
Tania masih berdiri dengan perasaan haru memandang suaminya yang sedang memanasi mobil. Walau masih tampak acuh, ini sudah merupakan kemajuan besar dalam perubahan sikap seorang Armand. Tanpa menoleh apalagi berpamitan, Armand menjalankan mobilnya keluar dari garasi.
Tania duduk di teras menggantikan suaminya. Dengan perut yang semakin besar dan sebentar lagi akan melahirkan anak mereka yang kedua, ia semakin merasa lelah dan putus asa menghadapi sikap Armand yang selalu mengucapkan kata menyesal telah menikahinya.
Tania menangis sesenggukan dengan tangan mengusap perut besarnya. Ia merasa malu dan menyesal telah menyakiti sahabatnya. Melihat Salma yang tampak bahagia dalam kehidupan barunya, membuatnya merasa malu sekaligus iri hati.
ia sadar karma sedang menghantuinya. Ia sedang menuai apa yang ia perbuat pada Salma sebelumnya. Namun nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi.
Ia sendiri seperti tak bisa lepas dari lingkaran Armand. Walaupun sudah berkali-kali menerima perlakuan tak menyenangkan. Bahkan kekerasan fisik pun tak jarang ia terima, tapi bodohnya ia masih mengabdi seperti seorang yang buta akan cinta.
Tangan Tania menggapai ponsel di sakunya, ia mengetikkan sebuah pesan panjang dan mengirimkannya pada wanita yang pernah mempercayakan kisah hidup padanya.
'Salma, ini aku Tania. Aku tidak tahu apakah kamu masih menyimpan nomerku atau tidak. Maaf kalau aku masih berharap kamu tidak membenciku. Mungkin jika aku masih berharap kamu menganggapku sebagai sahabat, sangat terlihat tidak tahu diri setelah apa yang aku lakukan padamu, tapi sampai saat ini kamulah teman terbaikku.
Aku ingin meminta ampun dan ikhlas darimu, agar langkahku ke depan semakin ringan.'
Tania menutup ponselnya begitu pesan yang ia tulis terkirim. Ia tak berharap banyak, dengan menuliskan apa yang ada di pikiran dan benaknya sekarang sudah meringankan beban di hatinya.
Ia tak langsung membuka ponselnya begitu terdengar suara pesan masuk di ponselnya. Matanya terpejam rapat saat jarinya menggeser layar ponselnya.
'Aku di Jogja, mungkin kita bisa bertemu. Hanya berdua.'
Mata Tania membesar membaca pesan dari Salma. Ada rasa khawatir akan dipermalukan atau bahkan ditampar dan diludahi di depan umum. Ia tentu tak bisa melawan dengan perut sebesar ini. Namun ada harga yang harus dibayar untuk sebuah perlakuan yang sulit dimaafkan.
__ADS_1
Setelah menerima pesan lokasi tempat mereka akan bertemu, Tania segera bersiap. Ia sempat terharu saat membaca tempat mereka bertemu nantinya.
Tania sampai di rumah makan depan kampus tempat ia dan Salma menimba ilmu dulu. Tempat dengan sejuta kisah antara dua gadis yang pernah bersahabat. Tania mulai masuk dan mengedarkan pandangannya mencari wanita yang pernah ia sebut sahabat sejati. Pandangannya langsung tertuju pada sudut favorit mereka. Salma tampak duduk di sana sedang memandangnya sambil tersenyum.
Salma mengawasi arah belakang tubuh Tania, memastikan tidak ada yang mengikuti wanita itu.
"Sendiri?' Salma berdiri dan mempersilahkan Tania duduk di hadapannya. Mata wanita itu tampak terpaku pada perutnya yang membuncit, ia pun demikian cukup terkejut dengan perut Tania yang sudah membesar.
"Anak kedua? sepertinya sebentar lagi lahir?' lanjut Salma setelah Tania hanya mengangguk menjawab pertanyaannya di awal.
"Perkiraan awal bulan. Kamu juga sepertinya sedang mengandung?" Tania tersenyum canggung.
"Iya, empat bulan. Aku kemari sedang menjenguk kakak ipar ku. Dia juga sedang hamil muda, tapi kondisinya sedikit lemah, mungkin karena usia." Salma bertutur dengan santainya.
"Ow, syukurlah." Tania hanya mengangguk tak tahu akan berbicara apa lagi. Isi kepalanya yang tadi penuh dengan permintaan maaf, tak mampu ia ungkapkan.
Namun keramahan Salma membuat Tania semakin di dera rasa bersalah. Wanita yang duduk di hadapan Salma itu menunduk dan meneteskan air mata penyesalan.
"Jangan menangis di sini. Aku mengundangmu kemari bukan untuk mengadilimu. Masa itu sudah lewat, mengungkitnya juga membuat hatiku sakit," ucap Salma datar.
"Maafkan aku. Aku ... hanya rindu dengan kedekatan kita. Apakah kita bisa berteman seperti dulu?" Tania menyusut air matanya.
Salma menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan, "Aku mengajakmu kemari bukan maksudku agar kita kembali akrab seperti dulu, kamu tahu itu tak mungkin terjadi. Maaf aku tidak bermaksud memutus pertemanan kita, tapi aku harap kamu mengerti situasi di antara kita. Aku hanya ingin menunjukan padamu, bahwa tak semestinya ada benci apalagi dendam setelah sekian lama. Kamu lihat sendiri, aku sudah bahagia dengan keluarga baruku. Tentunya kamu bahagia juga dengan kehidupanmu, karena itu yang kamu inginkan."
__ADS_1
Walaupun diucapkan dengan bibir tersenyum, Tania merasa tertusuk dengan ucapan Salma. Jika Salma tahu sikap Armand padanya selama ini, mau taruh di mana mukanya.
"Iya, kamu benar." Tania mengangkat kepalanya dan membalas senyum Salma.
"Aku harap kamu bahagia, Tania," ucap Salma tulus.
"Aku ... bahagia. Aku juga berharap kamu selalu bahagia." Tania melipat bibirnya menahan tangis penyesalan.
Tak banyak yang mereka bicarakan setelah itu. Tania lebih banyak diam dan mendengarkan kehidupan baru Salma yang menjadi seorang istri pengusaha besar, sekaligus publik figure di ibukota.
Sahabatnya itu kini sangat bahagia dan sukses, berbanding terbalik dengannya. Kehidupan pernikahan yang pahit dan usaha cateringnya yang dulu sempat diagung-agungkan, tapi sekarang keuntungannya hanya dapat menghidupi dapur tiap harinya secara sederhana.
"Aku sudah dijemput. Sampai ketemu lagi, Tania. Jaga kesehatanmu dan calon baby ya." Salma menunjuk sebuah mobil mewah berwarna putih yang merapat di sisi rumah makan. Wanita itu berdiri dan memeluk Tania sekilas.
Sebelum menjauh, Salma kembali berbalik menghadap Tania, "Tania, tolong jangan ceritakan pertemuan kita ini pada suamimu," ucapnya lalu kembali berjalan menghampiri Angkasa yang melambai dari belakang kemudi.
Tania masih duduk di tempatnya, ia memperhatikan bagaimana Angkasa menyambut istrinya dengan kecupan hangat di kening Salma. Sebuah perlakuan sederhana namun sangat manis. Tak pernah ia rasakan selama menjadi istri Armand.
"Lega?" Angkasa mengamati wajah Salma yang terus tersenyum sejak masuk ke dalam mobil.
"Lumayan." Salma semakin melebarkan senyumannya. Setelah berbicara dengan Tania, ia merasa seperti ada batu besar yang terangkat dari dadanya.
Memaafkan itu memang tak mudah, tapi rasanya sangat tak adil jika ia membiarkan sahabatnya di dera rasa bersalah sepanjang umur kalau hidupnya sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Salma bukan tidak tahu kalau Tania tidak bahagia hidup dengan pria dari hasil merebut. Mata sembab, air muka keruh, wajah tanpa riasan, dan beberapa belas luka lebam di lengan serta wajahnya sudah menyiratkan apa yang terjadi dalam pernikahan sahabatnya itu. Namun itu semua resiko yang Tania harus lunaskan.
...❤️🤍...