
"Siang Pak Asa, ada yang mau ketemu." Sekretaris Angkasa menghubunginya dari sambungan telepon pararel, ketika ia sudah bersiap menuju lokasi syuting.
"Siapa? Bukannya kamu bilang sore ini saya sudah tidak ada janji temu lagi?"
"Iya benar, Pak, tapi ini katanya saudara Pak Asa. Mereka ada di bawah agak maksa ketemu kata receptionist."
"Saudara?" Pikiran Angkasa memilah-milah siapa gerangan saudara yang dimaksud, tapi tak satupun ada kemungkinan yang melintas, karena saudaranya yang ia tahu selalu menghubunginya jika ingin bertemu.
"Bagaimana, Pak apa saya suruh naik?"
"Jangan. Saya yang turun, kebetulan saya sudah mau pulang." Demi keamanannya Angkasa memilih menemui tamu yang mengatakan sebagai saudaranya di lobby bawah.
Dari dalam tabung kaca yang membawanya turun dari lantai tujuh ruangannya, Angkasa mengamati pria dan wanita yang duduk di sofa lobby kantornya. Ia merasa tidak mengenali keduanya, tapi ia tetap melangkah mendekati tamunya itu. Perasaan tidak nyaman menghampiri, ia mulai bersikap waspada karena ada kalanya orang berpura-pura kenal untuk menipu bahkan bisa untuk mencelakai.
"Selamat sore Kak Asa." Belum juga ia mendekati keduanya, yang wanita sudah berdiri dan tersenyum kepadanya.
"Sore juga, maaf ...." Angkasa berusaha mengingat-ingat wajah si wanita.
"Tania, Kak Asa lupa ya. Aku adik sepupu Kak Debby." Tania mengulurkan tangannya. Senyum lebar terus terpasang di wajahnya.
"Tania?" Angkasa masih memeras otaknya berusaha mengingat nama dan wajah yang terasa asing untuknya.
"Sudah ku kira, pasti lupa karena kita memang hanya beberapa kali ketemu. Kak Debby dan aku dulu dekat sekali, tapi sejak menikah Kak Debby ikut pindah ke Jakarta," ujar Tania dengan menggerutu manja, "Ini aku dan Kak Debby, lalu ini aku datang waktu pernikahan Kak Asa dan Kak Debby." Tania menyodorkan beberapa lembaran foto guna menguatkan ceritanya.
"Oh, ya ya. Siapa namamu tadi?" Angkasa baru mau menyambut uluran tangan Tania.
"Tania, Kak." Tania membalas genggaman tangan Angkasa dengan erat.
"Lalu ini?" Angkasa melepaskan tangannya terlebih dulu, lalu beralih ke Armand yang berdiri di samping Tania. Wajah pria itu keruh melihat istrinya berlaku genit pada pria lain.
"Saya suaminya Tania." Armand menyambut tangan Angkasa dengan wajah datar tanpa senyum.
__ADS_1
Sejak awal datang ke kantor Angkasa yang megah, rasa cemburu dan iri menguasai hatinya. Dada Armand semakin panas mengingat foto serta video Salma dan Angkasa yang memamerkan kemesraan.
"Salam kenal, Tania dan Armand. Silahkan duduk, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Begini kak Asa, sebelumnya maaf nih kalau merepotkan. Kami 'kan punya usaha catering kecil-kecilan di kota asal saya, boleh ga saya masuk sebagai supply catering untuk di kantor Kak Asa atau lokasi syuting. Maksudnya untuk belajar menangani skala yang lebih besar dari pada di kampung. Siapa tahu rejeki kami ada di Jakarta."
"Catering ya, tapi untuk urusan itu sudah ada bagian yang mengurus."
"Apa kak Asa ga bisa bantu, mungkin kalau untuk catering karyawan kantor terlalu besar ya. Apa bisa untuk pengadaan makan di lokasi syuting. Kalau ga salah rumah produksi Kak Asa mau buat film layar lebar ya? sudah sering berita di infotaiment kalau Kak Asa ikut main, pasti bagus banget ceritanya. Boleh ga saya yang pegang catering untuk artis di lokasi syuting, murah aja ga apa-apa, Kak. Diberi kesempatan aja saya sudah senang, makanannya saya jamin enak dan akan saya berikan yang terbaik," ungkap Tania berapi-api. Ia tidak memberikan celah untuk Angkasa menyela dan menolak.
"Gimana ya, saya harus tanya dulu dengan bagian yang mengatur konsumsi."
"Tolong ya, Kak. Cuman Kak Asa yang bisa bantu kembangkan usaha saya di Jakarta ini." Tania meraih tangan Angkasa dan menggenggamnya dekat dadanya.
"Baik, baik. Nanti segera saya kasih kabar ya. Tinggalkan saja nomer ponselnya di receptionist," ucap Angkasa sembari menarik tangannya.
"Kita saling tukar nomer ponsel aja ya," paksa Tania seraya membuka ponselnya siap mengetik nomer ponsel Angkasa.
"Benar, berapa nomer Pak Armand biar saya simpan dan kirim pesan." Angkasa menghela nafas lega. Kicauan Tania serasa sesak menghimpitnya.
"Sudah saya simpan, segera saya hubungi Pak Armand jika sudah ada kabar."
"Terima kasih, Pak Angkasa. Kami tunggu kabar baiknya."
"Maaf saya harus segera keluar, karena sudah ada janji." Angkasa mengatupkan telapak tangannya dan langsung berlalu dari hadapan mereka.
"Dasar wanita gatal!" kecam Armand begitu mereka sudah di atas sepeda motor. Untuk menghemat pengeluaran selama di kota besar, Tania hanya sanggup menyewa sepeda motor untuk berkeliling kota dengan suaminya.
"Apaan sih, Mas! Kasar sekali kata-katamu."
"Memang begitu adanya, kamu perempuan tak tahu malu. Ada suami di sampingnya, tapi berani bersikap genit sama laki-laki lain. Bagaimana kalau aku ga ada, apa kamu akan ajak Angkasa itu juga naik tempat tidur?"
__ADS_1
"Keterlaluan kamu, Mas. Aku tidak seperti mantan istrimu yang gampangan itu ya!" seru Tania keras mengalahkan kencangnya deru angin.
"Sekali lagi kamu berkata buruk tentang istriku, aku lempar kamu dari motor ini," ancam Armand.
"Aku istrimu, sialan! Ingat kamu masih butuh aku untuk mendekati Salma, jadi hati-hati dengan mulut dan sikapmu, Mas!"
Keduanya saling memaki dan berteriak di atas motor yang melaju. Mereka tak mempedulikan tatapan aneh pengendara yang melintas di samping mereka.
Di dalam mobil, Angkasa menghubungi karyawannya yang biasa mengurus pengadaan barang dan makanan untuk di lokasi syuting.
"Ira, untuk konsumsi di lokasi syuting film Menggapai Cinta Nabila, sudah beres semua?"
"Sudah berjalan baik, Pak di dua lokasi syuting untuk tiga kali makan dalam sehari. Ada masalah apa ya?"
"Tidak ada masalah, tapi apa ada mungkin yang kurang? Ini ada catering baru yang mau coba masuk ... mmm, mereka kenalan saya."
"Ow, sebenarnya sudah teratasi semua, tapi kalau catering masih baru dan Pak Angkasa mau memberi kesempatan, bisa untuk mengisi makanan kecil di sore hari, Pak."
"Makanan kecil ya, oke itu saja. Terima kasih, Ira."
Angkasa lalu menutup ponselnya dan menghubungi Armand saat itu juga.
"Diam! Ini Angkasa telepon," hardik Armand pada istrinya yang masih terus mengomel di belakangnya.
Ia lalu menepikan motornya dan segera menjawab panggilan Angkasa, "Selamat sore, Pak Angkasa. Bagaimana?" Armand langsung bertanya begitu terdengar suara Angkasa di seberang sana.
"Sore juga, Pak Armand. Ada kabar baik, catering Pak Armand bisa masuk di lokasi syuting yang baru, tapi untuk makanan kecil saja tidak apa-apa?" Angkasa diam menunggu jawaban dari seberang sana.
...❤️🤍...
Mampir sini yuuk kak, ceritanya bagus banget loh ini
__ADS_1