Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Penguntit


__ADS_3

Penantian Armand tak sia-sia, proses pengambilan gambar akhirnya selesai. Para pemain berhamburan ada yang ke ruang ganti, toilet atau langsung ke kendaraannya masing-masing. Begitu juga dengan Salma, wanita itu tampak berjalan dengan kepala tertunduk memandang ponselnya.


"Sayang," panggil Armand. Beberapa orang yang berjalan melewatinya tampak bingung dengan siapa yang dipanggil orang asing itu. Salma terus berjalan lurus, sama sekali tidak merasa dipanggil oleh seseorang.


"Salma." Armand mengikuti langkah Salma lalu menarik tangan mantan istrinya itu.


"Mas Armand?" Mata Salma membesar melihat pria yang ia hindari hingga lari ke kota besar ada di depan matanya.


"Kamu semakin cantik, Sayang."


"Mas Armand ngapain di sini?" Salma tersadar lalu segera melepas pegangan tangan Armand di tangannya.


"Mas bekerja di sini, Sayang," ucap Armand dengan tatapan memuja.


"Mas, tolong jangan sebut panggilan itu. Sudah tidak pantas!" Salma berjalan menjauh. Ia mulai gerah dengan tatapan dan bahasa tubuh mantan suaminya yang terus berusaha melakukan kontak fisik.


"Hehehe, maaf sudah kebiasaan." Bola mata Salma berputar mendengar ucapan Armand. Kebiasaan yang mana, sejak si kembar usia enam bulan panggilan sayang itu sudah tak pernah mantan suaminya itu ucapkan lagi.


Armand terus mengikuti langkah Salma menuju ruang ganti. Beberapa pasang mata mulai menaruh curiga pada sikap Salma dan Armand yang seperti main kejar-kejaran.


"Salma ... Salmaaa," panggil Armand semakin keras.


"Apaaa!" seru Salma tertahan. Ia terpaksa berhenti sebelum Armand berteriak semakin keras dan menarik perhatian orang lebih banyak lagi.


"Kenapa harus buru-buru? Kamu tidak sedang menghindari aku 'kan, Salma?"


"Aku mau ganti pakaian, tidak lihatkah semua sudah bersiap akan pulang?"


"Ow ya, aku tunggu di sini ya, Salma," ucap Armand manis.


Di dalam ruang ganti, Salma berputar-putar resah. Ia bukannya takut orang lain tahu jika ia sudah menikah dan bercerai, tapi ia khawatir Armand akan berbuat hal yang memalukan dan menghancurkan kariernya sebelum berkembang.


"Kenapa dia bisa ada di sini? Ya Tuhan, ada apa lagi ini. Belum selesai masalah satu sudah muncul lagi." Salma berjongkok di pojok ruang ganti yang bersekat sembari menggigiti kukunya resah.


Armand adalah mimpi buruk terbesarnya. Kehadiran pria itu di kehidupan barunya, membuat rasa khawatir berlebihannya muncul. Pikiran buruk bermacam-macam melintas di kepalanya.


Tok ... Tok .. Tok


"Siapa di dalam?" suara Jane dari bilik ruang ganti, "Lama banget," gerutunya.

__ADS_1


Salma mendesah keras, ia terpaksa keluar dari ruang ganti sebelum Jane mendobrak pintunya.


"Astaga, Salma ngapain sih kamu di dalam. Lama banget, kalau mau dandan di depan kaca rias bukan di ruang ganti," sembur Jane begitu ia membuka pintunya.


"Maaf, tadi reseltingku macet."


"Kamu dicariin laki-laki di luar tuh, katanya suruh cepat ganti bajunya. Siapa sih dia? Sopir atau asisten kamu? Jangan bilang kamu sudah punya mobil dan punya asisten. Film belum tayang sudah bisa beli mobil, mencurigakan." Jane menatapnya dengan pandangan menyelidik.


"Dia ayah si kembar," ucap Salma lirih.


"Mantan suamimu?" Jane yang sudah di dalam ruang ganti kembali keluar mendekati Salma, "Kalian mau rujuk?" Wajah Jane terlihat senang ketika bertanya.


"Ga, Jane, dia tiba-tiba aja ada di lokasi syuting. Katanya sih kerja, tapi aku juga belum tanya sih."


"Tapi ganteng loh, Salma. Masih cinta tuh sampai di samperin kemari. Kalian serasi, aku sih setuju kalau kamu rujuk." Jane berubah ramah dan perhatian.


"Ga lah, Jane, lagipula dia sudah punya istri kok."


"Ah, kenapa memangnya kalau punya istri. Kalau sama-sama cinta ga masalah 'kan, aku sarankan kamu rujuk deh demi si kembar." Jane merangkul pundak Salma bersahabat.


Salma hanya tersenyum masam menanggapi perkataan Jane. Ia tidak bodoh untuk tahu kalau apa yang temannya katakan itu hanya bohong. Jane tidak dengan tulus mengucapkan itu, jika Jane mengatakan setuju dirinya rujuk dengan Armand demi kedua anaknya, itu berarti sebaliknya.


"Aku keluar dulu ya, Jane."


"Mas Armand kenapa masih di sini?" Salma mendesah kesal melihat mantan suaminya masih berdiri bersandar di dinding ruang ganti.


"Tunggu kamu." Armand mengikuti langkah Salma.


"Aku mau pulang, Mas," ucap Salma sembari berjalan terus tak menoleh.


"Kita pulang sama-sama."


"Tidak usah, terima kasih. Aku ada kendaraan yang mengantar." Salma menunjuk mini bus yang akan mengangkut pemain serta kru yang tidak memiliki kendaraan. Mereka akan turun di kantor atau terminal dan halte yang dilewati.


"Kamu naik itu?" Salma menganggukan kepala, "Kalau begitu aku juga naik itu," ucap Armand ringan.


"Mas Armand ga ada kendaraan? Tadi kemari naik apa?" Salma memandang mantan suamimya dengan heran.


"Aku masih baru di sini, Salma belum punya kendaraan, tadi naik mobil kantor antar makanan ringan ke lokasi syuting," ucap Armand dengan raut wajah dibuat sesedih mungkin.

__ADS_1


"Mas Armand ga bisa ikut rombongan mini bus itu, aku ga enak sama yang lainnya."


"Ayolah, Salma coba kamu tanyakan. Kamu 'kan pemain utama pasti dapat perlakuan istimewa." Armand memohon.


"Ga bisa, Mas. Di sini tidak ada yang diistimewakan. Mas Armand numpang aja sama kru yang bawa motor sampai jalan raya."


"Ayolah Salma, tanyakan dulu. Kamu tega biarkan Mas di sini sampai malam?" Armand mendorong tubuh Salma ke arah mini bus yang berjajar.


Salma terpaksa menuruti permintaan Armand, sebelum mantan suaminya itu bertindak lebih jauh lagi.


"Maaf, Pak apa masih ada tempat kosong lagi?" tanya Salma pada pria yang mendata penumpang serta property yang ikut dalam mini bus.


"Kenapa, Mba Salma?"


"Mm, itu ada yang mau ikut." Salma menunjuk Armand yang berdiri dari kejauhan.


"Waduh, maaf saya ga berani angkut orang asing, Mba selain yang ada di data."


Melihat penolakan pria itu dari jauh, Armand berjalan mendekat, "Kenapa, Sayang?" tanyanya pada Salma yang kebingungan dan gugup karena khawatir.


"Maaf, Pak saya ga bisa bawa orang asing selain yang ada di data," ucap pria itu sopan.


"Saya bukan orang asing, Pak. Saya ini orang dekat Salma. Salma ini pemeran utama loh , Pak," ucap Armand cukup keras dan bangga.


...❤️🤍...


Haaii, sambil nunggu update bab baru mampir yuk ke karya pertama aku. Ini sudah tamat, siapa yang sudah baca sampai habis? Mampir yaa 🥰


...❤️🤍...


Judul : Cinta Jangan Datang Terlambat


Tidak ada seorangpun wanita mau mengalami pelecehan seksual dalam hidupnya.


Bintang Amalea atau yang biasa dipanggil Lea mengalami hal mengerikan itu saat baru saja mulai bekerja. Pria yang tega melakukan hal itu adalah orang yang sangat ia hormati, dan kejadian itu meninggalkan trauma mendalam dalam hidupnya.


Erik kakak kelas saat ia SMU yang masih menyimpan hati padanya, mau menerima Lea dalam keadaan mengandung.


Akankah Erik tetap setia berada di samping Lea, di saat ia masih berjuang menghadapi trauma paska pemerkosaan di masa lalunya?

__ADS_1


atau akan ada orang lain yang akan hadir di masa tersulitnya?



__ADS_2