
"Cantik." Mata Mama Debby terlihat berkaca-kaca. Tangan tuanya menangkup pipi Salma yang tirus, "Dipakai terus ya."
Salma menggangguk dengan sesekali melirik bingung ke arah Angkasa.
"Ma, katanya mau nyekar ke makam Debby. Yuk, nanti kesorean." Mengetahui gelagat istrinya yang meminta bantuan, Angkasa mengalihkan perhatian mantan mertuanya.
"Ah, iya. Mari kita berangkat. Salma ikut ya." Masih belum rela melepaskan Salma, wanita itu berbalik dan menggenggam tangan istri dari Angkasa itu.
"Saya ikut, Bu." Salma menenangkan.
"Baiklah, Ibu siap-siap dulu ya." Sebelum keluar dari dari ruang penyimpanan barang, Bu Ida mengusap pipi Salma.
Angkasa menunggu hingga mantan mertuanya itu masuk ke dalam kamarnya lalu ia berpaling pada istrinya.
"Bagaimana?"
"Bagaimana apanya?" sungut Salma.
"Kamu merasa terganggu dan ga nyaman?"
Salma diam sejenak dan menimbang-nimbang tentang perasaannya.
"Aneh aja sih. Apa memang Ibunya Mba Debby seramah itu? Aku jadi takut."
Angkasa tersenyum tipis, "Ibunya Debby memang baik dan ramah sejak dulu. Hanya yang aku lihat saat bersamamu, beliau sedang rindu pada anak satu-satunya. Mungkin Ibunya Debby melihat kamu seperti putrinya."
"Ga mirip lah, Mba Debby cantik banget."
__ADS_1
"Sama cantiknya," sahut Angkasa dengan senyuman tipisnya.
"Emang aku semirip itu sama Mba Debby?" Salma diam sejenak lalu tiba-tiba membesarkan matanya, "Jangan-jangaan Mas Asa nikahi aku karena melihat aku sebagai Mba Debby sama seperti ibunya?"
"Loh, loh, loh kok jadi kesana ceritanya." Salma beringsut mundur saat Angkasa berjalan mendekatinya.
Wajahnya ia tekuk semakin dalam. Semakin suaminya mendekat, semakin jauh pula ia mengambil jarak. Kejar-mengejar itu terhenti ketika Bu Ida keluar dari kamarnya.
"Ayo, Ibu sudah siap," ujar Bu Ida sembari menggamit lengan Salma, "Salma kamu duduk di belakang temani Ibu ya." Salma menganggukkan kepala menyanggupi. Hatinya masih tak tenang dengan dugaannya tentang kemiripannya dengan Debby hingga dinikahi oleh Angkasa.
Sepanjang perjalanan menuju makam, tangan Bu Ida tak lepas menggenggam tangan Salma. Sesekali wanita itu memandang Salma lalu tersenyum.
Sampai di makam Debby, Bu Ida langsung membersihkan dan menaruh seikat bunga di makam putrinya. Airmatanya kembali mengalir seiring doa yang dilantunkan secara lirih.
Salma melirik ke arah suaminya. Ia ingin tahu bagaimana sikap dan perasaan suaminya itu di depan makam almarhum istrinya. Sayangnya Angkasa mengenakan kacamata hitam sehingga ia tidak bisa membaca ekspresi wajahnya.
Tangan Salma dan Angkasa disatukan oleh Bu Ida lalu diletakan di atas makam Debby. Salma mengerutkan keningnya tak mengerti, ia melirik pada Angkasa yang tak terbaca mimik wajahnya.
"Debby Sayang, ini Asa dan istrinya yang sekarang. Kamu tidur yang tenang ya, Asa sekarang sudah ada yang menjaga dan merawatnya. Namanya Salma, Asa sudah langsung punya dua anak dari Salma jadi rumahnya sudah tidak sepi lagi. Akan ada banyak suara anak-anak yang bermain di dalam rumah, sama seperti yang kamu inginkan. Sebentar lagi akan lahir anak Asa yang ketiga, kamu pasti senang juga 'kan Deb." Salma dan Angkasa terkejut dan saling berpandangan dengan kening tertaut.
"Ibu minta kamu restui mereka berdua ya, Nak," lanjut Bu Ida.
Setelah rampung semua, mereka bertiga kembali ke mobil tanpa saling berbicara satu sama lain.
Di dalam mobil Bu Ida kembali duduk di belakang bersama Salma. Kedua tangannya masih memegang tangan Salma sembari sesekali mengusap perut Salma yang rata.
"Kenapa, Bu?" Tak tahan karena penasaran dan merasa risih, Salma akhirnya mengeluarkan pertanyaan.
__ADS_1
"Di jaga baik-baik, sehat terus, semoga Ibu masih punya umur untuk menggendongnya," ucap Bu Ida seraya mengusap perut Salma lagi.
"Ah, Ibu salah paham, saya tidak hamil." Salma menggelengkan kepala bingung. Matanya bertatapan dengan Angkasa melalui kaca spion.
"Tidak, Ibu tahu kamu ini sedang ada isinya," ujar Ibu Ida lagi seraya tersenyum.
Salma tidak melanjutkan pertanyaannya, ia diam dengan sejuta pikiran dan perasaan yang bercampur aduk.
Setelah mengantar Bu Ida pulang ke rumah, Salma pindah duduk di bangku depan dan mulai menumpahkan keresahannya pada Angkasa.
"Setelah aku dipandang seperti anaknya, sekarang Ibunya Mba Debby beranggapan aku hamil. Apa Ibunya Mba Debby masih teringat akan kehamilan anaknya. Aku capek kalau disama-samakan terus seperti ini."
Angkasa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia juga kurang mengerti mengapa mantan ibu mertuanya itu bersikap demikian.
Jika sedih, tentu ia juga sedih kehilangan istri sekaligus calon anaknya. Kalau mantan mertuanya belum melupakan dan ikhlas, tidak dengan dia. Ia sudah berniat membuka lembaran baru, tanpa membuang kisah yang lama.
Namun sekarang istrinya merasa tidak nyaman. Ia harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan mengutarakan pendapat terkait masa lalunya.
"Sabar ya, ketemunya juga bakal jarang kok." Angkasa mengusap-usap tangan Salma.
...β€οΈπ€...
Maaf baru up lagi ya, semoga tidak lupa dengan jalan ceritanya πππ Kalau lupa, dibaca ulangπ
Yang belum mampir ke novel baruku ini. Ini masih sekuel dari novel pertama aku.
yuk ramaikan kisah Maura yaaa
__ADS_1