Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Cari pengasuh atau tidak?


__ADS_3

"Jangan!"


Kening Angkasa mengernyit, posisi tubuhnya masih mematung condong ke depan meski Salma sudah mundur menghindar dari ciumannya.


"Kenapa?"


"Aku belum mandi, bau asap campur keringat," ucap Salma sembari mengusap peluh yang mengalir di lehernya.


"Lalu kenapa? Aku cuman ingin peluk dan cium kening seperti biasa," ucap Angkasa seraya mencoba berjalan mendekat kembali.


"Ga usah, bangun tidur tadi pagi juga sudah," tolak Salma.


"Beda, Sayang. Ini aku mau berangkat kerja, biasa juga seperti itu. Ga enak kalau berangkat belum peluk dan cium kayak biasanya."


"Cium anak-anak aja. Aku bau, nanti jasmu ikut bau." Salma mengambil kereta dorong si kembar generasi kedua, lalu mendekatkan mereka pada Papanya.


Melihat bahasa tubuh Salma yang terang-terangan menolak dan menjaga jarak dengannya, Angkasa tak mau berdebat panjang di pagi hari. Ia berjongkok di depan kereta bayi lalu mencium kening dan pipi Nala dan Nathan yang masih terlelap.


"Ayo Cakra, Candra kita berangkat sekarang nanti terlambat. Kamu yakin ga mau ikut mengantar di hari pertama mereka sekolah?" Angkasa mencoba menawar sekali lagi.


"Mau, tapi ga sempat, aku belum mandi. Nanti aku nyusul sekalian jemput mereka pulang sekolah. Cakra, Candra, Mama minta maaf ga bisa temani di hari pertama sekolah, tapi Mama janji besok Mama yang antar." Salma berlutut di hadapan putra kembarnya.


Si kembar generasi pertama itu hanya mengangguk lemas, lalu langsung keluar dengan kepala tertunduk lesu.


"Jangan berjanji kalau kamu tidak yakin bisa menepati. Aku tidak ingin mereka merasa kehilangan ibunya setelah kelahiran kedua adiknya. Kehadiranku di sekolah pada hari pertama mereka masuk, memang tidak bisa menggantikan kehadiran ibunya tapi aku akan berusaha," ucap Angkasa pelan. Ia tahu ucapannya ini akan membuat Salma semakin merasa tambah bersalah.


"Habis mandi aku langsung ke sekolah, Mas. Aku usahakan cepat," ucap Salma resah. Matanya tak beralih dari Cakra dan Candra yang duduk di dalam mobil dengan wajah tak bersemangat.


"Tak perlu dipaksakan, hari ini aku yang temani Cakra dan Candra sampai mereka pulang sekolah. Nanti aku hibur mereka dan beri pengertian. Aku yakin mereka akan mengerti keadaanmu, mereka anak-anak yang cerdas. Aku antar anak-anak dulu." Sebelum Salma sadar, Angkasa berhasil mencium keningnya, "Eh, Sayang. Tolong pikirkan lagi penawaran ku kemarin," ucap Angkasa sebelum menutup pintu mobil.

__ADS_1


Salma menarik kereta si kembar kembali masuk ke dalam kamar. Ia memutuskan segera mandi, setelah memastikan keduanya masih terlelap. Mandi kilat dengan pintu terbuka dengan dua bayi di dalam kereta menontonnya dari ambang pintu kamar mandi, adalah kegiatan sehari-harinya sejak kehadiran kembar generasi pertama dan sudah berlanjut ketika generasi kedua lahir.


Sepanjang membasuh tubuhnya, ia mengingat perbincangan antara dia dan suaminya beberapa hari yang lalu.


"Aku datangkan pengasuh ya? Narti akan kembali lama, ibunya sakit. Kamu kewalahan kalau harus menjaga empat anak sekaligus," ujar Angkasa.


Malam itu Angkasa yang baru pulang kerja, mendapatinya masih sedang menggendong Nathan yang rewel sembari menemani si kembar generasi pertama bermain puzzle. Daster yang sama ia gunakan sejak pagi dengan rambut diikat asal keatas, menandakan tubuhnya belum tersentuh air sejak pagi.


"Aku masih sanggup kok, Mas. Ini kebetulan aja belum mandi, tadi Nathan sedikit rewel jadi tidurnya harus digendong seperti ini," elak Salma.


"Apa salahnya sih ambil satu lagi orang yang bantu kamu di rumah?"


"Ga ada salahnya, hanya aku belum merasa butuh." Salma masuk ke dalam kamar lalu menaruh Nathan di ranjang bayi. Ia melakukan itu hanya karena ingin menghindari perbincangan tentang pengasuh bayi.


Selesai mandi kilat, Salma keluar dari dalam kamar mandi, lalu duduk di tepi ranjang memandangi bayi kembarnya. Ia merenungi saran dari suaminya untuk mengambil seorang pengasuh untuk membantu dirinya.


Seharusnya ia senang Angkasa memperlakukannya bak seorang ratu dan mendahulukan kenyamanannya. Namun banyaknya berita yang beredar tentang pengasuh bayi yang bermain api dengan bosnya, membuatnya sedikit takut membuka pintu rumahnya untuk orang asing.


"Tidak masalah, seharusnya memang kamu yang memilih karena orang itu akan berurusan langsung dengan kamu," ujar Angkasa saat ia menyampaikan maksudnya.


Pagi itu sebelum menjemput si kembar generasi pertama pulang dari sekolah, Salma ditemani Angkasa pergi ke sebuah agen yang menyediakan banyak tenaga kerja.


Salma langsung membuka lembar demi lembar album foto beserta biodata calon pengasuh yang disodorkan oleh pengelola yayasan. Sampai di lembar terakhir, ia belum menunjuk satupun dari sana.


"Belum ada yang cocok?" bisik Angkasa. Ia melihat kening istrinya terlipat menandakan ada yang tak beres dengan isi kepala Salma.


"Belum," ucap Salma. Ia kembali membuka album mulai dari halaman depan, "Hanya ini, Bu?" tanyanya setelah lelah mencari.


"Iya, Bu. Calon pekerja kami yang siap menjadi pengasuh saat ini ada 75 orang. Semuanya sudah terlatih dan mempunyai sertifikat. Sebagian besar juga berpengalaman," ujar admin pengelola meyakinkan.

__ADS_1


"Bagus itu, pilih yang paling berpengalaman," ujar Angkasa ikut mengintip album foto dari balik bahu Istrinya, "Yang ini pengalamannya banyak, pernah kerja di luar negeri juga." Angkasa menunjuk satu buah foto.


"Benar, kerjanya baik. Banyak yang cocok," timpal admin pengelola. Salma berhenti sebentar mengamati foto yang ditunjuk Angkasa, lalu kepalanya menggeleng dengan kening semakin terlipat dalam


Beberapa foto sudah ditunjuk Angkasa dan disarankan admin pengelola, tapi semuanya ditolak mentah-mentah dan tanpa alasan jelas dari Salma.


"Sebentar ya, Mba saya ijin diskusi dulu sama istri," ucap Angkasa. Ia lalu menarik tangan istrinya ke teras depan, "Kenapa tak ada satupun yang kamu pilih dari daftar sebanyak itu? Apa ada kriteria khusus yang kamu inginkan?" tanya Angkasa lembut.


"Aku cari yang usianya 50 tahun keatas," ucap Salma.


"Tadi memangnya ga ada?"


Salma menggeleng, "Kita cari di tempat agen yang lain aja yuk," ajaknya.


"Memangnya kenapa harus usia 50 tahun keatas? apa ada jaminan usia segitu berpengalaman? apa tidak lebih bahaya karena usia lanjut biasanya kurang gesit menjaga anak bayi dan balita."


"Ga harus sih, tapi aku maunya yang usia lanjut ga apa-apa lambat, asal aku tenang."


Angkasa menyipitkan kedua matanya, "Kamu tidak mau memilih yang muda, karena takut akan terjadi sesuatu?"


"Sesuatu apa?" Salma memalingkan wajahnya jengah.


"Aku tergoda dengan pengasuh misalnya?"


"Sudah ada rencana untuk tergoda?"


Angkasa tertawa keras sampai menggelengkan kepalanya geli, "Kamu lupa kalau Narti juga masih muda, dia baru umur 22 tahun loh, manis juga wajahnya. Kalau aku mau, dia sudah jadi istriku. Kalau ada rencana selingkuh, ga perlu susah cari pengasuh. Begitu tahu aku sedang cari pengasuh, banyak model dan artis pendatang baru yang sepi job menawarkan diri," ucap Angkasa dengan tawa bangganya


"Oh, ya?" Tatapan tajam dan sinis Salma mengakhiri tawa angkuh Angkasa.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2