Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Tak mau tersaingi


__ADS_3

Angkasa memutar kepalanya ke arah belakang dan mendesah kesal, begitu mendapati Emran sedang mengulum senyum sembari berpura-pura fokus pada layar di depan. Sementara wanita yang berada di sisinya, kembali memundurkan badannya.


Angkasa kembali melirik ke arah Salma tanpa menoleh. Hampir satu bulan ini ia tidak dapat bertemu dengan Ibu si kembar, bahkan untuk mengirim pesan saja ia tidak dapat sesering sebelumnya karena khawatir jika harus menghentikan percakapan tiba-tiba, Salma akan merasa tersinggung.


Beberapa minggu belakangan ini, waktu dan tenaganya banyak sekali tersita akan proyek baru yang akan membawa perusahaannya Go Internasional. Untuk hari ini saja, ia harus memotong waktu rapat dengan kolega hanya untuk sekedar datang dan melihat wajah cantik Salma.


Emran kawannya yang usil itu, sudah mengambil gambar dan video Salma saat di gedung bioskop secara diam-diam dan mengirimkan padanya saat rapat. Hal itu tentu mengacaukan konsentrasinya saat memimpin rapat, apalagi ketika para penggemar berjenis kelamin pria, mengerubungi wanitanya untuk meminta foto bersama.


Salma dan Angkasa sama-sama tegang ketika film memasuki adegan saat mereka beradu bibir. Suara sorakan dan tawa menggoda terdengar membahana dalam ruangan gelap itu. Jelas terlihat Angkasa dan Salma sangat menghayati peran mereka saat adegan itu diambil.


Dalam hati Angkasa memaki kameramen dan bagian editing, karena mengambil gambarnya secara close up dan detail sekali sehingga ekpresi mesumnya sangat jelas terlihat.


Setelah tersipu lanjut tertawa begitu terus berulang kali sepanjang pemutaran film, akhirnya film perdana Salma selesai diputar. Tepuk tangan membahana mengiringi nama-nama semua pemeran dipanggil maju ke depan.


Panggilan terakhir ditujukan untuk pemeran utama. Angkasa mendahului Salma keluar dari barisan bangku, tapi saat di lorong ia berhenti lalu berbalik dan mengulurkan tangannya pada Salma. Sekali lagi tawa dan tepuk tangan membahana, hanya sekelompok kecil saja yang berdecih dan saling berbisik sinis.


Salma dan Angkasa bersama pemain lainnya duduk membelakangi layar di bangku yang sudah disediakan. Mereka berfoto serta menjawab satu persatu pertanyaan yang dilontarkan penonton.


"Mba Salma bagaimana rasanya berciuman dengan Pak Angkasa?" Salah satu pertanyaan yang tak mampu Salma jawab. Ia hanya tersenyum dan menunduk malu. Dalam hatinya menggerutu gemas, kenapa hal itu ditanyakan kepadaku bukan sebaliknya.


"Hahaha, pertanyaan macam apa itu, kalau dia jawab tidak menyenangkan saya jadi malu." Angkasa tergelak kencang menutupi rasa gugupnya.


"Kalau jawabnya ga enak, itu berarti munafik Pak Asa. Semua cewek pasti suka, saya juga," celetuk Jane sinis dari arah belakang.


"Masa iya, kalian ini berlebihan. Pasti ngomong seperti itu karena ingin saya panggil main film lagi yaaa." Angkasa membalikan badan menggoda para gadis di belakangnya.


"Lain kali saya yang jadi peran utama ya, Pak tapi lawan mainnya harus Pak Angkasa. Adegan ranjang pun saya mau, Pak," ujar Jane dengan beraninya.


"Ya, ya, ya, lucu sekali kalian ini." Angkasa tetap menanggapi dengan tertawa, tapi kali ini tawanya terdengar kering dan dipaksakan.


"Oke, baiklah sebelum kita bagi-bagi merchandise ada penampilan dari Pabio yang akan membawakan soundtrack film ini. Yuk, Mas Pabio, silahkan." Emran memberi pengeras suara pada penyanyi muda pendatang baru.


Salma tampak menikmati persembahan lagu dari Pabio, ia tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya dari samping.


"Suka lagunya atau orangnya?" bisik Angkasa.

__ADS_1


"Dua-duanya," jawab Salma masih dengan tatapan kagum pada Pabio.


"Aku juga bisa nyanyi seperti itu."


"Oh ya?" Salma menoleh sekilas dengan takjub lalu kepalanya kembali mengarah pada Pabio yang akan memasuki lagu bagian puncak.


"Aku juga ikut andil dalam pembuatan syair lagu itu," ucap Angkasa lagi seolah tak ingin mata Salma beralih memandang pria lainnya.


"Oh ya?" Salma kembali menoleh dengan mata membola semakin takjub, "Bagus banget loh syairnya," ujarnya sembari kembali memandangi Pabio.


"Iya, susah loh nulis lagu."


"Hmmm." Salma menganggukan kepala dengan bibir tersenyum. Matanya tetap tak mau beralih dari penyanyi muda itu.


Angkasa ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi Emran memberikan kode dengan kedipan mata dan gerakan tangannya. Angkasa mengerti yang dimaksud Emran, tangannya lalu meraba kantong celananya dan memastikan barang itu masih aman ada di sana.


"Terima kasih, Pabio suara indahnya. Kata orang suatu soundtrack film itu berpengaruh besar pada mem-booming-nya sebuah film. Lagu yang baru saja kita dengar, sudah pasti akan meledak bersamaan dengan pemutaran film di bioskop seluruh Indonesia, tepuk tangannya dooong." Emran berseru dengan semangat.


"Terima kasih, Pak Emran lagu yang saya nyanyikan tadi juga ciptaan dari Pak Angkasa." Pabio menunjuk ke arah Angkasa yang langsung berdiri dan tersenyum. Cuping hidung Angkasa mengembang dan mengempis bangga ketika Salma menatapnya penuh kekaguman.


"Benar sekali, Pak Emran. Oh ya, saya mau nyanyi satu lagu lagi boleh ga?" tawar Pabio.


"Boleh sekali, beralbum-album juga tidak apa."


"Tapi saya mau di dampingi dua pemeran utama." Pabio menunjuk Salma dan Angkasa yang sudah kembali duduk.


"Ow, silahkan, silahkan bawa saja. Panggung ini milik Pabio sekarang." Emran memberikan jalan untuk Salma dan Angkasa maju mendekati Pabio.


"Sebelumnya permisi, saya mau menyanyi sama Mba Salma dulu boleh? Saya salah satu penggemar Mba Salma Anggrek Bulan loh." Pabio mengacuhkan Angkasa yang berdiri di belakang Salma.


"Boleh." Salma mengangguk pelan. Walaupun panggung hiburan tak asing untuknya, tapi berdiri di hadapan ratusan pasang mata membuat kakinya bergetar.


Pabio memposisikan tubuhnya saling berhadan dengan Salma, lalu ia mulai menyanyikan sebuah lagu.


Di ujung cerita ini

__ADS_1


Di ujung kegelisahanmu


Kupandang tajam bola matamu


Cantik dengarkanlah aku


Aku tak setampan Don Juan


Tak ada yang lebih dari cintaku


Tapi saat ini ku tak ragu


Ku sungguh memintamu ...


Pabio meraih tangan Salma lalu memutar tubuh wanita itu hingga menghadap ke belakang. Semua sendi tubuhnya terasa lepas satu persatu dari tempatnya ketika ia tak mendapati Angkasa ada di hadapannya, melainkan berlutut dengan satu kaki. Tangan kiri memegang kotak merah terbuka dan tangan kanan memegang pengeras suara lalu melanjutkan lagu yang dinyanyikan Pabio.


Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan tertidur di sampingku


Aku tak main-main


Seperti lelaki yang lain


Satu yang kutahu


Kuingin melamarmu


...❤️🤍...


Lirik lagu by Badai Kerispatih


Judul : Melamarmu

__ADS_1


__ADS_2