Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Ternyata


__ADS_3

Maaf ya semua, ijinnya aku lamaaaa 🙏soalnya baru habis sakit jadi ga sanggup update semua. Jangan kapok tungguin kelanjutannya ya🙏🙏


...❤️🤍...


Salma terbangun saat merasakan sentuhan lembut yang mengusap-usap telapak kakinya. Harum dan hangatnya minyak membuainya untuk kembali memejamkan mata, tapi teringat saat bagaimana terakhir kali ekspresi wajah Angkasa yang panik membuatnya cepat-cepat tersadar.


"Sudah bangun?"


Alih-alih mendapati suaminya dalam keadaan panik menungguinya sadar dari pingsan, ia malah mendapati Ibu dari mantan istri Angkasa duduk memijati kakinya.


"I-ibu ...." Salma spontan menarik kakinya begitu menyadari siapa yang berada di bawah kakinya.


"Tidak apa. Biasa kaki dan betis itu memang suka pegal," ucapnya tersenyum sembari menarik kaki Salma.


Dengan persaan rikuh, Salma membiarkan mantan mertua suaminya itu memijat lembut pergelangan kakinya. Matanya beredar ke seluruh isi ruangan, mencoba mengenali kamar yang asing baginya.


"Suamimu masih ada di bawah menemui tamu-tamunya. Sebentar lagi mungkin kembali kemari, tunggu saja." Seolah mengerti apa yang ada di benak Salma, Ibunya Debby berucap sembari tersenyum tipis dengan fokus masih pada kaki Salma.


Salma mengkerut sedikit kecewa, mengapa suaminya lebih mementingkan menemani teman-temannya dari pada ia yang sakit. Mengapa satupun dari keluarga serta teman-temannya tidak ada yang khawatir dan menungguinya hingga sadar. Mengapa malah orang yang dianggap asing duduk di dalam kamar menemaninya.


"Ini kamar hotel?" tanyanya dengan mata kembali meneliti kamar berukuran besar itu.


"Iya."


"Permisi, Bu, saya mau turun ke lantai bawah dulu." Salma menarik kakinya dari tangan Bu Ida, lalu menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang.


"Kamu masih lemah, Nak. Biar di sini saja dulu. Nanti suamimu pasti naik kemari, apa Ibu telepon 'kan?" Ibunya Debby masih mencoba menahannya untuk tetap bertahan di dalam kamar.


"Saya sehat kok, Bu. Tadi pingsan mungkin karena terlambat makan. Siang tadi lupa makan dulu sebelum datang kemari." Salma duduk di tepi ranjang sembari memijat-mijat pelipisnya. Bu Ida hanya menggeleng dan tersenyum.


Bunyi pintu utama yang terbuka menarik perhatian keduanya. Suara derap langkah lebar berjalan mendekati ruangan kamar yang ditempati Salma. Wajah Angkasa yang bersemangat muncul dari balik ambang pintu.

__ADS_1


"Hai, sudah sadar?" Dengan mata berbinar dan seikat bunga mawar merah di tangannya, Angkasa mendekati Salma yang menatapnya kecewa.


"Suamimu sudah datang, Ibu turun dulu ya." Salma mengangguk dan menggumamkan kata terima kasih pada mantan mertua suaminya itu.


"Bagaimana keadaanmu?" Angkasa mengecup kepalanya setelah Ibunya Debby keluar dari kamar mereka.


"Baik," sahut Salma pelan, "Aku mau turun ke bawah." Salma mencoba berdiri tapi kembali terduduk saat merasa masih setengah melayang.


"Mau ngapain turun ke bawah?"


"Ga enak sama yang lain. Aku juga mau lihat Cakra dan Candra, mereka di mana sekarang?"


"Sebagian sudah pulang. Si kembar ada di kamar sebelah sama Mba Tia, mereka juga sudah tidur. Ini jam sebelas, Sayang."


"Di kamar sebelah? Kita tidak pulang juga malam ini?"


"Ini malam pengantin kita, ngapain pulang? kamu lupa, kalau tadi perayaan sekaligus konferensi pers pernikahan kita?"


"Ngapain sih pakai malam pengantin segala, kayak masih baru aja," ujar Salma dengan wajah tersipu. Rasa kesalnya karena tak ditemani suami sampai sadar tadi, sudah terlupa dalam waktu yang singkat.


"Dia?" Senyum tersipu Salma hilang dalam hitungan detik. Dia yang dalam pikiran Salma entah bagaimana menjelma seperti wujud artis cantik yang diidolakan suaminya.


"Iya, dia. Aku tidak menyangka dia hadir juga malam ini. Sebuah kebetulan yang luar biasa. Aku memang sudah lama mengharapkan kehadirannya, tapi tidak menyangka kalau malam ini datang bawa kabar bahagia. Mungkin memang antara aku dan dia sudah sehati," ucap Angkasa dengan senyum terkulum.


Dada dan kepala Salma mendadak memanas dan beruap rasanya mendengar paparan suaminya yang terdengar menjengkelkan di telinganya. Bayangan-bayangan model serta artis cantik berkelebatan di benaknya.


"Ow, pantas Mas Asa senang sekali kelihatannya. Kenapa bukan dia saja yang Mas Asa ajak menikmati malam pengantin," sindir Salma muak.


"Aku ajak dia juga kok."


"Apan sih, Mas? Cukup!" Salma menutup kedua telinganya.

__ADS_1


Salma berdiri dari atas ranjang dan melemparkan rangkaian bunga yang diberikan suaminya begitu saja di atas ranjang. Melihat tak ada reaksi dari suaminya atas kemarahannya, Salma berjalan menuju pintu kamar dengan langkah lebar.


Namun begitu ia membuka pintu kamar dan hendak keluar, ia dikejutkan dengan keluarga serta sahabatnya yang berdiri menghadang di depan pintu. Mereka tersenyum lebar dengan tangan memegang bunga dan balon berwarna-warni.


"Ma-mau apa kalian kemari?" Salma menyusut air matanya dan menyembunyikan wajah sembabnya.


"Mau ketemu kamu dan calon baby," ucap Bian sumringah.


"Aku mau turun ke lantai bawah," ucap Salma seraya berusaha menyeruak barisan orang yang berdiri menghalangi jalannya untuk keluar kamar, "Eh, ketemu aku dan siapa?" Salma menghentikan langkahnya saat menyadari ada yang aneh dari kalimat Bian.


"Adek bayi." Cakra menunjuk perut Mamanya. Spontan Salma ikut memegang perutnya dengan kening berkerut.


"Jangan sering marah-marah, kasihan calon babynya ketakutan nanti." Belum selesai keterkejutan Salma, tangan suaminya sudah melingkar di perutnya dan ikut mengusap perutnya.


"Calon baby apa sih? Kalian ngomong apa?" Salma menatap keluarga serta suaminya bergantian.


"Kata Papa, kita mau punya adek bayi tapi masih di dalam pelut Mama." Candra datang mendekat lalu memeluk Mamanya.


"Kamu pingsan tadi, temanku yang dokter bantu periksa kondisimu. Aku sempat khawatir kamu sakit, tapi ternyata kelelahan karena ada dia di sini."


"Aku ... Hamil?" Salma mengusap perutnya tak percaya. Sejak kelahiran si kembar, masa periodnya tidak pernah terjadwal secara rutin. Selain karena stress dengan kondisi rumah tangganya dulu, ia juga sempat mengkonsumsi pil kontrasepsi atas permintaan Armand.


"Iya, tapi dokter minta besok kamu ke rumah sakit untuk pemeriksan lebih detail," timpal Tia bergantian memeluk adik iparnya, "Aku ikut senang dapat keponakan baru lagi, doakan aku juga bisa cepat merasakan mengandung ya," bisik Tia sendu.


"Besok Mba Tia dan Mas Bimo, ikut aja sama Salma ke dokter sekalian konsultasi dan program kehamilan," saran Angkasa.


"Kalau program ...." Tia dan Bimo saling bertukar pandang ragu.


"Saya tahu, sudah ga usah khawatir soal itu. Jalani dan yakini saja," ucap Angkasa menengahi kekhawatiran iparnya soal biaya.


"Malam ini kita jadi lanjut party ga di sini?" usul Bian dengan mata mengerjap semangat.

__ADS_1


"Ehhmm, partynya kalian lanjutkan di cafetaria ya. Si kembar juga sudah ngantuk 'kan, bobok sama Tante Bian ya,Sayang. Mama sama calon adek bayi harus istirahat malam ini." Angkasa mengambil balon, bunga, serta kue dari tangan Tia dan Bian, lalu menggiring mereka semua keluar dari kamarnya


...❤️🤍...


__ADS_2