
Salma mendesah malas, "Sudahlah, Mas tak perlu dibahas lagi. Itu sudah berlalu dan aku sudah tahu akan kebenarannya. Semakin Mas Armand bersikukuh, semakin terlihat kebohongannya Mas Armand," ucap Salma pelan.
Armand mengepalkan tangannya, ia lalu mengalihkan pandangannya pada Angkasa, "Tunggu sampai kamu tahu apa yang ditutupi oleh pria yang kamu anggap hebat ini," ujarnya pada Salma geram.
"Ayolah kita pulang, kasihan Cakra dan Candra sudah menunggu. Kamu juga Armand, lihatlah istrimu, dia sudah menunggumu di depan rumah." Angkasa menunjuk ke arah Tania yang berdiri di depan pagar dengan wajah tertekuk masam.
"Kalian bicara apa tadi?" tanya Salma saat mereka berdua sudah meluncur di jalan raya.
"Biasa aja, hanya perbincangan para lelaki. Dia tanya ada urusan apa aku ada di sana. Yah, aku katakan kalau aku menunggu calon istriku." Salma tertawa kecil mendengar gurauan Angkasa, tapi tidak bagi pria itu.
Angkasa dengan sebelah tangan memegang kemudi dan tangan satunya mengusap-usap dagunya, Angkasa mencoba mengingat-ingat percakapan Armand dan dirinya.
'Apakah Salma tahu, bagaimana almarhum istrimu meninggal dunia?'
'Aku memang belum menceritakan secara detail, tapi aku yakin Salma dan keluarganya sudah tahu. Cerita itu sudah lama dan tersebar di semua halaman berita.'
'Aku tidak yakin kalau Salma pernah mendengar sisi kelam dari kisahmu.'
'Sisi kelam yang bagaimana?' Angkasa mulai gusar.
__ADS_1
'Kamu tentu ingat, kalau Tania adalah sepupu dari almarhum istrimu. Bagi keluarga istrimu, kematiannya adalah percobaan pembunuhan bukan musibah.'
'Omong kosong. Itu cerita lama yang dilebih-lebihkan. Tahu sendiri bagaimana cara pencari berita agar apa yang mereka tulis menarik dibaca. Aku dan keluarga Deby, sudah saling memaafkan. Semua sudah selesai.'
'Kenapa tidak kau ceritakan yang sebenarnya pada Salma?'
'Yang sebenarnya kecelakaan itu musibah dan aku harus kehilangan istri dan calon anakku. Semua sudah terbuka di media sosial. Akupun sudah pernah cerita dengan Salma.'
'Termasuk gosip kedekatanmu dengan para artis kala itu?' Armand menyeringai.
Sebelum tragedi itu terjadi, pamor Angkasa sedang melambung tinggi. Banyak wanita yang berusaha menggodanya, tapi ia dan Debby saling memegang kepercayaan satu sama lain tak peduli dengan berita yang beredar di luar sana. Mereka baik-baik saja.
Ia lalu melirik Salma yang duduk di sampingnya dan menimbang-nimbang, apakah ia harus menceritakan kabar burung yang sempat beredar dulu. Bagaimana jika Salma lebih percaya dengan berita itu dari pada sebenarnya?
"Ada apa?" Salma menyentuh lengan Angkasa lembut.
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa bersyukur bisa memilikimu." Angkasa menggenggam tangan Salma yang tadi menyentuhnya, "Salma, kalau kamu mendengar apapun tentang aku di luar sana. Berjanjilah selalu bicarakan denganku terlebih dulu, dan tolong tetap percaya padaku," tambahnya.
Salma mengerutkan kening, tapi tak lama tersenyum dan menganggukan kepala. Angkasa membalasnya dengan kecupan ringan pada tangan yang masih dalam genggamannya.
__ADS_1
"Sampai besok pagi," ucap Salma sebelum turun dari mobil. Angkasa menganggukan kepala dan matanya mengiringi wanita itu sampai masuk ke dalam rumah.
Mereka besok pagi akan mengadakan pernikahan kecil dan sederhana yang nantinya, pesta akan dirayakan di Jakarta sekalian mengumumkan hubungan resmi mereka.
Salma hampir terpejam setelah menghapus masker di wajahnya ketika Armand datang ke rumahnya.
"Tidak usah keluar kamar," titah Bimo padanya ketika mendengar suara Armand di ruang tamu.
Dari balik pintu kamar, Salma menempelkan telinganya. Tidak bisa dipungkiri, walaupun ia malas bertemu tapi tetap penasaran untuk apa mantan suaminya itu datang malam hari seperti ini.
Salma duduk bersandar pada pintu kamar sembari mendengar cerita yang disampaikan Armand pada kakak dan iparnya.
"Saya hanya berkewajiban menyampaikan berita ini yang mungkin tidak diangkat di media. Saya hanya takut, kalau kedua anak saya diasuh oleh pria semacam itu. Yaaah, benar atau tidaknya saya juga tidak tahu, tapi setidaknya kita tetap harus waspada bukan?"
"Baiklah, sudah malam. Saya lega sudah menyampaikan berita ini. Setidaknya tidak membuat saya terlalu merasa bersalah pada Salma dan anak-anak, jika nanti terjadi sesuatu pada mereka. Semua keputusan ada di Mas Bimo dan Mba Tia, tentu tahu apa yang terbaik untuk Salma dan si kembar. Sampaikan salamku untuk mereka. Permisi."
...❤️🤍...
Yuhuuu lanjutan mampir juga ke novel temanku yok.
__ADS_1