
"Bu, Bu Salma, sudah selesai." Perias itu membangunkan Salma yang tertidur dengan lembut. Mata Salma membesar melihat perubahan wajah serta rambutnya di depan cermin.
"Mba, ini terlalu berlebihan," keluh Salma.
"Cantik kok, Bu dan sesuai tema acaranya. Mungkin karena Bu Salma lama tidak pernah merias wajah, jadi merasa aneh." Perias itu mencoba menghiburnya sembari membuka pembungkus gaun yang ia bawa untuk Salma.
"Ga ada pilihan baju yang lain?" Salma mengernyit melihat model gaun yang dibawa oleh si perias.
"Hanya ini saja, Bu. Saya sudah kirim beberapa gambar model baju dan warna pada Pak Asa, lalu Bapak memilih yang ini." Perias itu mulai membantu Salma berganti pakaian. Ia tidak menghiraukan wajah pelanggannya yang merengut tak nyaman.
Gaun putih berbahan satin panjang semata kaki dengan lengan tertutup seluruhnya dan leher berbentuk V, sudah terpasang sempurna di tubuh Salma.
"Cantik," puji si perias.
"Terlalu berlebihan." Salma tak setuju dan menggelengkan kepalanya dengan wajah cemberut.
Ia hampir saja naik ketas kamarnya dan menggantinya dengan gaun miliknya sendiri, tapi dering ponsel miliknya lebih mendahuluinya.
"Halo, sudah siap, Sayang?" sapa Angkasa antusias.
"Sudah. Mas, kenapa pilihkan baju seperti ini sih?" sembur Salma dengan berbisik.
"Kenapa memangnya?"
"Warnanya putih, kesannya terlalu mewah dan spesial untuk makan malam berdua."
__ADS_1
"Jadi kamu ga mau tampil spesial di depan aku?"
"Bukan seperti itu maksudku."
Angkasa sengaja memperdengarkan des ahan kecewa sedikit keras.
"Baiklah, aku tetap pakai gaun yang kamu pilihkan," ucap Salma akhirnya.
"Benarkah? Tapi, kalau kamu tak nyaman, kamu boleh menggantinya," ucap Angkasa dengan nada sedih.
"Tidak apa, aku tetap pakai. Aku sudah siap, jam berapa Mas Asa pulang?"
"Kita ketemu di sana ya, Sayang. Aku masih harus menunggu tamu satu lagi, kalau harus pulang ke rumah dulu nanti kena macet dan bisa terlalu malam kita acara kita nanti."
"Lalu aku?"
"Baiklah," ucap Salma singkat.
Sebenarnya ia sedikit kesal dengan acara yang dibuat suaminya ini. Mulai dari rias wajah dan tata rambut yang terlalu berlebihan serta gaun yang mewah tidak sesuai dengan keinginannya, membuat suasana hatinya memburuk. Sekarang di tambah lagi, suaminya itu bersikap seenaknya memintanya bertemu langsung di tempat tujuan.
"Ada yang bisa kami bantu lagi, Bu?"
"Tidak ada, terima kasih ya." Salma memaksakan senyumnya sampai dua orang perias itu berlalu dari hadapannya.
Sekarang Salma kembali sendiri lagi di dalam rumah yang luas dan besar itu. Dengan baju serta rias wajah dan rambut yang sempurna, ia tidak bisa lagi merebahkan diri hanya untuk sekedar beristirahat.
__ADS_1
Sembari menunggu jemputan yang dimaksudkan suaminya, Salma mencoba menghubungi Bian. Panggilannya pada ponsel sahabatnya itu, diabaikan berikut ponsel dua pekerja rumah tangganya semua tidak ada yang menjawab panggilannya.
Antara panik dan kesal, Salma mengirim pesan pada ketiga orang itu untuk memberi kabar serta mengirim video atau foto kedua anaknya.
Di tengah kepanikannya, suara kendaraan terdengar masuk ke halaman rumahnya. Salma membuka pintu dan mendapati mobil putih besar dengan pintu geser terbuka di depannya.
"Sudah siap, Bu?"
Salma sedikit terkejut mendapati salah satu karyawan senior kepercayaan Angkasa, ada di depan pintu mobil yang terbuka.
"Bu Sari?"
"Iya saya, Bu." Wanita berkacamata itu mengangguk dan tersenyum, "Mari berangkat sekarang, Bu kalau sudah siap."
Salma mengangguk canggung, merasa aneh dan berlebihan mengapa hanya acara makan malam berdua, harus merepotkan orang lain. Ia lalu mengikuti Bu Sari masuk ke daam mobil dan duduk di bangku tengah. Di dalam mereka hanya bertiga dengan sopir. Tak satupun yang mengajaknya berbicara, keduanya seolah sepakat untuk mendiamkannya.
"Mm, Bu Sari, Pak Asa di mana ya?" tanya Salma akhirnya tak tahan dengan keheningan ini.
"Pak Asa sudah menuju lokasi, Bu," ujar Bu Sari sopan.
"Memang lokasinya makan malamnya di mana ya?" Salma merasa bodoh sekali bertanya hal ini. Sejak awal ia memang tidak bertanya pada Angkasa mau mengajaknya kemana, karena ia berpikir nanti berangkatnya juga bersama suaminya.
"Di hotel Alam Jaya," sahut Bu Sari sambil tersenyum.
"Maaf ya Bu Sari jadi merepotkan harus menjemput saya, sebenarnya saya bisa naik taxi online. Pak Asa sepertinya sedang sibuk sekali ya?"
__ADS_1
Bu Sari hanya tertawa kecil dan menganggukan kepala lalu kembali diam.
Salma kembali berdiam diri tak menemukan bahan pembicaraan lagi. Ia hanya menatap layar ponselnya dan berharap ada balasan pesan dari suami serta sahabatnya.