tak mau berlama-lama di rumah itu, Salma mengajak tetangganya keluar. Namun langkahnya terhenti di depan pagar ketika melihat Armand dan Angkasa sedang berdiri berhadapan satu sama lain.
...❤️🤍...
Sehari dua bab nih, sambil tunggu bab selanjutnya mampir ya ke novel temanku
__ADS_1