Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Mengapa


__ADS_3

Angkasa menggaruk-garuk kepalanya, mengusap-usap dagu dan tengkuknya.


"Kenapa, Sa? Sakit atau lapar? Sudah kubilang makan dulu baru pulang." Emran duduk di sebelahnya dengan tangan memegang kemudi, mengejek Angkasa yang memaksa untuk buru-buru mengantarnya pulang.


"Istriku kenapa ya, Man?" Mata Angkasa menerawang keluar jendela.


"Lah, emang kenapa istrimu? Baik-baik aja aku lihat tadi."


"Ada yang aneh, Man, dia tidak seperti biasanya tadi. Beberapa hari terakhir juga ia terlihat murung dan cepat marah. Aku salah apa ya?" Angkasa melipat kedua tangannya di dada.


"Hamil mungkin?"


"Dua minggu saja belum!"


"Barangkali sudah lebih du---" Hempasan kotak tissue di dada Emran menghentikan ucapan ngawurnya.


"Serius ini, Man. Aku merasa Salma menirukan ... Debby."


"Wah wah wah, kamu tidak boleh sepertu itu. Wanita itu paling tidak suka dibanding-bandingkan. Mereka dua wanita yang berbeda, Asa, jangan kamu memandang Salma seperti Debby."


"Kamu dengar ga sih? Bukan aku menyamakan mereka, tapi Salma yang berusaha sama dengan Debby," tukas Angkasa jengkel.


"Mungkin hanya perasaanmu, kamu rindu pada Debby dan akhirnya merasa melihat Debby pada istrimu yang sekarang."


"Haalaah! Percuma ngomong sama kamu." Begitu mobil menepi di depan pintu rumah Angkasa, pria itu segera keluar dari mobil Emran.


"Minimal ucapin terima kasih kek, sudah diantar sampai rumah." Emran menggerutu tak jelas tentunya setelah atasannya itu menutup pintu mobil miliknya.


Angkasa masuk ke dalam rumah setelah asisten rumah tangganya yang senior membukakan pintu untuknya. Kepalanya menengadah keatas, melihat dua pintu kamar yang berjajar sudah tertutup rapat dalam keadaan lampu kamar yang padam.


"Ibu dan anak-anak sudah sampai dari tadi, Pak," lapor Bik Yut seolah tahu apa yang ingin ditanyakan Tuannya.


"Terima kasih, Bik." Angkasa tersenyum lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju ke lantai dua.

__ADS_1


"Pak ...." Bik Yut menghentikan langkah Angkasa dengan sedikit ragu.


"Ada apa, Bik?" Angkasa berbalik dan melihat asisten rumah tangganya yang sudah puluhan tahun ikut bersamanya itu menunduk dan terlihat takut.


"Maaf." Mata Bik Yut melirik ke arah ruangan berpintu coklat.


Angkasa mengikuti arah pandang Bik Yut. Pintu coklat di sudut ruangan itu tampak memperlihatkan celah terbuka sedikit. Angkasa berjalan dengan langkah lebar menuju pintu itu dan membukanya. Tangannya menekan saklar lampu dan matanya memeriksa apakah ada suatu keanehan dalam kamar itu.


"Ada apa, Bik?" Angkasa menoleh dan bertanya karena tidak menemukan sesuatu yang harus ditakutkan di dalam kamar itu.


"Ibu ...." Bik Yut tertunduk semakin dalam.


"Ibu kenapa?"


"Ibu tadi masuk lagi ke dalam, lalu keluar sambil menangis," ucap Bik Yut sangat pelan.


"Lalu? Tunggu sebentar, lagi? Maksudnya sebelum ini, Ibu sudah pernah masuk ke dalam dan melihat isinya?" Mata Angkasa membesar. Bik Yut mengangguk dan menunduk semakin dalam.


"Kenapa tidak dikunci, Bik? Apa Ibu sendiri yang minta agar dibukakan?"


Mau tidak mau cerita tentang Cakra yang menghilang dan ditemukan terkunci di dalam ruangan, diceritakan oleh Bik Yut dengan rasa takut dan bersalah.


"Sejak itu saya tidak mengunci pintu lagi, Pak."


"Kenapa Bik Yut tidak menceritakan semuanya sama saya?"


"Maaf, Pak saya terlalu takut."


"Baiklah, Bik. Terima kasih, istirahatlah." Angkasa mengurungkan dirinya naik ke lantai dua. Ia masih belum siap menghadapi istrinya atas fakta yang baru saja terungkap. Angkasa menyepi dulu di dalam dapur mencoba merenungi keputusan salah yang telah diambil.


Hari itu saat ia mengambil keputusan akan melamar dan langsung menikahi Salma di kota kelahiran istrinya, ia langsung menelepon Bik Yut agar memindahkan semua barang milik Debby ke ruangan lain.


Barang milik Debby sebenarnya sudah sejak lama akan diambil oleh mertuanya untuk dijadikan kenang-kenangan. Namun karena kamar khusus di rumah mertuanya belum sepenuhnya rampung, mertuanya memintanya untuk menahannya di rumah sementara waktu.

__ADS_1


Bukan karena ingin menyimpan dan memperlakukan istimewa barang almarhum istrinya, dan bukan juga ingin membuang dan melupakan wanita yang pernah ada di hidupnya. Angkasa hanya ingin memberikan tempat istimewa untuk wanita yang akan melanjutkan hidup bersamanya, tanpa harus menyakiti hati Salma dengan melihat benda milik wanita lain di dalam kamar.


Angkasa tidak bermaksud menyembunyikan kenyataan jika masih ada barang Debby yang tersimpan di dalam rumahnya. Ia juga tidak mungkin membuang begitu saja benda milik almarhumah. Kesalahan terbesarnya, ia tidak membicarakan rencananya itu pada Salma. Ya, itulah letak kesalahannya sehingga membuat anak sambungnya hampir mati karena terkunci dalam ruangan tertutup.


Angkasa menegak segelas air dingin sebanyak-banyaknya dan mengucapkan doa agar tidak salah langkah menghadapi istrinya. Pernikahan yang belum seumur jagung ini, diakuinya sangat minim komunikasi.


Dengan langkah yang sangat perlahan, Angkasa menuju kamar mereka. Dari celah pintu, ia melihat lampu kamar telah padam.


Salma terkejut ketika pintu terbuka dan sinar dari luar menerangi wajahnya yang tampak kacau. Ia tidak menyangka suaminya pulang secepat ini. Tubuhnya masih berbalut gaun pesta dengan riasan wajah luntur dengan air matanya.


"Sayang," panggil Angkasa trenyuh.


"Jangan nyalakan lampu." Salma menutup wajahnya. Ia malu terlihat berantakan di depan Angkasa yang di matanya selalu sempurna. Angkasa tak menghiraukan permintaan istrinya, ia tetap menyalakan lampu kamar.


"Kenapa dinyalakan?" ucap Salma setengah menggerutu. Ia membalikan badan dan berjalan cepat hendak ke kamar mandi, tapi tangan Angkasa lebih dulu menggapainya.


"Tak perlu malu. Bagaimanapun kamu tetap terlihat cantik di mataku." Angkasa menangkup pipinya dan menatap mata Salma walaupun istrinya itu berusaha memalingkan wajah.


"Maafkan aku. Aku bukan suami yang baik, mungkin aku belum siap menjadi suami hingga membuatmu seperti ini."


Salma menatap Angkasa bingung. Seketika pikirannya menduga-duga apa arti kalimat suaminya. Apakah Angkasa menyesal telah menikahinya dan akan menceraikannya? Apakah Angkasa menyadari kalau ia tidak pantas menggantikan Debby?


"Kenapa? apa yang ada dipikiranmu sekarang?" Angkasa menatap bola mata Salma yang resah berlari kesana kemari. Tak sanggup mengatakan apapun, Salma akhirnya menangis karena terlalu ketakutan dengan pikirannya sendiri.


"Kamu sudah melihat ruang di bawah? Aku minta maaf, Sayang. Sungguh aku tidak bermaksud apapun."


Angkasa menceritakan sejak awal, mengapa masih ada barang Debby tersimpan rapi di rumahnya. Salma hanya diam mendengarkan penjelasan suaminya.


"Kalau kamu tidak percaya, nanti kita sama-sama ke rumah orangtua Debby sekalian melihat perkembangan ruang yang dibangun untuk menyimpan benda milik almarhumah."


"Jangan pernah bertanya dan membandingkan dirimu dengan Debby. Aku tidak akan mau menjawabnya, karena tidak perlu. Kamu dan dia, wanita yang berbeda. Sejujurnya kamu dan dia punya tempat yang berbeda di hatiku. Aku mencintaimu, Salma bukan karena alasan apapun. Hanya aku sangat mencintaimu."


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2