
"Mereka itu hanya bercandaaaa, mana ada artis yang mau jadi pengasuh bayi. Biasa aromanya parfum jadi bau ompol, mana mau mereka." Angkasa tertawa sengau. Ia sadar kalau sedang melempar candaan pada orang dan situasi yang salah.
"Ya benar, karena mereka maunya sekalian mengasuh Papanya. Jadi bau-bau ompol sedikit juga tidak masalah," sahut Salma ketus.
"Mana mau juga aku memperkerjakan mereka, Sayang. Mereka hanya sekumpulan wanita yang hanya tahu bersolek, beda sama kamu." Angkasa mencoba merayu istrinya. Namun sepertinya rayuan itu tak mempan, Salma mengacuhkannya. Istrinya itu berdiri lalu kembali masuk ke dalam ruangan tanpa menanggapi dirinya.
"Maaf menunggu lama, Bu. Saya dan suami sudah berunding, kami memutuskan akan mengambil satu jasa pengasuh. Boleh saya lihat kembali?" Salma menunjuk album pekerja yang sudah kembali disusun dalam rak buku.
"Boleh, Bu, silahkan."
Setelah memilih dan menimbang, Salma memilih seorang pengasuh bayi yang berusia pertengahan tiga puluh dan berpengalaman.
"Yakin hanya satu?" bisik Angkasa.
"Mau berapa? Papanya juga mau dicarikan pengasuh?" sindir Salma kesal.
"Dua saja sekalian, biar mereka lebih nyaman dan fokus bekerjanya. Masing-masing bertanggungjawab dengan satu anak. Biar kamu juga lebih enak mengawasinya," ucap Angkasa.
Ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan selentingan pedas istrinya. Selain malu dengan petugas admin di hadapannya, ia paham menimpali kecemburuan wanita itu suatu perbuatan yang sia-sia.
"Mahal." Salma balik berbisik.
Angkasa mendengus mendengar bisikan istrinya. Tanpa meminta pertimbangan Salma lagi, Angkasa mendorong album foto itu ke petugas admin sembari berkata, "Kami mau ambil dua pekerja, tolong bantu pilihkan yang reputasinya paling baik dan bisa saling kerjasama. Usia di atas 30 tahun dan sudah berkeluarga."
Ia memutuskan harus segera menuntaskan pilih memilih pengasuh sekarang juga, karena sebentar lagi jam pulang sekolah si kembar generasi pertama berakhir. Jika membiarkan Salma yang memilih pasti akan lebih banyak drama, karena istrinya itu memilih masih menggunakan perasaan daripada logika.
"Saya merekomendasikan Tuti dan Asih. Mereka dua dari pengasuh kami yang profesional. Dua syarat yang Bapak minta juga terpenuhi. Usia diatas 30tahun, keduanya sudah menikah dan punya anak." Petugas admin menunjuk dua foto di album pekerja.
"Oke baik. Kapan mereka bisa langsung bekerja?" tanya Angkasa lagi. Sedangkan Salma hanya menoleh bergantian antara suaminya dan petugas admin.
"Nanti sore bisa kami antarkan ke rumah, Pak," jawab petugas itu
__ADS_1
"Baik, kalau begitu kami tunggu nanti sore. Terima kasih." Angkasa berdiri dari duduknya lalu menyalami petugas admin. Salma yang duduk di sampingnya hanya mengikuti pergerakannya.
"Kenapa ga tanya aku dulu, langsung memutuskan sendiri?" protes Salma saat mereka sudah di dalam mobil.
"Sudah hampir jam 12, Sayang. Cakra dan Candra sebentar lagi pulang," ucap Angkasa pelan tapi dengan penekanan.
"Ow."
"Kamu setuju 'kan dengan yang direkomendasikan sama petugas itu. Mereka bukan aku yang milih loh, tapi rekomendasi dari sananya."
"Ya lihat saja nanti." Salma melengos malas, "Kok lewat sini, sekolah Cakra sama Candra 'kan belok kanan?" Salma menoleh ke arah Angkasa cepat.
"Iya, aku mau antar kamu dulu." Angkasa tersenyum misterius. Suami Salma itu menepikan mobilnya ke sebuah gedung perawatan kecantikan ternama yang biasa digunakan oleh para artis papan atas tanah air.
"Ke sini? Mau ngapain?" Masih dari dalam mobil, Salma menunjuk papan nama yang bertuliskan Perawatan wajah dan tubuh "Aku cantik." (yang pernah baca CEO dingin kau milikku, tahu ga ini punya siapa?)
"Ayo." Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Angkasa turun dari mobil dan membantu Salma menyiapkan kereta dorong si kembar generasi kedua.
"Yup," jawab Angkasa singkat. Ia sudah mulai paham dengan karakter istrinya. Jika ingin Salma mengikuti keinginannya, ia yang harus pegang kendali secara lembut tapi tetap tegas.
"Ow, pasti karena aku bau ompol ya bukan bau parfum?" cicit Salma pelan.
Angkasa menahan tangan istrinya yang sedang mendorong kereta si kembar. Ia lalu membalikan badan Salma menghadapnya. Situasi ini harus diluruskan, ia tidak mau istrinya terus-terusan merasa rendah diri selama menjadi istrinya.
"Sayang, kamu itu istimewa di mataku dalam wujud apapun. Kalau dengan menikahi mu, kamu masih merasa kurang percaya akan besarnya cinta dan keseriusanku ... aku tidak tahu harus menyampaikan bagaimana lagi sama kamu." Angkasa mengangkat kedua bahunya dengan pandangan putus asa.
"Mas ...." Ucapan Salma menggantung. Pandangan Angkasa yang tak biasa membungkam bibirnya.
"Ayo kita masuk dulu. Kasihan si kembar nanti terlalu lama menunggu. Aku hanya ingin kamu rileks di sini, itu saja tidak ada alasan lain. Sejak kita menikah hingga melahirkan, kamu tidak ada waktu untuk dirimu sendiri. Kamu sudah berbuat banyak untuk aku dan anak-anak. Sekarang, nikmati waktumu, ,jangan khawatirkan Cakra dan Candra nanti aku ajak mereka bermain dulu selama kamu di sini. Kebetulan aku lagi senggang hari ini. Nala dan Nathan juga aku bawa."
"Kamu bawa mereka juga?" Salma menggeleng tak setuju.
__ADS_1
"Mereka masih bayi, belum banyak bergerak. Toh hanya beberapa jam saja. Aku bisa mengatasi selama persediaan ASI di botol dan pampers masih ada, jangan khawatir. Mereka biasa hanya bangun saat lapar dan buang air saja, ya 'kan? Tenang, aku sudah bisa. Percaya padaku, aku Papa mereka 'kan?" ucap Angkasa meyakinkan.
"Tapi ...."
Angkasa tak membiarkan Salma menghentikan niatnya. Ia mengambil alih kereta dorong dan masuk ke dalam gedung. Sesampainya di depan resepsionis, Angkasa langsung memesan paket perawatan lengkap untuk Salma tanpa bertanya pada istrinya guna mengurangi perdebatan.
"Oke, aku tinggal dulu ya, enjoy your time, Babe. Aku datang jemput kamu jam tiga." Angkasa mencium kening Salma yang masih terbengong diiringi tatapan iri para karyawan dan pengunjung.
"Oke, baby kita jemput kakak dobel C dulu yaaa." Angkasa kembali meletakan dua bayinya ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan ia berpikir keras akan membawa kemana empat anaknya nanti. Sebenarnya ia belum ada rencana sama sekali. Senyumnya menyeringai teringat satu tempat yang pasti aman untuk keempat anaknya.
Emran mengedarkan kepalanya ke tiap sudut ruangan atasannya. Di sudut kiri, Candra sedang menonton film dari ponsel ditemani seorang karyawan wanita yang sedang menyusun laporan. Di sudut kanan, Cakra sedang mencoret-coret di atas lembaran kertas juga didampingi seorang karyawati wanita yang sedang bekerja.
"Apa-apaan ini?" Emran tertawa terbahak melihat ruangan Angkasa yang tak ubahnya tempat penitipan anak.
"Sssttt, jangan berisik nanti mereka bangun." Angkasa melirik Nathan dan Nala yang masih terlelap di dalam kereta dorong.
"Salma kemana?" tanya Emran masih dengan senyum mengejek.
"Aku biarkan dia quality time di salon," jawab Angkasa bangga.
"Bapak rumah tangga yang baik. Ada apa panggil aku kemari, mau pamer?'
"Ada tamu di ruang rapat."
"Okelah, aku kesana."
"Mereka ingin menemui aku," ucap Angkasa cepat memberhentikan langkah temannya.
"Lalu?"
"Kamu gantikan aku di sini sebentar. Tolong jaga anak-anakku. Pampers dan susu mereka ada di dalam tas." Selesai berkata demikian, Angkasa tak memberi kesempatan kawannya itu mengatakan apapun. Ia langsung melesat keluar dari ruangannya.
__ADS_1
...❤️🤍...