Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
ide abstrak Angkasa


__ADS_3

Selama Emran di Makassar, Angkasa terus mendesak kawannya itu agar segera menyiapkan sebuah konsep acara untuk Salma. Genap tiga hari setelah kedatangan Salma ke kantornya, Emran masuk ke ruangan Angkasa dengan membawa laptop yang terbuka dan buku catatan di tangannya.


"Akhirnya kamu pulang, Emran," sambut Angkasa dengan tangan terbuka.


"Aku ke luar pulau juga bukan jalan-jalan, tapi kerja untuk kantormu. Untuk apa sih dikejar-kejar supaya cepat pulang? Sebenarnya hari ini aku diajak penyelenggara wisata loh, gara-gara kamu rusak semua," gerutu Emran dengan wajah kusut.


"Soal gampang itu kalau wisata. Gimana, gimana, sudah selesai belum?" kejar Angkasa tak sabar.


"Apanya yang selesai? Aku masih ambyar konsep yang kamu kasih."


"Gimana sih, kamu 'kan ahli di bidangnya."


"Minimal kasih aku petunjuklah kalau mau buat progam acara berdasarkan talentnya, seperti apa wujudnya?" Emran tersenyum penuh arti.


"Apa harus?"


"Ya harus itu. Jangan bilang wanita itu si Jane?"


"Bukanlah," sergah Angkasa cepat.


"Lalu siapa? Febri? Aneke? Bertha? Caroline?"


"Siapa sih itu?"


"Kamu itu kebiasaan, hafal wujudnya tapi ga tahu namanya. Mereka 'kan bidadari penghasil keuntungan perusahaanmu ini yang selalu mengaku-ngaku ada hubungan dekat sama kamu."


Angkasa hanya mengangkat sebelah sudut bibirnya saja menanggapi sindiran Emran. Ia tidak menyangkal, karena tidak hanya nama wanita yang disebut tapi banyak lagi wanita yang berharap lebih dari keramahan yang ia berikan.


"Bukan semua?" kejar Emran. Angkasa menggeleng dengan senyum semakin lebar.


"Bukan siapa-siapa, buruan apa idemu." Angkasa menumpangkan kaki ke sebelah kakinya yang lain lalu ia menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Angkasa berusaha menutup mulutnya yang tak bisa berhenti tersenyum dengan berpura-pura mengusap janggutnya yang tipis.


"Jadi penasaran." Emran menyipitkan mata curiga, tapi ia tetap membuka laptopnya dan mencari sesuatu di sana, "Sa, saran nih ya kalau jaman sekarang talkshow di televisi itu kurang ada peminatnya. Kamu tahu dunia media sosial itu dipenuhi oleh podcast, orang malas duduk di depan televisi. Mereka bisa membuka ponselnya dimanapun hanya untuk menonton acara gosip atau bincang-bincang santai."


"Hmmm." Angkasa mengangguk-anggukan kepalanya berusaha mencerna kalimat Emran, tapi otak sialannya selalu tertuju pada wanita yang masih ada di dalam bis.


"Berhubung konsepmu ini ga jelas dan aku ga tahu wujud wanita yang membuatmu menjadi sedikit gila karena tersenyum-senyum sendiri padahal yang aku omongkan ini ga ada lucu-lucunya sama sekali, aku sarankan bagaimana kalau kamu buat sinetron dan dia jadi bintang utamanya."


"He? Apa? Gimana?" Angkasa memajukan tubuhnya dan kembali serius menyimak perkataan Emran.


"Sudah kembali dari dunia khayal?" sindir Emran kesal.

__ADS_1


"Apa itu tadi yang kamu bilang, sinetron?"


"Iya, sinetron. Televisi sekarang masih dirajai oleh program sinetron. Ibu-ibu masih setia menunggu cerita sinetron walaupun sudah tahu akhir ceritanya, dan wanita idamanmu itu jreeennngg ... Langsung terkenal." Emran mengangkat kedua tangannya keatas.


"Emmm, sinetron ya." Angkasa mengusap-usap lagi dagunya. Keningnya tampak berkerut dalam, "Tapi aku ga tahu dia bisa akting atau tidak."


"Gampang itu. Dia cantik ga?"


"Cantik dong," sahut Angkasa cepat dan mantap.


"Ciiih!" cibir Emran sinis, "Wajah baru, cantik, cerita segar dengan peran utama yang mengundang air mata dan sumpah serapah untuk antagonis, lalu ada pangeran penyelamat yang datang. Itu sudah cukup untuk mengangkat sinetronmu melambung."


"Begitu ya. Berarti harus cerita romansa percintaan?"


"Iya dong, masak laga klasik udah ga jaman."


Kerut di kening Angkasa semakin dalam.


"Gak setuju!"


"Eh, kenapa?" Emran terkejut, baru kali ini idenya di tolak mentah-mentah oleh Angkasa.


"Berarti harus ada lawan main pria yang berperan jadi pasangannya 'kan?"


"Ya itu aku ga setuju."


"Alaaaah! Kamu cemburu? Ini bisnis, Asa jangan main hati. Lagian sinetron Indonesia itu paling jauh pegangan tangan sama peluk, ga ada cium-cium seperti drama korea."


Angkasa menggelengkan kepalanya semakin keras. Emran semakin mencibir kawannya itu.


"Terserah kau sajalah. Aku sudah ga punya ide untuk hal yang ga jelas macam ini." Emran meringkas laptop serta bukunya dan berdiri dari duduknya.


"Bentar-bentar, Man. Tunggu dulu, kamu sejak pulang dari Makassar kenapa gampang marah sih." Angkasa melambaikan tangan menahan kawannya itu agar jangan keluar dari ruangannya.


"Siapapun pasti jengkel lihat atasan lemah karena wanita macam kamu ini."


"Oke, oke aku setuju dengan usulmu itu, tapi bisakah aku yang tulis skenarionya?"


Emran melengos malas, tapi akhirnya ia menganggukan kepala.


"Terserahlah kau mau buat cerita macam apa," ujar Emran pasrah, "Kapan kita mau jadwalkan audisi untuk peran lainnya?"

__ADS_1


"Satu lagi." Angkasa merapatkan bibirnya bersiap mengatakan hal yang sebenarnya bertentangan dengan hati nuraninya.


"Apa?"


"Aku yang jadi peran utama prianya." Rasanya ia ingin membuka jendela dan lompat dari ketinggian gedung bertingkatnya.


Rahang Emran seakan lepas dari mulutnya. Laptop yang ia pegang sejak tadi hampir terjatuh karena terlalu terkejut dan tak percaya dengan permintaan sang pemimpin perusahaan.


"Bisa?" ulang Angkasa.


"Kamu ... baik-baik saja, Sa?" Emran berjalan mendekat ke arah kawannya.


"Kenapa? Ga masalah 'kan kalau aku ikut bermain dalam produksiku sendiri? Atta Halilintar, Raffi Ahmad juga bermain dalam film mereka," ujar Angkasa membela diri, walaupun dia sendiri malu mengatakan hal itu.


"Mereka memang awalnya public figure, Asaaaa!"


"Tapi sama-sama manusia 'kan? Kamu meragukan kualitas aktingku? Apa aku harus melewati jalur audisi dulu, oke aku sanggup."


Emran semakin membesarkan bola matanya menanggapi kegilaan kawannya itu.


"Kamu yang produksi, kamu yang tulis skenario dan kamu yang bermain dalam film itu? Kenapa ga sekalian kamu yang sutradarai sendiri?"


"Ide bagus. Apa kamu bilang tadi? Film? bagus itu aku setuju dari pada sinetron." Angkasa semakin bersemangat.


Raut wajah Emran sudah tidak bisa digambarkan lagi bagaimana lagi kesal dan terkejutnya mendengar ide baru dari Angkasa.


...❤️🤍...


Mampir sini yuk karya temanku yang bagus banget


Blurb :


Meski terlahir dan tumbuh dalam keluarga yang harmonis dan santun, tetapi Mirza tetaplah sosok anak muda yang butuh mengekspresikan diri dan ingin menikmati kebebasan masa mudanya.


Ia menjadi pemuda yang urakan dan sering gonta-ganti pacar dengan dalih penjajakan untuk menentukan sebuah pilihan yang tepat, gadis pilihan yang akan Ia jadikan sebagai istri.


Namun, dari banyaknya gadis yang Ia pacari, tak satupun yang bisa memenuhi kriteria Mirza. Kriteria istri idaman, yang membuat semua keluarga tercengang.


"Mereka semua adalah gadis yang tidak bisa menjaga dirinya dengan baik, masak baru pacaran sudah minta cium?" gerutu Mirza.


Akankah Mirza, dapat menemukan gadis seperti yang Ia idam-idamkan?

__ADS_1



__ADS_2