Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Ungkapan perasaan


__ADS_3

Angkasa menyelesaikan lagunya dengan sangat apik walau suara bergetar dan nada sedikit lari kesana kemari. Lagu telah selesai, musikpun sudah tak terdengar lagi. Lutut Angkasa sudah mulai nyeri dan gemetar karena lelah. Senyumnya tetap terlihat lebar tapi matanya menyiratkan kekhawatiran. Suasana senyap menunggu apa yang selanjutnya terjadi.


Salma diam terpaku tak berani bergerak. Ia masih diambang rasa percaya dan tidak percaya. Ia takut jika yang dihadapannya ini adalah fatamorgana atau salah satu bagian dari skenario pembuka. Apalagi sekarang jamannya prank yang tidak memikirkan perasaan orang lain dan ia tak mau menjadi salah saru korbannya.


"Terima ... Terima ... Terimaa." Sorakan penonton diiringi tepukan tangan yang seirama menyadarkan Salma dari ketegangannya.


"Mba Salma, kasihan Pak Angkasa kakinya sakit tuh," bisik Pablo.


"Ah, maaf. Pak Asa berdiri dong masa berlutut, ga pantes ah." Salma menarik tangan Angkasa agar kembali berdiri.


"Ga mau. Kamu belum jawab, kamu terima lamaranku, Salma?" ulang Angkasa tapi kali ini tanpa bernyanyi.


Salma menelan salivanya kasar. Tangannya saling meremas dan matanya mencari-cari petunjuk, apakah ini masuk dalam sebuah adegan promosi. Lampu sorot menyinari mereka berdua sehingga semua mata tertuju padanya.


"Apa ini, Pak?" Tak menemukan jawabannya, Salma membungkukan badan dan berbisik langsung pada Angkasa.


"Menikahlah denganku. Aku ingin kamu menjadi istriku," ucap Angkasa balas berbisik.


"Pak, saya tidak di briefing tentang ini loh. Saya harus jawab apa?" bisik Salma lagi masih dalam posisi membungkuk.


"Jawaban yang paling tepat dan benar adalah aku mau, Angkasa," ucap Angkasa dengan seringai di bibirnya.


"Bukan Marcel?"


"Yang berlutut di hadapanmu ini Angkasa, bukan Marcel, Salma. Ayolah, kakiku sakit dan aku tidak mau dengar kata penolakan atau ingin berpikir dulu," ujar Angkasa tak sabar masih dengan berbisik.


"Pa-Pak Angkasa mau melamar saya? Ini bukan promosi film? Tapi kita tak pernah ada hubungan apapun."

__ADS_1


"Tak penting itu. Kita bukan anak ABG, bisa habis umurku kalau harus pacaran dulu." Angkasa meringis menahan nyeri di lututnya.


"Kenapa, Pak?"


"Sakit Salma, please jawab cepat. Jangan buat aku malu dengan kata penolakanmu," ucap Angkasa lirih.


Para penoton serta pemain pendukung penasaran mengamati perbincangan keduanya di atas panggung. Mereka saling berbisik satu sama lain, Salma yang membungkuk dan Angkasa yang mendongak membuat yang menyaksikan tak dapat mendengar apa yang keduanya perdebatkan.


"Baiklah," Salma menegakkan tubuhnya lalu menyalakan pengeras suara, "A-aku mau Pak Angkasa," ucap Salma dengan sedikit terbata. Tangan Salma basah karena gugup. Ia masih belum yakin apakah ini termasuk skenario ataukah kenyataan.


Jika ini termasuk dalam skenario, ia tak tahu apakah bisa kuat dalam menjalani hari-harinya setelah ini. Berlebihan memang kedengarannya, tapi semenjak ia mengenal dan dekat dengan pria bernama Angkasa ini ia merasa sedang mengalami yang orang sebut puber kedua. Berusaha menahan diri dan bersikap anggun di depan orang lain dan pria yang dikaguminya, padahal kalau diperkenankan ia mungkin akan merangkul serta mencium Angkasa.


Salma menggelengkan kepalanya dan mengerjapkan matanya berulangkali, berusaha mengusir pikiran kotor yang sempat melintas di kepalanya.


"Aahh, syukurlaaah." Angkasa tersenyum lega diiringi tepuk tangan dan sorak sorai yang membahana, tapi senyumnya berubah meringis karena rasa nyeri pada kakinya yang sudah lama tertekuk mendadak kram saat ia hendak berdiri, "Aaahh ... awawaw."


"Pak Asa kenapa?" Pablo dan Emran dengan sigap membantu atasannya berdiri.


"Ow biasa itu menjelang usia 40tahun," ujar Emran.


"Terima kasih sudah diingatkan, Emran," sahut Angkasa berusaha tenang. Sikap dan semua ucapannya saat ini sedang dipantau oleh mata penonton dan media.


"Selamat buat Pak Angkasa dan Mba Salma, kapan ini diresmikan? Saya senang sekali loh kalau di daulat menyanyi di acara resepsi pernikahan Pak Angkasa dan Mba Salma."


Angkasa menoleh ke arah Salma yang berdiri kaku di sebelahnya. Wanita itu tampak tegang tak berani bergerak banyak.


"Kalau saya sih, maunya secepatnya saja. Untuk apa lama-lama, ya 'kan Sayang?" Angkasa meremas tangan Salma lembut. Wanita itu hanya menanggapi dengan anggukan kepala yang singkat.

__ADS_1


Angkasa sangat mengerti kalau Salma mungkin masih shock dengan lamaran dadakan ini. Bagaimana tidak, benar apa yang dikatakan Salma sebelumnya mereka tidak pernah ada komitmen apapun. Tak pernah membicarakan tentang sebuah hubungan. Selama ini mereka hanyalah sebatas rekan kerja yang akrab.


Ia pun tergolong nekat melamar wanita di depan umum. Resiko ditolak sangat besar, tapi entah mengapa ia tetap nekat meskipun Emran sudah memperingatinya berulangkali. Emran tahu persis, ia termasuk orang yang tak mau dengar kata penolakan. Ia akan melakukan apapun asal permintaannya diterima termasuk lamarannya malam ini.


"Pak Angkasa sejak kapan sih menjalin hubungan dengan Mba Salma?" seorang wartawan melemparkan pertanyaan.


Salma dan Angkasa saling bertatapan seolah juga saling bertanya.


"Terjadi begitu saja," sahut Angkasa singkat.


"Boleh dong diceritakan, apa nih yang disukai dari masing-masing pasangan?"


Angkasa menggaruk kepalanya, kalau dia sih gampang saja merentetkan kekagumannya pada Salma, tapi apakah sebaliknya Salma menyukai dirinya mengingat mereka tidak pernah saling mengungkapkan rasa.


"Mmm, saya kagum dengan Salma. Bagi saya dia wanita yang istimewa dan sulit diungkapkan dengan kata-kata," ujar Angkasa sembari menatap Salma penuh cinta.


Sejenak Salma terpaku dengan tatapan Angkasa. Mata dan kepalanya seakan tak mau berpaling dari wajah Angkasa.


"Kalau Mba Salma?


"Ehm, saya ...." Salma menggantungkan kalimatnya. Bukannya tak ada yang bisa ia sampaikan, tapi ia malu jika harus memuji padahal belum pernah saling terbuka tentang perasaan masing-masing.


"Pasti karena kaya, kalau bukan Pak Angkasa pasti ditolak mentah-mentah," celetuk salah satu wanita dari deretan pemain pendukung. Semua saling berpandangan, mencari dan menuduh kiranya siapa yang mengucapkan kalimat itu.


Salma mendesah kesal lalu ia tertawa kecil dan mengangkat kepalanya, "Tidak salah, wajar jika harus realistis. Semua wanita saya rasa kagum dan tertarik dengan Pak Angkasa. Beberapa bulan terakhir selama pembuatan film ini, saya harus menguatkan mental karena penggemar Pak Angkasa ternyata banyaaak sekali." Salma terkekeh menertawai kalimatnya sendiri. Angkasa dan yang lainnya pun ikut tertawa bersamanya.


"Termasuk saya. Saya juga salah satu orang yang sangat menganggumi Pak Angkasa ... bahkan lebih dari sekedar menganggumi. Saya suka sama Pak Asa," lanjut Salma serius setelah tawanya mereda.

__ADS_1


Sekarang berganti, ia yang menatap Angkasa dengan penuh perasaan. Situasi terbalik, Angkasa dibuat terpaku tak bergerak dengan ungkapan perasaan Salma.


...❤️🤍...


__ADS_2